•one

12 2 2
                                        

Pagi hari, kala matahari menampakan wujudnya dari arah timur, sinarnya mencari celah untuk masuk ke jendela seorang siswa pelajar Sekolah Menengah Atas yang masih setia memeluk erat sang guling seakan-akan kekasihnya.

Guling itu nampak tertekan akan tubuh sang majikan yang menimpa dirinya. Ia menangis. Bukan, bukan menangis, melainkan air liur sang majikan yang selalu menetes dan mengotorinya. Ia merasa, dirinya sudah tidak suci lagi setelah sang majikannya ini memilih dirinya untuk menjadi pendamping tidurnya.

Jam menunjukan pukul 06.30. Alarm dengan siap akan melaksanakan tugasnya. Ia tetap setia kepada majikannya meskipun sering kali kala ia melakukan tugas, sang majikan selalu memukul bahkan membantingnya. Tapi ia tetap kuat dan bertahan.

Kringggggggg

Tepat sekali, bunyi itu menusuk gendang telinga. Sang majikan akhirnya bangun, dan-

Bug

Plak

Prang

Sudah diduga, alarm selalu menjadi korban kekerasan majikannya. Begitu juga dengan guling, ia menjadi korban pelecehan sang majikan yang menjijikan.

Sudah sepantasnya orang yang telah baligh terbiasa bangun kala subuh, bahkan sebelum subuh yaitu di sepertiga malam untuk ibadah. Namun tidak dengan remaja satu ini, Deandra Manuca. Atau kerap dipanggil Andra. Remaja nakal yang tak mau terkalahkan.

Andra, siswa paling jail seantero SMA Soetta Jakarta. Siswa paling nakal dan urakan. Namun anehnya, pria ini yang selalu diidam-idamkan para siswi, guru, bahkan siswa pun ada yang suka padanya. Lebih aneh lagi, Andra yang selalu memenangkan olimpiade antar sekolah, tingkat provinsi, bahkan nasional.

Satu yang menjadikan dirinya kurang sempurna, pengucapan huruf R nya yang kurang jelas alias cadel.

Tapi, satu kekurangan tidak akan menutupi seribu kelebihan. Kelebihannya inilah yang membuat dirinya selalu dibanggakan orang tua dan sekolah. Siapa yang tidak bangga mempunyai anak seperti Andra? Hanya orang tua kurang bersyukurlah yang seperti itu.

"Belisik banget lo alalm!"

Mata Andra setengah terbuka setengah menutup. Jujur, ia masih mengantuk. Semalam ia lembur menjawab 150 soal-soal fisika yang cukup menguras otaknya. Namun itu tak pernah cukup sebelum ia memenangkan olimpiade tingkat nasional bulan depan.

"Jam belapa sih ini astaga." Dengan nyawa masih 55% ia bangkit dari kasur memungut alarm kesayangannya serta terbencinya.

"Oh jam setengah tujuh."

"HAH?! SETENGAH TUJUH? MAMPUS GUE!"

"MAH. MAMAHHHHHH!"

Kebiasaan Andra ketika dirumah adalah berteriak. Jika tidak karena butuh, ya emosi. Badan pria, jiwa anak kecil 9 tahun.

"IYA ANDRAAAAAA! ADA APAAN SIH?!" Satu keluarga punya hobi teriak semua, jadi jangan heran.

"SEKALANG UDAH SETENGAH TUJUH. KOK MAMA NGGAK BANGUNIN ANDLA SIH???!" ucap Andra penuh emosi dan ke-oon-an.

"LAH IYA NAK, MAMA LUPA! ADUH MAAFIN MAMA YA ANDRA, SAYANGKUU." Wendi mencoba menenangkan putranya, tapi dengan berteriak.

"LOH MAMA INI ANDLA DI DEPAN MAMA LOH NGAPAIN SIH TELIAK-TELIAK?!" Andra berteriak juga.

Wendi kebingungan. Tapi ada benarnya juga. Tapi Andra juga teriak. Gimana sih?!

"Ssttt iya-iya ini mama nggak teriak, TAPI KAMU JUGA TERIAK SAYANG IHH!!"

"Oke-oke, kita halus tenang sekalang. Nggak boleh ada yang teliak-teliak, OKE?!!!"

