BAB 1

460 4 0
                                        

Hujan di Jakarta tidak pernah terasa sedingin ini. Atau mungkin, bukan kotanya yang dingin, melainkan darah yang mengalir di dalam tubuh Ludovica Olgiati, yang kini menjadi Ludovica Wilson.

Di balik jendela kaca setinggi langit-langit di ballroom hotel bintang lima di kawasan SCBD itu, gemerlap lampu ibu kota tampak seperti ribuan mata yang sedang menertawakannya. Di bawah sana, kemacetan Jakarta masih mengular, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang pulang kerja, memesan ojek online, makan malam di warung tenda, atau bertengkar dengan pasangan mereka tentang hal-hal sepele.

Ludovica iri pada mereka semua. Dia iri pada kemerdekaan mereka untuk merasakan hal-hal biasa. Karena malam ini, di dalam ruangan yang didinginkan hingga delapan belas derajat celcius, di antara aroma bunga lily putih yang menyesakkan dan denting gelas kristal yang memuakkan, Ludovica sedang menjual jiwanya.

"Kau melamun lagi, Sayang."

Suara itu berat, rendah, dan memiliki otoritas yang membuat bulu kuduk di tengkuk Ludovica meremang. Bukan karena gairah, melainkan karena rasa takut yang instingnya coba sembunyikan.

Ludovica menoleh perlahan. Lehernya terasa kaku, seolah gaun pengantin rancangan desainer Paris yang dikenakannya terbuat dari beton, bukan sutra dan renda.

Di sampingnya berdiri Frederick Wilson.

Pria itu memegang gelas champagne dengan cara yang sama seperti dia memegang kendali atas hidup Ludovica: santai, namun mencengkeram kuat. Frederick tampan, tidak ada yang bisa menyangkal itu. Dengan setelan tuxedo hitam yang membalut tubuh tegap setinggi 188 sentimeter, rahang tegas yang seolah dipahat dari batu granit, dan mata gelap yang tak pernah memancarkan kehangatan, dia adalah definisi sempurna dari predator puncak di hutan beton Jakarta.

"Hanya lelah, Fred," jawab Ludovica, suaranya nyaris tak terdengar.

"Frederick," koreksi pria itu datar. Ia tidak menatap Ludovica, pandangannya lurus ke arah para tamu undangan yang terdiri dari para kolega bisnis, pejabat, dan sosialita yang hadir untuk menyaksikan penyatuan dua imperium bisnis raksasa: Olgiati Group dan Wilson Corp. "Biasakan memanggil namaku dengan benar, Ludovica. Kau bukan lagi anak kecil manja yang berlarian di kantor Ayahmu."

Penyebutan kata 'Ayah' membuat dada Ludovica terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya.

Tiga puluh hari.

Baru tiga puluh hari yang lalu dirinya berdiri mengenakan gaun hitam, menatap peti mati ayahnya, Antonio Olgiati, diturunkan ke liang lahat di San Diego Hills. Tanah makam ayahnya bahkan belum kering benar. Bunga-bunga dukacita mungkin baru saja layu di pekarangan rumahnya. Namun hari ini, dirinya dipaksa mengenakan putih, berdiri di altar, dan mengucapkan janji suci kepada pria yang ditunjuk ayahnya sebagai eksekutor wasiat.

"Maaf ... Frederick," bisik Ludovica.

Pria itu akhirnya menoleh. Tatapannya menyapu wajah Ludovica, bukan dengan kekaguman seorang suami yang melihat pengantinnya, melainkan dengan tatapan seorang penilai barang antik yang sedang memeriksa apakah ada cacat pada properti barunya.

"Tersenyumlah," perintah Frederick, lalu menyesap minumannya. "Kamera di arah jam dua. Jangan membuat saham perusahaan turun besok pagi hanya karena pewaris Olgiati terlihat seperti sedang menghadiri pemakaman di hari pernikahannya sendiri."

Tapi ini memang pemakaman, batin Ludovica menjerit. Ini adalah pemakaman bagi masa depanku, kebebasanku, dan diriku sendiri.

Ludovica memaksakan sudut bibirnya naik. Itu adalah senyum palsu yang dia latih selama sebulan terakhir. Senyum boneka.

Di seberang ruangan, di antara kerumunan tamu yang sedang tertawa, mata Ludovica menangkap sosok wanita itu. Camilla Keppel.

Wanita itu mengenakan gaun merah marun yang berani, memeluk tubuhnya yang pendek dan montok dengan provokatif. Camilla tidak menatap Ludovica. Matanya, sorot yang penuh kerinduan dan kepedihan yang tertahan, terkunci lurus pada Frederick.

PEWARIS YANG DILUCUTIStories to obsess over. Discover now