Prolog - Rahasia di balik senyuman

2.8K 100 0
                                        

Malam itu, di taman kota yang sepi, Aqeela duduk di bangku kayu di bawah cahaya lampu temaram. Wajahnya tersembunyi di balik kupluk dan masker hitam, tapi matanya tetap bersinar, penuh rahasia yang hanya dimengerti oleh satu orang.

Di tangannya, ponsel bergetar, tanda pesan masuk.

“Aku udah dekat, jangan buru-buru.”

Beberapa saat kemudian, suara langkah pelan terdengar dari belakang. Aqeela menoleh dan tersenyum melihat Harry, cowok pendiam yang selalu dianggap ‘cupu’ oleh banyak orang di sekolah, tapi baginya, lebih dari itu.

“Kamu telat dua menit” goda Aqeela.
Harry hanya tersenyum dan mengeluarkan kotak kecil dari tasnya. “Ini makan malam kamu, aku tau kamu lagi capek.”

Mereka berdua tau, hubungan mereka bukan rahasia yang salah. Orang tua Aqeela sudah merestui mereka sejak awal. Namun, di sekolah, mereka harus bersembunyi.

Bukan karena malu atau salah, tapi karena dunia sekolah kadang terlalu sempit untuk memahami.

Harry, yang biasa dianggap cupu dan tidak menarik perhatian, dan Aqeela, gadis populer sekaligus atlet panahan terkenal, adalah dua dunia yang berbeda. Teman-teman mereka tidak selalu mudah menerima perbedaan itu, dan gosip tanpa henti bisa jadi racun yang memecah.

Ditambah lagi, Aqeela berjuang dengan penyakit BPD (Borderline personality disorder) yang kadang membuat emosinya sulit ditebak.

Karena itulah, mereka memilih untuk menjaga hubungan ini secara backstreet agar bisa tetap bersama tanpa gangguan dan drama yang tidak perlu.

“Kadang aku merasa dunia ini terlalu
bising untuk kita” ucap Aqeela lirih.

Harry menggenggam tangan Aqeela “Kita jalanin bersama, ya.”

Dalam diam dan ketenangan malam, mereka menguatkan janji yang lebih dari sekadar kata-kata.

Cinta mereka bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah dunia yang belum siap menerimanya.

Dan rahasia itu, mereka akan simpan sampai waktu yang tepat.

arrows & algorithmsWhere stories live. Discover now