Ruang Direktur – Distrik Nova, Kota Aethel – Minggu, 18 Agustus 2024
Setiap manusia memiliki jalan cerita mereka masing-masing. Aku pun begitu.
Namun, masih ada orang-orang yang berpikir bahwa bumi dan setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini berjalan mengelilingi mereka. Merencanakan semuanya dengan licik. Egois. Meski begitu, aku tahu, di balik setiap intrik dan manipulasi yang mereka ciptakan, ada sebuah ketidakpastian yang tidak dapat mereka kendalikan.
Mereka hidup dalam ketakutan akan hal-hal yang tidak dapat diatur. Sebuah bayangan yang selalu mengintai. Mereka membangun imperium dari kebohongan dan ilusi, tetapi fondasinya rapuh. Tanpa disadari, mereka adalah budak dari ambisi mereka sendiri.
Orang-orang menyebut konspirasi, berbicara dan bahkan berdebat soal itu. Probabilitas tiap jawabannya benar adalah lima puluh persen, sudah jelas. Masalahnya: tidakkah para penggunjing itu sadar atas waktu dan energi mereka?
"Terima kasih ya. Kamu sangat membantu. Ini, terimalah."
Menyembunyikan amplop kecil di telapak tangannya, seorang pria dengan kemeja abu-abu muda, dasi biru dan celana hitam, meminta untuk berjabat tangan denganku. Rambutnya dipangkas rapi dan berkilau sehingga aku bisa melihat beberapa helai uban di sana. Pak Arza tampak kelelahan, apa dia begadang semalaman, ya?
"Itu bukan apa-apa. Saya juga belajar hal baru dari sana. Terima kasih."
"Ah, kamu merendah. Baiklah, aku akan menghubungimu lagi jika perlu apa-apa."
"Oke. Saya mohon undur diri."
Aku menunduk sedikit sebagai bentuk rasa hormat kepadanya, dan memasukkan amplop ke dalam saku celana.
"Ya. Hati-hati di jalan."
Perjalanan ke apartemen menghabiskan waktu sekitar 20 menit dengan LRT dan sepeda lipat, durasi yang sama kalau ingin lanjut ke sekolah. Malah lebih dekat ke perusahaan.
Setibanya di depan lobi, aku segera melipat sepedaku, memasukkannya ke tas khusus untuk dibawa masuk. Seorang resepsionis yang melihatku, dengan sigap menyapa. Aku hanya mengangguk. Memasuki lift, aku menuju ruanganku di lantai 4.
Setelah meletakkan tas berisi sepeda lipat di sudut kamar, aku mulai bergegas membereskan barang bawaan dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Setelah ini masih ada cucian, lalu persiapan ke sekolah besok..."
Tinggal di apartemen sendirian cukup melelahkan. Ada pekerjaan rumah yang perlu diurus dan beberapa darinya sangat memakan waktu. Seandainya dia masih di sini, semua itu akan menjadi lebih mudah. Meski aku bisa membeli makanan secara daring, entah kenapa rasanya tidak sebanding dengan masakan rumahan yang dibuat khusus untukku.
Aku mulai memikirkannya lagi.
Bukankah itu berarti aku membutuhkan seorang pembantu? Aku tidak membenci ide seperti itu. Namun, situasi kali ini tidak sama dengan yang ada di film-film atau cerita fiksi mana pun.
Eksistensinya di sini lebih seperti anggota keluarga.
Sejak dia pergi, udara di apartemen yang sekarang begitu kurang baik daripada sebelumnya. Lengang, menyisakan ambiens AC dan jentikan jam dinding di ruangan. Meski sudah lama terbiasa di kamar sendirian, ada perasaan seperti kesepian semenjak aku mengenalnya.
"Sial."
Akan tetapi, tidak ada gunanya juga mengeluh. Itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali.
***
Apartemen – Distrik Lotus, – Rabu, 24 Juli 2024
Sepertinya aku lupa mengunci pintu setelah pulang bekerja. Lelah setelah hari yang panjang, sibuk oleh proyek pembuatan video produk, membuatku langsung merebahkan diri di ranjang tanpa sempat berganti pakaian. Mataku terasa berat, tetapi rasa lapar dan haus perlahan membangunkan kesadaranku. Berapa jam aku tertidur?
YOU ARE READING
Choices: Between Love & Desire, What Will I Choose
General FictionAllan hanya ingin bebas--bebas dari aturan, bebas dari sistem yang mengekang. Namun, kehadiran seorang gadis berbakat mengacaukan dunianya, membuatnya mempertanyakan makna kebebasan yang selama ini ia kejar. Di saat yang sama, Devan terjebak dalam h...
