1. Metta or Dinda?

21 6 0
                                        

Chapter 1 - Metta or Dinda?

"Lebih banyak waktu gue buat lo."
-Arsenio Ragas Davarendra.-

>>><<<

"Arsen, kamu besok sibuk, enggak? Bisa temenin aku keluar? Aku lagi pingin jalan-jalan," ajak Dinda.

Arsen tak menanggapi apapun. Laki-laki itu masih sibuk dengan laptopnya. Ia tidak mempedulikan segala celotehan Dinda sedari tadi. Gadis itu selalu saja mengganggunya saat berkunjung ke rumahnya.

"Arsen." Dinda kembali merengek. Ia kesal karena sedari tadi ia di abaikan oleh laki-laki itu.

Arsen berdecak singkat. "Besok sibuk. Kamu enggak liat sekarang aku lagi nugas?"

"Kan nugasnya sekarang. Masak besok masih mau nugas lagi?"

"Tugas aku bukan cuma ini, Dinda," jawab Arsen masih fokus pada laptop di depannya.

Laki-laki itu tidak tau saja kalau sekarang wajah Dinda sudah memerah menahan tangisnya. Gadis itu mencoba mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.

Dinda mengusap matanya yang berair dan berdecak tak suka. "Tapi kan, besok weekend. Masak kita enggak mau refreshing, gitu? Nyegerin otak, Ar. Biar enggak mikirin tugas mulu."

Arsen menghela nafas pelan. "Iya, kalo tugas aku udah selesai, kita jalan."

"Selesainya kapan?"

"Besok malam mungkin." Arsen mengendikkan bahunya. Matanya masih fokus pada laptop.

Dinda memberenggut kesal. Arsen selalu saja tidak ada waktu untuknya. Selalu sibuk dengan tugasnya. Padahal kan, deadline tugas itu masih lama. Laki-laki itu tidak pernah peka dengan sikapnya yang sudah sering menunjukkan keinginan dimanja olehnya.

"Pacar kamu itu aku apa tugas itu sih, Ar? Kenapa kamu lebih prioritasin mereka dari pada aku? Aku kan, juga pingin gitu pacaran kayak yang lain. Bisa main bareng, nonton bareng, belanja bareng. Lah kita?"

Arsen segera menoleh menatap Dinda ketika mendengar suara perempuan itu bergetar. Dinda nangis? Pikirnya.

Dinda kembali mengusap matanya. Ia tidak ingin menangis didepan Arsen. "Aku bertahan juga karena sayang sama kamu. Makanya aku selalu ngalah sama kamu. Kalo aku udah mentingin ego, udah dari lama aku ninggalin kamu."

Kali ini, Arsen meninggalkan laptopnya. Ia lebih memilih untuk merangkul dan mengusap lengan Dinda yang bergetar hebat karena menahan tangisnya sedari tadi. Tangan perempuan itu sudah menutupi wajahnya sesaat setelah mengusap matanya tadi.

"Din," panggil Arsen pelan. Ia bingung harus bagaimana.

"Kita udah hampir setahun bareng, masih tetep aja kayak gini. Enggak ada perubahan," ungkap Dinda. "Udah lah, aku capek. Aku mau pulang aja."

Dinda mengusap matanya untuk yang kesekian kali dan berdiri dari duduknya. Reflek, Arsen pun ikut berdiri mengikuti pergerakan perempuan itu.

"Din, maaf." Arsen menggenggam kedua tangan Dinda dan mengusapnya pelan. Ia benar-benar tidak ingin kembali bertengkar dengan Dinda. Ia tidak ingin kehilangan perempuan yang sudah hampir 1 tahun ini menemaninya itu.

"Iya-iya, aku janji bakal selesain tugas ini cepet biar kita bisa keluar jalan-jalan. Kamu sabar ya."

Dinda sudah sangat hafal dengan kalimat itu. Kalimat yang hanya untuk menenangkannya saja, tidak pernah terwujud setelah tugas Arsen benar-benar selesai.

ARSENWhere stories live. Discover now