1. Welcome Home

69.7K 1.8K 83
                                        

1. Welcome Home

Chevrolet camaro merah itu membelah jalanan Ibu kota. Desau angin malam menembus kaca mobil yang sengaja dibuka setengah. Satu kaki jenjang terbungkus stiletto itu pun menginjak rem begitu rambu lalu lintas berganti merah. Netra beriris hitam jernih yang tersembunyi di balik kaca matanya melirik ke samping sesaat, ke balik celah kaca terbuka yang menampilkan hiruk pikuk kota metropolitan yang telah dua tahun dia tinggalkan.

"Welcome home, Syeranada." Senyumnya mengembang tipis. Dua telunjuknya mengetuk-ngetuk setir selagi hitungan mundur pada rambu berjalan. Bunyi-bunyi klakson yang bersahutan, juga musik-musik yang berbaur di tiap kafe dan pusat perbelanjaan, merambat jelas ke dalam indera pendengarnya, membuatnya memejam sejenak.

It feels like such a long time ago. Syera tersenyum sarkatik. Deru kendaraan yang kerap menemani malam-malamnya, juga musik yang selalu menyertai lamunannya kala duduk di pojokan kafe, kini memberi kesan berbeda. Rasanya seperti ada yang berubah dan lumayan asing. Kafe di persimpangan jalan sana, misalnya. Dulu, Syera kerap duduk sambil menyeruput cokelat hangat sembari menunggu sang kekasih tiba. Kafenya masih kecil dan cenderung sepi saat itu, dan Syera suka tempat sepi, karenanya ia betah berlama-lama di sana. Tapi lihatlah kini! Kafe bertuliskan Newmadeileine itu telah bertransformasi menjadi salah satu tempat nongkrong yang sesak oleh para anak muda.

Dua tahun meninggalkan negara tercinta ternyata cukup untuk membuat Syera merasa 'pangling'. Namun itu tidak semuanya. Beberapa ada yang masih sama, tidak berubah walau seinci. Seperti ... sosok yang amat sangat dia rindukan, misalnya?

Suaranya ... hunusan dingin netra tajamnya ...

Syera terkekeh. Mengingatnya saja membuat wanita 28 tahun itu menggigit bibir tidak sabar.

Dan jelas, Syera tidak tertarik untuk mengubah satu hal tersebut. Setidaknya, dia harus menikmatinya dulu, kan?

***

"Kok gak ngabarin mau pulang!?"

"Surprise?"

Naomi mendecih, lalu memeluk penuh kerinduan. "Aku kangen, Ser. Kamu asik banget di sana."

"Gue kerja," jawab Syera seraya mengurai pelukan. "Jadi, apa kabar kakak gue yang paling cantik se-galaksi bima sakti ini?"

Naomi mendengkus. "Jauh lebih baik karena adikku udah tau jalan pulang?"

Syera terkekeh, kemudian geleng kepala. "Lebay banget lo!"

Naomi mengangkat bahu tidak peduli. Digamitnya lengan sang adik saat mendapati kamera mengarah pada mereka. Syera yang semula tidak memperhatikan sekitar, mengerjap kaget. Satu jepretan kamera berhasil mengabadikan potret mereka.

"Hey! Gue belum siap!" omelnya, lalu disambut tawa Naomi.

"Sini Ver!" Naomi memanggil si 'oknum' pencuri foto tadi. Seorang pemuda, Syera taksir berusia sekitar empat atau tiga tahun di bawahnya, mendekat dengan kamera menggantung di leher. "Kenalin, ini Silver, adiknya Juno, sekaligus fotografer yang bertugas fotoin acara kita hari ini." Naomi menutup kalimatnya dengan senyum, lalu berganti menunjuk Syera. "Dan ini Syeranada, saudariku, sekaligus supermodel yang baru ingat mudik saking asiknya hidup di negeri orang." Naomi terkekeh mendapati Syera mendengkus. "Tanpa aku perkenalkan pun kayaknya kamu udah tahu deh, Ver."

Syera menyambut uluran tangan Silver. "Syera."

"Gue udah sering denger tentang lo."

"Oh ya?" Syera memiringkan wajah. "Dengar apa misalnya?"

Silver mengedik. "Seberapa badas seorang Syeranada saat berlenggok di atas catwalk?"

"Biar gue tebak ...." Syera menyipit. "Lo jenis lady killer brengsek yang sadar diri betapa memikatnya diri sendiri itu ya?"

JeratStories to obsess over. Discover now