Sinopsis:
Kara Zor-El dikirim ke Bumi dari Krypton yang segera hancur saat berusia 17 tahun oleh orang tuanya, Zor-El dan Alura. Kara ditugaskan untuk melindungi sepupunya yang masih bayi, Kal-El, tetapi pesawat ruang angkasanya terlempar dari jalur...
Langit malam di atas Smallville, Kansas, tiba-tiba disinari cahaya menyilaukan. Suara gemuruh seperti petir memecah keheningan pedesaan. Di ladang jagung milik pasangan petani Jonathan Kent dan Martha Kent, sebuah objek berapi meluncur dan menghantam bumi dengan keras, meninggalkan kawah berasap.
Jonathan, dengan senter tua di tangan, berlari ke arah kawah. Martha menyusul dari belakang, wajahnya diliputi cemas.
"Jon, hati-hati!" seru Martha.
Di tengah kawah, mereka menemukan sebuah kapsul logam kecil, panas dan berkilau dengan simbol aneh di permukaannya. Saat pintunya perlahan terbuka, sebuah tangisan bayi terdengar. Martha terdiam. Ada seorang bayi laki-laki, berbalut selimut biru dengan lambang asing di dadanya.
Martha langsung mendekat, meraih bayi itu ke dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca. "Dia... Dia hanya seorang bayi..." bisiknya.
Jonathan masih tertegun, menatap kapsul itu dengan campuran rasa takut dan takjub. "Martha, ini... Bukan dari dunia kita."
Martha menatap bayi itu dengan lembut. "Mungkin... tapi lihat dia, Jon. Dia butuh kita. Dan aku rasa... Kita juga butuh dia."
Dengan keputusan itu, bayi itu dibawa pulang dan diberi nama Clark Joseph Kent.
***
Clark tumbuh dalam kehangatan keluarga Kent. Ia membantu ayahnya di ladang, belajar di sekolah kecil, dan bermain dengan anak-anak lain. Namun, seiring bertambahnya usia, sesuatu yang ganjil mulai terjadi.
Di kelas, saat guru menjatuhkan papan tulis kecil dari meja, Clark menangkapnya sebelum menyentuh lantai, lebih cepat dari yang bisa dilihat teman-temannya. Di ladang, ia mampu mengangkat bal jerami seberat ratusan kilo dengan mudah.
Ketika rahasianya mulai tampak, ia merasa terasing. Anak-anak lain mulai memanggilnya "aneh." Clark sering duduk sendiri, menatap tangannya dengan kebingungan.
Suatu malam, setelah sebuah insiden di sekolah. Clark tanpa sengaja mendorong seorang anak hingga terpental beberapa meter dan mengalami luka-luka.
Clark duduk di beranda, menahan air mata. Jonathan duduk di sampingnya, diam sejenak sebelum berkata, "Clark, aku tahu rasanya... Sulit. Kau merasa tidak sama dengan yang lain. Dan itu benar, kau memang berbeda."
Clark menunduk, takut menatap mata ayah angkatnya. "Kalau aku terus begini... Aku tidak akan pernah punya teman."
Jonathan meletakkan tangannya di bahu putranya. "Perbedaanmu bukan kutukan, Nak. Itu anugerah. Dan anugerah itu akan sangat berarti... Kalau kau memilih menggunakannya untuk menolong orang lain. Kau akan mengerti nanti."
Ucapan Jonathan malam itu terukir di hati Clark, menjadi harapan baru baginya untuk menjalani hidup.
***
Clark akhirnya lulus dari sekolah menengah Smallville. Suatu pagi, dengan koper kecil di tangan, ia berdiri di depan rumah, menatap orang tua angkatnya.
Martha tersenyum getir. "Kau akan baik-baik saja di Metropolis. Jangan lupa... di mana pun kau berada, kau selalu punya rumah di sini."
Clark memeluk kedua orang tuanya erat sebelum menaiki bus menuju kota besar.
***
Metropolis adalah dunia baru bagi Clark. Gedung-gedung menjulang tinggi, jalanan penuh orang yang sibuk. Clark merasa kewalahan, seolah hanyut di lautan manusia yang tak mengenalnya.
