prolog

60 22 7
                                        

Terdengar suara langkah kaki berderap dengan kencang, seseorang gadis berlari menuju pintu kelas dengan tergesa gesa. Bahkan rambutnya sudah acak acakan, saat dia sampai diambang pintu. Suaranya terpotong saat semua orang sudah berdiri, beranjak meninggalkan kelas. Mata gadis itu melirik kesana dan kemari, mencari keberadaan seseorang. Tubuhnya sedikit tersentak, saat ada seseorang yang tiba tiba saja yang menyentuh punggung belakangnya.

"Telat mulu ah gaya lo! Ayo baris, yang lain udah nunggu di depan."
Ucap Vielry Aneska, dengan wajahnya melotot kesal melihat Niskala yang selalu saja datang telat.

Ada rasanya ingin menghantam wajah anak ini. Tetapi, menurutnya wajahnya ini sangat sayang jika di hantam. Dengan cepat, Vielry melemparkan tas niskala ke arah bangkunya. Dan menarik lengannya menuju lapangan untuk berbaris bersama yang lain.

Gadis yang dimarahi ini, hanya menyunggingkan senyum kecil. Dia memang selalu datang terlambat, dan hal itu yang paling membuat teman temannya kesal. Mata gadis itu mengendar, melihat sekeliling.

Ternyata semuanya sudah bersiap untuk upacara. Saat vielry sudah membawa ia masuk ke dalam barisan. Gadis itu langsung di hantam dengan banyak pertanyaan oleh teman temannya. Yang berada pada barisan belakang. Sengaja menepatkan Niskala dalam barisan depan.

"Kemana aja nyawa lo bro? Udah telat nih, lamaan lo dah yang dateng, dari pada kepala sekolah kita." Mata Reiyna menyipit menatap temannya yang berantakan itu. Menaikkan alisnya, menatap sebal dengan temannya yang selalu telat itu. Diikuti dengan anggukan vielry, yang menyetujui perkataan temannya.

"Dia mah, lebih sibuk daripada presiden. Udah biarin aja, enaknya nih anak buang aja di got."
Dengan menggeleng gelengkan kepalanya Aleana menatap Niskala dengan helaan napas. Tangannya perlahan membenahi rambut niskala. Di antara yang lain, Aleana adalah orang yang paling dewasa dan dapat diandalkan. Mungkin terkesan cerewet, tetapi gadis ini selalu membantu teman temannya. Tidak heran, jika ia banyak di taksir orang orang.

"Engga boleh gitu ya, teman temanku yang imut nan lucu.. aku kan anak baik baik,"
Ucap Niskala dengan senyumnya langsung dihadiahi cubitan oleh reiyna. Bahkan Vielry sangat jijik dengan kelakuannya, menurutnya niskala sekarang sudah gila.

"ENGGGAAA WARAS!!" Sungut vielry dengan sebal, iringi anggukan oleh reiyna

"Betul anjir, udah kelebihan oksigen. Bekep aja itu mulutnya. Ngelunjak!" Bentak reiyna dengan suara nyaringnya, membuat semua orang menoleh ke arah kita. Bahkan anak anak osis yang berdiri di depan sudah menatap tajam ke arahnya. Dari lirikan matanya sudah mengintruksikan untuk diam.

"Bego lu rei, noh jadi noleh kan."
Bisik Niskala sambil menyenggol reiyna, gadis perempuan yang disenggol itu tidak terima. Dan dengan cepat menginjak sepatu niskala. Membuat anak itu mendesis kecil. Melihat itu Reiyna tertawa renyah.

Semua teman teman kelas mereka tidak mengherankan lagi dengan kelakuan mereka berempat, yang sepaket komplit. Ada yang satunya suara nyaring, satunya lagi suka merosting, ada yang selalu mendapatkan informasi tentang suatu berita, satunya lagi sangat lambat. Semuanya seperti sudah disesuaikan oleh tuhan. Perlahan suara sekawan itu senyap. Karena sudah ada guru yang mengawasi mereka dari belakang. Membuat mereka semua diam dan berbaris dengan tertib.

🌷🌷🌷

Waktu berlalu dengan cepat, saat upacara selesai dilaksanakan keempat sekawan itu langsung berjalan beriringan menuju kelas. Tangan mereka dengan erat berpegangan antara satu saa lain. Takut salah satu dari mereka terlepas. Karena koridor sangat padat sekali, banyak orang berlalu lalang bahkan berlari memasuki kelas masing masing. Saat kaki mereka sudah hampir sampai di kelas. Pergerakan mereka terhenti saat melihat ketua osis berjalan menghampiri mereka.

TechnologyWhere stories live. Discover now