Dia cantik, imut, bermata bulat indah dan memiliki rambut poni menggemaskan. Namun, dia tak menyukai semua itu, dia benci terlahir sebagai seorang perempuan.
Bersekolah di SMA Nusa Bangsa, menjadikan hidup nya tidak lagi monoton dan suram. Hari-har...
Cerita ini murni hasil imajinasi ku sendiri. Bila terdapat persamaan nama tokoh, tempat, dan lain-lain. Itu murni tidak sengaja.
Saya tidak suka dengan orang yang menjatuhkan karya orang lain/mem-plagiat/menyama-nyamakan karya orang lain. Saya harap kalian paham karna saya tau kalian tidaklah sepolos itu dan karna saya paham, otak nya anak wattpad semuanya tidak ada yang polos, wkwkwk saya juga kok.
Tinggalkan jejak ya.. Dan spam komentar dibawah biar cemungut gitu aku nulisnya huhuhu. Btw komentar nya positif aja yah, se positif cinta ku untuknya... Ehem garing, lupakan.
Share cerita ini ya.. Biar banyak yang tau cerita ini. Jangan lupa SCRENSHOT bagian-bagian yang kalian sukai.
Happy Reading All
Seorang gadis tengah bersiap dengan seragam barunya. Ia memandang cermin besar didepan nya dengan tatapan datar.
Kenapa gue harus jadi cewek.
Dia memasang name-tag tepat di saku dada jas brown nya. Sekarang fokusnya tertuju pada rambut nya yang di kuncir satu dengan poni yang agak menutupi alis tebalnya.
Ck. Kek nya gue harus potong rambut.
Setelah kurang dari 15 menit, akhirnya ia selesai juga bersiap, memang tak butuh waktu lama, karena ia memang tak terlalu suka memandang dirinya di cermin serta tak suka berdandan. Dirinya hanya memoles tipis bedak bayi pada wajah pucat pasi nya dan hanya memakai pelembab bibir agar bibirnya tidak kering.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Saat akan berjalan turun ke anak tangga. Ia tak sengaja mendengar keributan dibawah. Ia tersenyum getir, sudah biasa suara suara itu menggelegar setiap harinya dan setiap waktunya. Di bawah ia lihat kedua orang paruh baya yang berada di ruang makan tengah berdiri dan saling berbicara, ahk ralat! maksudnya berdebat. Keduanya sama-sama memakai pakaian ala pekerja kantoran. Yah memang keduanya sama-sama bekerja dan sama-sama mempunyai perusahaan masing-masing.
Gadis yang hanya menonton drama sinetron memuakkan itu berjalan mendekati mereka, bukan ingin menyapa, tapi hanya ingin mengambil selembar roti bakar tanpa selai yang ada dimeja makan. Kedua orang paruh baya itu terdiam saat mengetahui keberadaan nya sudah berada di ruangan ini.
"Lanjutkan saja, anggap saya hanya angin" hendak ingin berbalik dan meninggalkan mereka. Suara berat dari pria paruh baya itu menghentikan langkah nya.
"Papa akan antar kamu kesekolah baru mu"
Gadis itu terkekeh sinis. Ia berbalik badan dan menatap lirih sang papa, "mimpi apa saya saat seorang CEO terkenal ingin mengantarkan saya kesekolah." ia tersenyum kecut, "apa saya benar-benar sedang bermimpi?"