Tak mungkin Reane tak menyadari bahwa anak itu sangat ketakutan. Dan reaksi psikologis itu langsung Reane tebak bahwa ada yang tidak beres sebelumnya dengan anak itu.
Tak memerdulikan ketakutannya, Reane semakin mendekat dan berjongkok di depannya. Suaranya teramat lembut. "Hai, Sayang. Siapa namamu?"
Mungkin keberadaannya yang berbeda dan suaranya yang teramat lembut, anak itu mengangkat kepala perlahan memperlihatkan kedua bola mata merah berair penuh ketakutan. Saat melihat sosok gadis asing di depannya, matanya berkedip bingung.
Reane familier dengan mata itu. Namun ia tak mengingat di mana ia pernah melihat anak ini. Dan setengah wajahnya masih terbenam malu-malu di lututnya sendiri.
Reane tersenyum lembut melihat anak itu menatapnya dengan mata bulat. Ia sedikit lega karena gemetar anak itu berhenti. Hanya menyisakan keterkejutan dan kebingungan saat menatapnya.
"Jangan takut. Aku bukan orang jahat." Reane mengulurkan tangan untuk memegang kepalanya, namun anak itu gemetar lagi dan menyusut mundur ke samping untuk menghindari tangannya.
Tangan Reane menggantung di udara dengan ketertegunan. Ia merasa akrab dengan reaksi ini.
Reane menenangkan diri dan duduk bersila dihadapan anak itu. Dia mengeluh dengan wajah cemberut. "Aku sangat bingung aku berada di mana sekarang. Hanya kamu yang ada di sini, dan hanya kamu yang tahu tempat apa ini."
Reane menurunkan bahu sembari mengamati anak itu diam-diam. "Tolong jangan takut denganku. Mungkin kesulitan kita sama. Aku adalah gadis baik dan lembut. Kenapa kamu begitu takut denganku? Aku merasa sedikit tersinggung."
Anak itu akhirnya mengangkat kepala sepenuhnya dan menatap Reane semakin lekat dengan kebingungan yang sama.
Reane menahan senyum. Ia merasa semakin akrab dari cara anak itu menatap, matanya yang bulat dan berair, bahkan wajahnya ... Apa? Wajahnya?
Reane terkejut dengan pikirannya sendiri. Dia menatap anak itu semakin dekat. Matanya perlahan terbelalak, begitu pun mulutnya yang membulat tidak percaya.
Hanya satu kata keluar yang mewakili semua pikirannya. "Ray?"
Mata anak itu melebar terkejut seolah tidak menyangka gadis aneh yang lebih tua darinya itu tahu namanya.
Melihat reaksinya, Reane merasa syok dan linglung.
Tidak mungkin! Di mana ia sekarang?! Dan anak ini ... Apakah dia Ray saat masih kecil?! Kena-pa dirinya ...
Bibir Reane gemetar pucat. Ia bertanya lirih. "Apakah namamu Ray?"
Mata anak itu berkelip-kelip. Namun tidak ada jawaban, hanya kepalanya yang memiring. Reane langsung mengerti bahwa memang benar. Wajah ini terlalu akrab! Tidak mungkin ia salah!
Reane menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan nafasnya yang sesak. Sekali lagi ia melirik ruangan redup itu dengan pikiran melayang.
Setelah tubuhnya bertransmigrasi, tentu saja ia langsung tahu bahwa tidak ada yang mustahil. Begitu pun saat ia berada di sini, ia langsung berpikir bahwa dirinya kembali ke masa lalu. Tapi mengapa tubuh dan pakaiannya masih sama?
Tiba-tiba Reane merasakan ujung gaunnya di tarik. Dia menunduk dan melihat tangan pucat kecil menariknya. Saat mengangkat kepalanya, ia melihat kecemasan di mata anak itu.
Hati Reane yang terombang-ambing langsung setenang danau. Hatinya melembut. Ternyata Ray-nya selucu ini saat masih kecil. Reane menduga, dia berumur sekitar 4-5 tahun. Wajahnya yang mungil dan berpipi agak gemuk terlihat sangat imut. Matanya teramat jernih dan bulat. Mengapa dia sangat tampan dan imut di usianya ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dependency ✓ [Sudah Terbit]
Romance17 tahun Leane hidup di ranjang rumah sakit tanpa mengenal dunia luar. Setiap hari, ia hanya tahu rasa sakit karena keadaan tubuhnya yang lemah. Pada akhirnya, ia mati dengan damai tanpa pernah merasakan apa itu kebahagiaan. Bangun di tubuh dan temp...
17. Dependency 🌷
Mulai dari awal
![Dependency ✓ [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/315356737-64-k470748.jpg)