Inceptum est 1-1

40 10 16
                                        

Sore itu, Tuan Grey mengantar aku dan Liona menuju ke gerbang kota. Walaupun suasana sudah terbilang sore, tetapi terik mentari gurun masih tetap menyengat kulit kami. Hawa panas itu masih terasa walaupun aku dan Liona sudah serba memakai pakaian lengan panjang, lengkap dengan tudung kepala bahkan.

"Itu mereka." Tuan Grey menunjuk ke arah dua dwarf berbaju zirah lengkap dari kepala sampai lutut yang sedang berdiri malas di samping gerbang kota.

Salah satu dari mereka ada yang menoleh ke arah kami. Ia langsung menyenggol rekannya dan bersiap menyambut kami, menyambut Tuan Grey sih maksudku.

"Mereka berdua ini, ya?" Salah satu dari Dwarf itu bertanya ke majikan kami.

"Iya."

Tuan Grey lalu ganti menoleh ke arahku dan Liona. Ia menatap kami dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara, "3 tahun sudah kalian melayani aku, menurut kalian aku ini majikan yang bagaimana?"

Aduh, pertanyaan itu lagi.

"Tuan adalah majikan yang baik." Liona langsung menjawab, sementara aku mengimbangi dengan mengangguk.

Tuan Grey pun ikut mengangguk sambil tersenyum, "Selama itu juga kalian sudah berlaku baik kepadaku." Ia menarik nafas sejenak sambil sesekali mengusap janggut putihnya, "Aku minta kalian untuk berhati-hati di jalan, jangan mencari masalah. Jika ada siapapun yang meminta tolong ke kalian, sejauh itu untuk tujuan yang baik dan tidak mengganggu perjalanan, maka bantulah sebisa kalian."

Kami berdua kompak mengangguk.

"Baiklah, itu saja tambahan dari aku." Tiba-tiba Tuan Grey memeluk kami berdua, "jika kalian sudah sampai tujuan, jangan lupa beri kabar ya."

"Iya tuan." Kali ini giliranku yang menjawab.

Untuk beberapa saat, rasanya dunia di sekitar kami seolah berhenti bergerak. Suara bising dari penduduk kota yang berlalu-lalang, sengatan panas terik mentari, bahkan keberadaan dua dwarf profesional yang mungkin sedang menunggu kami... semuanya seolah lenyap, tidak tertangkap oleh panca inderaku lagi.

Aku, Liona, dan majikan kami saling berpelukan, seolah ini adalah hari terakhir kami bertemu dengannya.

...

Tidak, ini seharusnya bukan menjadi momen terakhirku dan Liona bersama dengan majikan itu. Setelah surat dan Revdanya sampai, toh kami juga harus pulang lagi. Kami berdua adalah milik Tuan Grey, kami harus kembali kepadanya.

Setelah melepaskan pelukan hangat itu aku, Liona, dan dua tentara sewaan tersebut langsung berangkat. Kami pergi meninggalkan kota, menuju hamparan daratan pasir coklat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan setelah beberapa langkah, aku masih menyempatkan untuk menoleh sebentar ke belakang, ke arah gerbang kota. Tuan Grey ternyata masih berdiri disitu, mengamati kami dari posisinya semula. Sesekali ia melambaikan tangan kepada kami dan aku membalas lambaiannya.

Ini dia, perjalanan jauh kami resmi dimulai.

***

Kota keberangkatan kami adalah Kota Agung Bargash, saat ini kami berempat sedang menuju ke Kota Pelabuhan Thotzi. Sesuai instruksi dari peta yang diberikan Tuan Grey, ketika kami tiba di sana kami harus menumpang ke kapal dengan jurusan Urba'hl - Bri'faljah - Kota Macaira - hingga terakhir yaitu destinasi kami, Kota Mulia Silhótl. Perjalanan ini menuntut kami untuk pergi melintasi 3 kerajaan berbeda tetapi untungnya sebagian besar perjalanan itu ditempuh via laut yang artinya kami tidak perlu banyak berjalan kaki.

 Perjalanan ini menuntut kami untuk pergi melintasi 3 kerajaan berbeda tetapi untungnya sebagian besar perjalanan itu ditempuh via laut yang artinya kami tidak perlu banyak berjalan kaki

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Waypoints: Iter dignumWhere stories live. Discover now