"Semua orang yang bikin lo sakit harus mati!"
"Termasuk kamu?"
"Gue gak pernah main fisik, Lora."
"Definisi sakit gak melulu tentang fisik. Istirahat, Than. Kamu terlalu sibuk jadi orang jahat. Kamu terlalu sibuk membunuh kebahagiaan orang lain. Kam...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
👑
"MATI AJA LO BANGSAT!" teriak seorang laki-laki berseragam putih abu-abu tepat didepan wajah lawannya.
Laki-laki itu meludah ke sisi kanan sembari mencengkeram kerah baju seseorang yang juga berseragam sama dengannya. Ia menghajar dengan bertubi-tubi tanpa ampun. Wajah memerah serta gertakan giginya menimbulkan kesan garang dan amarah yang memuncak.
"Gue pastiin lo bakal mati malam ini!" sentaknya seraya meninju bagian leher.
"Lo bakal masuk penjara Than," lirih seorang laki-laki yang sudah bersimpuh tak berdaya. Seragamnya berwarna merah akibat darah yang terus mengalir. Ia memegangi bagian perutnya yang tadi terkena tusukan pisau.
Ucapannya tidak dihiraukan. Laki-laki didepannya itu semakin bernafsu memukulinya. Bahkan mulai mengeluarkan benda tajam dari balik saku celana. Sebuah pisau kecil dengan noda merah yang telah kering.
"Gak semudah itu bajingan!" balasnya dengan senyum simpul. Lebih tepatnya senyuman mematikan.
Senyuman yang paling dihindari semua orang.
King Leviathan. Laki-laki blasteran Spanyol yang senang mendengar teriakan-teriakan penderitaan orang lain. Baginya, kebahagiaan terbesarnya adalah melihat orang lain bersimpuh tak berdaya, apalagi ditangannya sendiri. Sorot matanya, seolah seperti jendela menuju kegelapan, tanpa mencerminkan sedikitpun emosi atau rasa simpati. Setiap senyuman yang terbit dari bibirnya adalah senjata yang digunakan untuk menjaring korban-korbannya.
Tak ada rasa bersalah yang menggerayangi pikirannya setiap kali menjalankan aksinya. Ketenangan dingin yang terpancar dari wajahnya hanya mengungkapkan kebenaran yang mengguncangkan, bahwa dibalik sosok yang tampak normal, ia adalah seorang predator tak berperasaan tanpa belas kasihan.
"Manusia kayak lo lebih cocok tinggal di neraka," desis Athan tajam
"Lo lebih cocok, setan!" balas pemuda itu dengan lantang, walaupun dalam benaknya ia sangat takut. "gue bakal laporin lo ke polisi!"
Athan tersenyum miring. "Silakan. Tapi nanti, setelah lo mati!"
Ia melirik pergelangan tangan laki-laki yang diketahui bernama Leo itu lalu tersenyum lebar. Pisau kecilnya mulai ia arahkan tepat di urat nadi Leo.
"ARGHHH BANGSAT!"
Leo berteriak histeris saat pisau itu mulai menyayat kulitnya. Darah merah sontak mengucur deras karena Athan semakin menekan pisaunya. Athan tertawa senang mendengarnya. Suara teriakan Leo bagaikan alunan musik yang begitu merdu. Teriakan penderitaan.
"To-tolong jangan bunuh gue, Than," pinta Leo dengan sorot mata memohon. Bibirnya gemetar melihat Athan yang sedang tersenyum miring.
"Chill man, gue bakal bunuh lo secara perlahan kok." Ucapan Athan tidak main-main. Jika ia sudah berucap ingin membunuh, maka Athan akan melakukannya.