1

32 12 4
                                        

Dengan langkah gontai, Clau masuk ke kelasnya. Dia langsung menjatuhkan diri di bangkunya. FYI, Clau tuh anak IPA 2. Alasan dia masuk IPA karena dia nggak suka pembahasan masa lalu yang kebanyakan ada di kelas IPS.

Abangnya Clau dulu juga anak IPA, jadi nggak heran kalau Clau masuk IPA. Udah belajar banyak dari abangnya soalnya. Ya, walaupun mereka kayak kucing sama tikus, tapi kalau ada apa-apa salah satu pasti paniknya setengah mati.

"Clau, muka lo kusut amat. Kenapa dah?" tanya seorang cewek berambut pirang.

Namanya Cintya Bella, tapi panggilannya Cia. Nggak tau deh kenapa bisa meleset sejauh itu. Kalau kata Cia sih:

"Kalo nggak aneh bukan Cia namanya."

Ya, emang sih. Cia tuh random parah. Kalau nyeritain kerandoman Cia, nggak bakal selesai-selesai.

Clau menghembuskan napasnya dengan gusar. "Gue tadi berantem sama Arya. Ya lagian dia cari gara-gara mulu. Udah tau gue kesel, eh malah bikin ulah." Clau manyun-manyun sambil ngomong.

"Yaelah Clau, namanya juga abang lo. Dia kan pulang paling sebulan sekali. Wajar lah kalau bikin lo kesel. Soalnya kalo bilang kangen kan dia anaknya gengsi parah. Gimana sih lo."

Cia juga pasti kesel kalau diposisi Clau. Tapi karena pengen dianggap bestie yang baik, dia ngasih nasihat semampunya.

"Halah, lo belain Arya mulu. Gue juga tau kalo lo seneng ngeliat gue sengsara."

Clau emang kadang suka ngomong nusuk banget, tapi yang diomongin juga bener sih. Cia sampe senyum-senyum sendiri karena ketebak sama Clau.

"Jangan senyum-senyum gitu lo." Clau langsung celingak-celinguk kayak lagi nyari seseorang. "Eh, anyway, Difa mana?"

"Abis begadang kali, makanya telat."

Ngomong-ngomong soal Difa, dia sahabat Clau sama Cia juga. Nama lengkapnya Adifa Aurelie. Anaknya pendiem karena wibu. Dia cuma bisa ngomong panjang lebar kalau lagi bareng Clau sama Cia doang.

Kata orang-orang, kalau ada wibu tuh harus lari. Tapi Clau sama Cia malah bilang:

"Kejarrr, ada wibu."

Difa suka anime dari umur enam tahun. Gara-garanya, dia nggak sengaja nemu komik anime pas bantuin ayahnya beresin gudang. Sampai sekarang, koleksi komiknya udah puluhan.

Clau yang notabene temen dari kecil pasti tau lah soal ini. Soalnya Difa sendiri yang cerita pas mereka kelas 2 SMP. Clau sama Difa udah temenan dari SMP karena dulu kelasnya diacak setiap tahun dan mereka ketemu di kelas 2. Sedangkan Cia, mereka bertiga bertemu pas awal masuk SMA.

Nggak lama kemudian, Difa dateng pakai hoodie sama earphone yang udah terpasang di telinganya.

"Yaelah Dif, udah mau masuk masih bisa-bisanya santai gitu. Sini buruan duduk." Ucap Cia sambil nepuk-nepuk meja yang ada di belakangnya.

Difa langsung duduk di bangku yang ada di belakang Cia. Tak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi.


---

Kimia. Bukan pelajaran favorit Clau dan kedua sahabatnya itu. Tapi dia tetap membuka buku paket yang ada di meja sesuai halaman yang disuruh Pak Anton, guru kimia mereka.

Clau itu pintar. Dibanding kedua sahabatnya, dia yang paling pintar. Kelasnya juga termasuk kelas unggulan. Tapi kalau soal keberuntungan, justru Cia dan Difa yang lebih beruntung karena mereka bisa bareng masuk IPA 2.

