Prolog

256K 9.2K 669
                                        

Selalu ada beberapa pertanyaan dalam benak Arsita ketika datang ke acara resepsi pernikahan teman-temannya, meskipun hidangan prasmanan di hadapannya sangat luar biasa menggugah cacing lapar di perut, tak menampik Arsita mendadak berpikir terlalu keras dan pertanyaan itu mulai muncul di kepala.

Kok bisa ya mereka menikah? Apa mereka nggak takut?

Pikirannya mendadak melayang pada beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika Arsita mendengar kata 'Pernikahan'.

Entah itu perselingkuhan, ketidakcocokan, ketidaksiapan menjadi orang tua, keterbatasan ekonomi, atau lainnya yang selalu berujung pada satu akhir yang sama. Yakni, perceraian.

Memang tak etis menjustifikasi kebahagiaan seseorang. Arsita sangat tahu hal itu. Mungkin saja, mereka memang telah menemukan momennya. Mungkin saja, menikah memang takdir mereka. Dan ia hanya bisa mendoakan mereka baik-baik saja dengan pilihan mereka.

"Semoga keluarga kecil kalian selalu diberi kebahagiaan." Arsita bersalaman dengan kedua mempelai, senyuman cerah ia tampilkan.

Sang mempelai wanita, Yuniㅡteman Arsitaㅡ tersenyum manis menyambut doanya. "Terima kasih sudah datang, Sit! Kamu datang sama siapa?"

"Sendirian aja sih."

Yuni tersenyum maklum. "Masih betah, ya? Kapan nih pecah telornya, Sit. Jangan terlalu pemilih lah, kita udah terlalu tua, lho."

Arsita hanya tersenyum menanggapi. Sebelum pergi, ia menyempatkan foto bersama dengan kedua mempelai untuk kenang-kenangan. Sepatu berhaknya melangkah dengan buru-buru. Rasanya ingin cepat-cepat kabur dari sini.

Arsita terlalu pemilih? Katanya.

Memang banyak pria yang menyukainya dan terang-terangan tertarik kepadanya. Arsita selalu sadar akan hal itu, tetapi Arsita selalu merasa bahwa cinta bukan untuk orang sepertinya. Oleh karena itu, hubungan percintaannya selalu kandas duluan padahal mereka belum memulai apapun.

Masalahnya? Ada pada diri Arsita sendiri.

Menurutnya, cinta hanya untuk orang-orang tangguh pemberani, seseorang yang tuntas dengan dirinya sendiri, bukan untuk orang penuh luka seperti dirinya. Arsita akan kabur perlahan kala radarnya mendeteksi pria mendekatinya dengan maksud tertentu.

Hidupnya sudah seperti adegan dewasa yang isinya bekerja-gajian-bayar tanggungan. Repeat. Tipes adalah bonus. Tentu saja ia tak mau repot-repot menambah beban dan luka lain ke dalam hidupnya hanya untuk cinta.

Terkadang, otaknya akan dengan mudah berpikir, nggak usah nikah lah, kerja aja sampai mampus. Tetapi, di balik itu semua, ada hati yang diam-diam berharap kecil dapat merasakan momen di mana ia menjadi seorang istri, dan juga seorang ibu yang baik.

Ia merasakan ponsel dalam tasnya berdering.

"Halo?"

"Kak Sita di mana? Kok rame banget?" Adik Arsita, Maharani, meneleponnya.

"Di nikahan temen. Kenapa?" jawab Arsita agak malas.

"Kakak di Malang dong berarti?"

"Iya, tapi nanti balik lagi ke Surabaya, soalnya masih banyak kerjaan," sahut Arsita beralasan. Toh, kalau malas pulang hari ini ia tinggal mencari penginapan murah di sekitar sini. Untuk sementara waktu, Arsita tak ingin pulang ke rumahnya.

Ketika mendengar adiknya kini terdiam, Arsita menghela napas panjang. Hari ini tanggal berapa? Awal bulan. Oh, pantas saja adiknya menelepon. "Titip salam sama Ibu ya, jangan lupa diminum obat jantungnya tepat waktu. Maaf nggak bisa mampir soalnya Kakak buru-buru."

Give Me Your Sandwich! [OPEN PO 1]Stories to obsess over. Discover now