Wendi bengong, namun ia tetap mengiyakan anaknya, "OKE!"

"Back to topic. Kenapa mama nggak bangunin Andla jam enam? Kenapa nggak kayak biasanya?" Ujar Andra dengan tenang dan santai.

"Aduh iya-iya maafin mama ya sayang, mama lupa aduh, mama tadi abis live instagram sambil masak. Maafin mama ya sayangku." Wendi mengelus-elus wajah Andra dengan penuh kasih sayang.

Andra mengangguk. Ia meraih tangan Wendi. "Yaudah mama Andla maafin. Tapi lain kali bangunin Andla tepat waktu ya ma, Andla juga nggak mau ditinggal Deni gangguin Jamilah di kelas."

"Yaudah, sekarang kamu mandi terus sarapan. Mama udah siapin tuh di meja makan."

Andra mengangguk. Setelah Wendi keluar dari kamarnya, ia langsung mandi. Kurang lebih 7 menit ia berada di kamar mandi. Lalu, dengan sigap Andra memakai seragam sekolahnya dan siap untuk berangkat.

"Wih mama gelcep juga bikin salapan." Andra duduk di kursi meja makan. Ia menatap masakan-masakan mama nya yang sudah tentu enak dengan mata berbinar.

Wendi tersenyum mendengarnya, "Iya dong, mamanya siapa dulu? Andla."

Andra menatap datar Wendi. Ia sangat tidak suka ketika keluarganya mengejek dirinya cadel. Ya, meskipun itu kenyataan.

"Loh, Andra, mau kemana lo?"

Suara itu dari arah tangga, Andra menoleh dan mendapati kakak perempuannya, Andin. Nandini Mellyani. Anak pertama dari pasangan Wendi dan Pandu. Sifatnya sebelas dua belas sama Andra. Bedanya, Andin sedikit bego terus suka main perasaan cowok. Ya, istilahnya Playgirl. Mungkin.

"Ya sekolah lah pintal." Andra membalasnya dengan kesan mengejek. Sudah tau kalau Andin bego, malah dibilang pintar.

Andin menaikan salah satu sudut bibirnya, sedetik kemudian, suara tawa menggelegar memenuhi seluruh isi bumi. "Lo mau sekolah? Haha. Dihari Minggu? Haha seriusan lo? Dasar oon!"

Mata yang tadinya sinis sekarang melotot. Mulut yang tadinya rapat kini terbuka kian lebarnya. Tangan yang tadinya diam disisi badan kini beralih memegang dadanya seakan-akan penyakit jantung menyerang. Dan pasti, sebentar lagi, suara penuh wibawa akan menusuk gendang telinga seluruh penduduk bumi.

"AGHHHHHHHHHHH!!! MAMAAAAHHHHH!!!"

//

"Andraaaaa, sayang, ayo makan nak. Masa gitu aja ngambek ih, mana ngambeknya ke Mama lagi. Kan yang jail kakak kamu Andraaaaa."

Andra menutup kedua telinganya dengan bantal. Ia kesal sama Wendi. Jadwalnya bagun tidur saat hari libur itu jam sembilan.

Wendi kebingungan. Ia takut Andra kenapa-kenapa. Ia takut Andra bunuh diri. "ANDINNNNN, ANDINNN NAKK SINI SAYANG."

Andin datang dengan tangan yang menutup kedua telinganya. Suara Wendi ini mungkin lebih keras daripada suara motor jamet facebook.

"Apasih Maaa."

"Ini loh adik kamu, dia nggak keluar dari kamar setelah kamu bilang ini hari minggu. Ngambek dia. Kamu sih."

"Lah kok aku sih ma, dianya aja yang oon!"

Alis Wendi mengkerut, "Oon? Bukannya kamu ya?"

"Ih apasih maaaa, ah tau ah aku juga ngambek sama mama." Andin berbalik lalu menuju kamarnya kembali.

"ENGGA SAYANG, BERCANDA. ANAK MAMA PINTAR-PINTAR SEMUA KOK. CUMA PAPA KAMU YANG BEGO."

Pandu yang mendengar namanya disebut hanya menghela nafas pasrah. Iyain ajalah, daripada nggak dapet jatah katanya.

//

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 13, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Lovesick BoyStories to obsess over. Discover now