Prolog

8K 457 19
                                        

Punya pacar yang posesif? Sebuah berkah atau kutukan?

Aku sih menyebutnya berkah, karena aku suka di posesif-in oleh pacarku. Karena itu adalah bukti bahwa dia sangat mencintaiku dan takut kehilangan aku.

Namun ternyata, sifat posesifnya yang terlalu berlebihan itu lama-kelamaan semakin parah. Semakin membuatku tak nyaman.

Melebih orang tuaku sendiri, aku harus melapor ke dia dua puluh empat jam! Apapun itu, aku harus memberitahukannya. Apa yang sedang aku lakukan, mau pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa, mengatur pakaianku, penampilanku, ini itu, hingga aku capek mental sendiri.

Rasanya... hidupku bukan lagi milikku.

Awalnya aku kira ini hanya masa-masa manis seorang cowok yang jatuh cinta terlalu dalam. Tapi semakin lama, semakin terasa bahwa cinta itu tidak lagi lembut. Dia mulai mengunci setiap gerakanku, mengawasi setiap langkahku, seolah aku adalah barang rapuh yang bisa pecah kapan saja. Atau lebih tepatnya... barang yang harus dijaga dari semua orang, bahkan dari duniaku sendiri.

Dan perlahan-lahan, aku mulai menyadari satu hal, bukan lagi aku yang memegang kendali dalam hidupku. Bukan lagi aku yang menentukan apa yang boleh atau tidak boleh kulakukan.

Semua—semua hal ditentukan olehnya.

Dia tahu kapan aku bangun.
Dia tahu kapan aku tidur.
Dia tahu siapa saja yang aku temui.
Dan jika ada satu saja hal kecil yang tidak kuberitahu... teleponku akan berdering berkali-kali sampai aku mengangkatnya dengan tangan gemetar.

Yang lebih menakutkan, dia tidak pernah marah dengan teriakan. Tidak pernah membentak. Tidak pernah memukul meja.

Justru sebaliknya—dia marah dengan tenang. Terlalu tenang hingga membuatku semakin takut.

Dan itu jauh lebih mengerikan.

Tatapan matanya berubah dingin. Nada bicaranya turun beberapa oktaf. Senyumnya pun menghilang.

Saat itu, aku bisa merasakan jantungku berhenti sejenak. Karena aku tahu... dia merasa dikhianati. Meskipun kesalahanku cuma sesederhana membalas chat lima menit lebih lambat.

Tapi itu cukup baginya.

Lima menit itu cukup untuk membuatnya gelisah, curiga, takut kehilangan... dan berusaha mengikatku lebih keras lagi.

Sampai akhirnya aku tidak sadar, sejak kapan aku mulai kehilangan diriku sendiri.

Sejak kapan aku berhenti menjadi "Bila".

Sejak kapan aku berubah menjadi seseorang yang hanya hidup untuk menyenangkan dia.

Dan yang paling ironis?

Walaupun aku takut... walaupun napasku sering sesak... walaupun aku tahu hubungan ini tidak sehat...

Aku tidak bisa pergi darinya.

Tidak dari tatapannya.
Tidak dari sentuhannya.
Tidak dari caranya memanggil namaku dengan suara rendah itu.
Tidak dari caranya memelukku seolah dunia bisa hancur kalau aku hilang.

Tidak dari cinta yang terasa manis... tapi menyakitkan.

Karena dia bukan sekadar posesif. Bukan sekadar pencemburu.

Dia adalah badai—yang perlahan menarikku masuk, membuatku tenggelam, hingga satu-satunya tempat aman terasa... adalah di dalam pelukannya.

Namanya adalah Kaleed Zayyan Khalif.

Dan inilah cerita tentang bagaimana aku jatuh cinta... pada seorang pacar yang perlahan-lahan mengambil seluruh hidupku.


.
.

Sekuel dari "Possessive Crush" 😋

Possessive Boyfriend [END]Stories to obsess over. Discover now