PROLOGUE

60 6 0
                                        

PROLOGUE ARSEN

"Untuk mencapai hari ini, kita perlu melewati banyak hal dihari kemarin dan mengingat kenangannya dihari esok."
-Arsenio, Angiphaa-

>>><<<

Seorang gadis kecil kini tengah termenung di teras rumahnya sambil sesekali menatap pintu besar rumah itu. Ia berharap pintu itu dapat terbuka agar ia bisa masuk kedalamnya.

"Metta, ngapain diluar malem-malem?" Suara khas anak laki-laki itu masuk ke dalam indra pendengarannya.

Gadis kecil itu segera berdiri dari duduknya dan berlari ke arah anak laki-laki yang berdiri tak jauh darinya itu.

"Aku enggak boleh masuk rumah sama mama. Soalnya, kata mama aku nakal. Padahal, aku tadi cuma enggak sengaja mecahin gelas pas lagi cuci piring," adunya sambil menangis.

Anak laki-laki itu membawa Metta kedalam pelukannya dan mengusap punggung Metta lembut. "Ya udah, kamu pulang ke rumah aku aja, ya. Jangan disini. Disini dingin, Ta. Nanti kamu sakit."

"Aku mau, Ar."

>>>>><<<<<

"Metta, kamu kenapa enggak pulang?" Tanya Arsen berdiri di samping Metta yang tengah duduk menunggu jemputan.

"Aku belum dijemput, Ar. Kata papa, tunggu sampai papa pulang kerja," jawab Metta sambil tersenyum.

"Emang biasanya papa kamu pulangnya jam berapa?"

Metta menggeleng polos. "Aku enggak tau."

"Kamu pulang bareng aku aja, ya. Papa aku udah jemput. Tapi, kamu pulangnya kerumah aku. Biar sekalian main. Aku enggak punya temen dirumah. Mau, kan?"

"Aku mau, Ar."

***

Ingatan-ingatan itu kembali memenuhi otaknya saat ia kembali membuka album lama.

Arsen tersenyum mengingat kenangan masa kecilnya bersama Metta. Bahkan, dari dulu Arsen memang sangat suka memperhatikan Metta dari balkon kamarnya.

Bukan sebuah kebetulan Arsen selalu ada untuk Metta sedari kecil. Karena semua yang Arsen lakukan memang sengaja direncanakan oleh hati kecilnya.

Arsen kecil dulu sangat suka sekali diam-diam memperhatikan gadis itu. Ia tidak suka melihat gadis itu sedih, apalagi sampai menangis.

Bukan hanya dulu, tapi sampai sekarangpun ia tetap akan terus memperhatikan gadis itu dan akan selalu menjaganya tetap aman.

Arsen kembali mengusap foto masa kecilnya bersama Metta itu. Disana, mereka tampak begitu polos dan lugu. Arsen sampai dibuat tak percaya kalau dulu ia pernah sepolos itu.

Ia kembali membuka lembar berikutnya. Ada fotonya bersama Metta diwaktu mereka SMP. Foto itu diambil di saat mereka ada acara hari Kartini di sekolahnya. Mereka memakai baju batik kembar waktu itu.

Mama Arsen memang sengaja mencari baju yang kembar untuk mereka agar tampak serasi. Dan benar saja, mereka terlihat sangat serasi saat di abadikan dalam gambar.

"Metta emang udah cantik dari kecil, ya," ujarnya bermonolog sambil tersenyum.

Saat ia kembali membuka lembar selanjutnya, ia melihat foto dimana Metta dan dirinya tengah lahap memakan sarapan bekal yang dibawakan oleh ibunya di kantin sekolah.

Ia terkejut. Bagaimana bisa foto itu ada? Siapa yang memotret mereka?

Ingatannya kembali mengingat masa itu.

***

"Lo tadi udah sarapan, belum?" Tanya Arsen mengambil duduk di depan Metta.

Kini, keduanya tengah berada di kantin sekolah. Setiap pagi, mereka memang selalu bertemu disana hanya untuk mengobrol dan sarapan bersama sambil menunggu jam masuk berbunyi.

"Belum. Tadi pagi mama buru-buru berangkat kerja. Katanya, gue disuruh sarapan di kantin aja. Tapi, papa enggak kasih uang jajan. Mama juga enggak bikinin bekal, soalnya mama enggak masak. Gue laper, Ar."

"Enggak usah sedih." Arsen tersenyum.

"Tadi, mama bawain gue 2 bekal. Soalnya, yang satu buat Metta, katanya. Nih, buat lo. Biar lo juga enggak perlu beli. Tapi, kalo lo mau beli jajanan juga enggak apa-apa. Biar gue yang bayarin."

Wajah Metta tampak langsung berseri-seri. Ia senang memiliki teman sebaik Arsen. "Gue mau, Ar. Makasih, ya."

***

Arsen kembali tersenyum. Kini, matanya beralih pada foto besar yang ia taruh di dinding atas tempat tidurnya. Foto itu akan selalu berada disana. Ia tidak akan memindahkannya.

Foto itu menampilkan sosok dirinya tengah merangkul seorang gadis yang sedang menggendong anak kucing. Foto itu diambil saat mereka masih duduk di bangku kelas 1 SMA.

"Selamanya, lo bakal tetep jadi yang nomer satu di hati gue."

>>>>><<<<<

Tbc.


Sabtu, 05 Maret 2022


Ig: @angiphaa
643 kata

ARSENWo Geschichten leben. Entdecke jetzt