Ia berpindah-pindah pekerjaan: pelayan kafe, pengantar barang, hingga buruh gudang. Namun ia tak pernah bertahan lama. Ia terlalu jujur, terlalu kikuk, atau terkadang kekuatannya nyaris membuatnya ketahuan.
Akhirnya, sebuah kesempatan muncul. Daily Planet, surat kabar paling berpengaruh di Metropolis, mencari tenaga magang. Clark melamar, meski tahu gajinya sangat kecil. Perry White, pemimpin redaksi yang keras kepala, melihat Clark sebagai anak desa polos yang putus asa.
"Magang? Bayaran rendah. Jam kerja panjang. Kalau kau tahan seminggu, itu sudah rekor," kata Perry sambil menyulut cerutunya.
Clark hanya tersenyum malu. "Saya... hanya butuh kesempatan, Pak."
Dan kesempatan itu diterimanya.
***
Seiring waktunya di Metropolis, Clark menemukan bahwa kota besar ini tidak hanya dipenuhi orang sibuk, tapi juga kejahatan. Pencurian, kecelakaan, bencana. Clark tak tahan hanya menjadi penonton.
Suatu sore, sebuah apartemen tua di distrik selatan terbakar hebat. Api menjalar cepat, asap hitam menutup langit. Sirene mobil pemadam meraung, orang-orang berteriak panik, namun tangga pemadam tidak cukup tinggi untuk mencapai lantai teratas.
Clark berdiri di kerumunan, jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke lorong sepi, melepas kemeja kantornya. Dari baliknya, tampak pakaian biru sederhana dengan lambang berbentuk "S" di dada. Dengan satu tarikan napas, ia melompat tinggi menembus asap.
Di dalam, seorang ibu muda dan anak perempuannya terjebak di kamar. Api sudah hampir menelan pintu. Anak itu menangis histeris, memeluk boneka lusuhnya. Clark mendobrak masuk, tubuhnya terlindung dari api.
"Jangan takut," katanya lembut sambil mengangkat keduanya ke dalam gendongannya. Dengan sekali lompatan, ia menerobos jendela, terbang menembus asap dan keluar ke udara bebas.
Kerumunan bersorak histeris ketika sosok berjubah merah itu mendarat perlahan di jalan, meletakkan ibu dan anak itu dengan aman di pelukan tim medis.
Ibu muda itu, masih terengah-engah, menatap Clark dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih... Kau menyelamatkan kami. Kostummu... Luar biasa sekali."
Clark tersenyum kaku, seolah tak terbiasa menerima pujian. "Terima kasih. Ibuku yang membuatnya..." jawabnya jujur, suaranya bergetar sedikit saat menyebut Martha.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Sebelum orang-orang bisa bertanya lebih jauh, Clark menoleh ke langit. Angin meniup jubah merahnya. Ia mengangguk kecil pada ibu dan anak itu, lalu dengan hentakan kaki ringan ia terbang ke udara, meninggalkan kerumunan yang terpana menatap ke atas.
Dari situlah dunia mulai mengenalnya: Superman.
***
Berkat ketekunannya, Perry akhirnya mengangkat Clark sebagai reporter penuh. Jimmy Olsen mengajarinya seluk-beluk lapangan, sementara Cat Grant menggodanya karena sikap kikuknya. Perlahan, Clark belajar menjadi bagian dari Daily Planet.
Namun meski hidupnya seolah mulai menemukan ritme bekerja sebagai reporter, disaat ada yang membutuhkannya ia beraksi sebagai pahlawan. Akan tetapi, ada kekosongan yang tidak bisa ia isi.
Di apartemen kecilnya, Clark sering duduk di tepi jendela, menatap kota berkilauan di bawah sana. Semua orang mengenalnya sebagai simbol harapan. Tetapi siapa yang benar-benar mengenalnya?
Ia merindukan orang tuanya di Smallville. Merindukan obrolan di beranda, tawa sederhana di meja makan. Dan yang lebih dalam lagi, ia merindukan sesuatu yang bahkan ia tidak bisa namai, sebuah jangkar emosional, seseorang yang bisa membuatnya merasa tidak sendirian di dunia ini.
Di bawah jubah merahnya, Clark Kent tetaplah seorang pria yang kesepian, mencari tempatnya di antara dua dunia.