Lihat aja sekarang. Difa udah telungkup di meja sambil nutupin wajah pakai buku. Sementara Cia sibuk baca Wattpad karena cerita favoritnya update chapter baru.

Pelajaran kimia yang seharusnya butuh fokus, jadi nggak terlalu menakutkan karena Pak Anton lebih sering ceramah kemana-mana daripada ngajarin materinya.

Pak Anton tuh guru idaman karena jarang ngasih tugas. Tapi kalau ada yang ketauan curang waktu ulangan, dia nggak bakal segan-segan ngerobek kertas ulangannya.

Tanpa terasa, bel istirahat pun berbunyi. Pembelajaran kimia selesai dan akan dilanjutkan di pertemuan berikutnya.

Setelah mengucapkan salam kepada murid-muridnya, Pak Anton keluar dari kelas dan menuju ruang guru untuk istirahat.

"Clau, mau ke kantin?" Clau yang lagi beres-beres meja otomatis noleh ke Cia yang ada di bangku belakang.

"Difa?" tanya Clau sambil ngangkat alis.

Cia mengangkat bahu. "Dia cuma nitip Bear Brand. Anak itu lagi tidur, nggak mau diganggu."

Clau menghela napas pelan. Dia emang perhatian banget sama Difa karena mereka udah deket banget. Clau juga sering bergantung sama Difa karena sifat dewasa Difa yang bikin dia merasa nyaman. Kalau Cia, lebih kayak adik karena umurnya paling muda di antara mereka.

"Udah, yuk ke kantin. Ntar Difa keburu bangun kelaperan."


---

Kantin emang surganya murid-murid sekolah. Apalagi kalau fasilitasnya nyaman. Cuma malesnya, harus desak-desakan buat beli makanan.

"Ci, rame banget. Gimana mau pesen nih," keluh Clau di ambang pintu masuk kantin.

"Ya namanya juga istirahat barengan, Clau. Gimana nggak rame? Kita mencar aja, ya. Nanti makan di kelas sambil nemenin Difa."

"Oke, biar gue aja yang beliin pesenan Difa. Lo pesen makanan kita aja, kaya biasa. Inget, jangan pedes."

Cia mengangguk dan langsung pergi menuju kios yang dia cari. Sementara Clau berjalan ke lemari pendingin buat ambil dua kaleng Bear Brand dan dua botol teh greentea. Setelah itu, dia ngambil cemilan buat nanti di kelas.

Sambil nunggu Cia, Clau duduk di bangku panjang di bawah pohon dekat kantin. Pohon itu tinggi dan bangkunya menghadap ke lapangan basket sekolah. Tempat yang strategis buat ngeliat cowok-cowok main basket.

Pas dia duduk, matanya tertuju ke botol air mineral dan seragam cowok yang ada di sampingnya.

Dia menoleh ke lapangan dan melihat seorang cowok pakai baju hitam polos dan celana abu-abu SMA, lagi nge-shoot bola basket ke ring.

“Oh, mungkin punya cowok itu.”

Nama yang tertera di badge name seragam OSIS itu adalah: Alfareza Daven Sagara.

Dia baru tau ada yang namanya Alfareza di sekolah ini.

Saking asiknya mikirin seragam itu, Clau nggak sadar kalau Cia udah manggil namanya beberapa kali.

"Clau! Woy Claudiaaa! Mikirin apaan sih?" Cia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Clau.

Clau langsung berdiri, "Eh, sorry, Ci. Nggak ada apa-apa. Udah yuk balik ke kelas. Nanti Difa nungguin."

"Lah, gue ditinggalin!" Cia menggerutu sambil nyusul Clau yang udah jalan duluan.

Tanpa Clau sadari, cowok di lapangan basket itu sudah memperhatikannya sejak tadi.

CLAUDIeWhere stories live. Discover now