Bab 1

45 14 14
                                        

"Bang, tolongin. Rantainya lepas lagi."

Samuel yang baru saja nyalain motor, ngerespon tanpa nengok.

"Gue bukan montir." Samuel mengenakan helm fullface nya dan bersiap untuk ke kampus.

"Bang...please lah, bentar doang."

Samuel akhirnya noleh, melihat Sagara yang sudah rapih dengan seragam putih abu-abu. Cowok itu kemudian jongkok dan bersiap menyentuh rantai MTB miliknya.

Samuel turun dari motor dan melangkah males - malesan menghampiri Sagara sambil nyengir di balik helm nya.

"Gue ngerasa, dari semua makhluk hidup dan benda di rumah ini, sepeda lo yang paling sering nyusahin."

"Ya maaf, si Anwarnya lagi ngambek kali."

"Anwar siapa?" Tanya Samuel.

"Nih sepedanya."

"SEPEDA LO NAMANYA ANWAR, GAR?"

"Ya emang kenapa."

"Aneh lu."

Samuel lalu berjongkok benerin rantai MTB adiknya dengan tangan yang sudah biasa kena oli.

"Lo itu dari dulu gak pernah becus urus barang sendiri. Hidup lo kalau gak ada gue paling kayak amplang masuk angin." Samuel membersihkan tangannya di kran yang biasa ia gunakan cuci motor.

"Analogi apaan tuh."

"Analogi Abang bijak. Catet!"

Samuel berlalu meninggalkan Sagara yang masih bengong. Sagara telah tumbuh besar, bahkan cowok itu sekarang sudah duduk di bangku SMA. Samuel bangga melihat adiknya sudah berjalan sejauh ini, dan apapun akan Samuel lakukan demi Sagara, demi adek kecilnya.

°°°

"Gar, liat kunci motor gua nggak?"

Samuel sudah mondar-mandir lima kali dari dapur ke ruang tamu, celananya udah dilipet separuh betis, kaosnya kebalik, dan rambutnya berantakan kayak gembel.

"Gak liat!" jawab Sagara, tanpa noleh dari layar laptop. Headset nangkring di telinga, jari sibuk ngatur tempo musik. Tugas mixing buat band sekolah, katanya.

"Gue tanya baik-baik, lo jawab juga dong baik-baik." Samuel mulai kesel.

"Lo gak liat kunci motor gua?!" Tanya Samuel lagi.

Sagara lepas sebelah headset. "Bang. gua dari tadi duduk di sini. Lo pikir gua nyimpen kunci motor lo di saku celana gua?"

Samuel mendengus. "Sial, tadi gua naro di meja makan atau di atas kulkas, ya? Atau... Aduh, lupa lagi!" Samuel mulai frustasi.

Dari arah dapur, suara khas Bunda Ratih nyaut.

"Bang. Ini loh kunci motornya, tadi Bunda nemu di atas dispenser air. Jangan ceroboh dong, Bang." Jelas Bunda.

Samuel langsung menuju Bunda. "BUNDA! INI NIH YANG BIKIN ABANG CINTA BANGET SAMA BUNDA SUMPAH!!"

"Cinta-cinta, tapi kalau makan piring gak dicuci, hilang tuh cintanya." Bunda menjewer pelan telinga Samuel.

"Jangan cabut sebelum lo cuci piring makan siang lo, Gar. Gua pantau dari jauh!" Samuel ngacir keluar, sambil teriak ke Sagara.

"Apasih Bang, gua belum makan siang."  Sahut Sagara pelan.

Tapi Samuel udah ngilang dengan deru motornya yang lebih berisik dari konser rock.

Adek kecil AbangWhere stories live. Discover now