Prolog

6.9K 260 20
                                        

Author note

🏎️ᝰ.ᐟ

(1). Nama tokoh dan tempat di sini hanya FIKSI.
(2). Kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian adalah murni kebetulan.
(3). Bahasa asing, bahasa tidak baku, sengaja nggak aku buat miring kata atau kalimatnya.
(4). Jangan berspekulasi atau bikin teori sendiri, seolah-olah cerita ini yang bikin adalah kalian. cukup baca, nikmati, resapi, dan pahami alurnya.
(5). Happy reading! <33

jangan lupa vote, ramaikan komenan di setiap paragraf ya! ❤️

🏎️ᝰ.ᐟ

Radeva Kynan Arsyanarendra selalu percaya hidupnya berjalan lurus secepat lintasan, setajam tikungan terakhir. Formula One, podium, kontrak, jadwal balap. Tidak ada ruang untuk hal menye-menye, apalagi reality show.

Sampai sebuah nama muncul di proposal yang Harish letakkan di mejanya.

"Amora Shreya Althea," baca Radeva pelan. Alisnya terangkat sebelah. "Lo bercanda, Rish?"

Harish menghela napas panjang, seolah sudah hafal reaksi sahabatnya itu. "Program televisi, Dev. Reality show. Konsepnya pasangan lama yang dipertemukan lagi."

Radeva langsung menutup map itu. "Nggak usah."

"Dev—"

"Nggak." Radeva menyandarkan tubuh ke kursi, mengusap wajah kasar. "Amora itu calon istri orang, Rish."

Harish terdiam.

"Ya kali gue satu project sama calon istri orang. Apalagi sekarang, semua orang tau gue sama dia pernah ada hubungan." Tatapan Radeva jatuh ke map di atas meja. "Gue nggak mau bikin masalah buat dia, atau buat gue sendiri."

Harish membuka mulut, tetapi belum sempat berkata apa-apa ketika ponsel Radeva bergetar.

Satu notifikasi. Lalu satu lagi.

Incoming call.

Nama yang sama.

Shreya. Begitu Radeva menamai perempuan itu di ponselnya.

Radeva menatap layar seolah itu bom waktu. "Nggak," gumamnya pelan, lalu mematikan layar.

Di tempat lain, Amora berdiri di depan kaca ruang makeup, bibirnya melengkung puas meski panggilannya tak diangkat.

"Masih aja keras kepala," gumam Amora sambil merapikan rambut.

Produser acara mondar-mandir di belakangnya. "Jadi? Radeva belum approve?"

Amora tersenyum, senyum yang dulu sering membuat guru kelas mereka menyerah. "Dari kecil juga gitu," katanya santai. "Harus dikejar dulu baru nurut."

────────

Kilasan memori datang begitu saja.

Seragam khas sekolah internasional. Rok lipit biru tua, kemeja putih lengan pendek dengan kerah biru tua beraksen garis merah-putih, dipadukan dengan dasi biru tua bergaris merah. Dan di dada kiri terdapat badge sekolah berbentuk perisai Global Jaya School.

Lapangan sekolah dasar yang luas, rumputnya hijau terang terkena matahari pagi. Bau kapur tulis dan semir sepatu bercampur jadi satu.

 Bau kapur tulis dan semir sepatu bercampur jadi satu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
MERCILESS GRACEStories to obsess over. Discover now