l'm fine:)
"dimana dia?"
Mora hanya melengos saat saat dito ayahnya menanyakan key. Tadi saat mora sedang duduk untuk mengundang seluruh teman tempat ia les piano tiba tiba bik jum memanggilnya dengan ekspresi bercampur aduk.
Mora yang mendengar penuturan bik jum langsung bergegas beranjak dari tempat tidur untuk menemui sang ayah .
Jujur mora merindukan sosok dito buana ayahnya, yang telah lama jauh darinya.
"Moraaa..?" tanya dito lagi. Mora berdecak kesal.
"nggak tau" ujarnya, wajah nya sudah merah menahan emosi. Pasalnya pria didepannya ini sama sekali tak menanyakan keadaan nya. Malahan yang ia tanyakan adalah key.
Dito mengghela napas, lelaki itu tadi bertekad kuat untuk menemui putri kesayangannya. Sampai sampai ia nekad memasuki rumah yang 10 tahun lalu ia tinggalkan ini.
Mora masih menatap kearah lain dengan wajah merah. Sementara dito didepannya sudah berbalik melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu.
Mora menoleh menatap punggung ayahnya, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Rasanya ingin memeluk pria didepannya saat ini. Namun gengsi dan benci selalu melubuk dihatinya.
Bibir gadis itu bergetar sembari menahan tangis melihat dito yang kian menjauh dari hadapannya. Sekuat kuatnya ia menahan air matanya. Sebenci itu kah ayahnya pada dirinya, hingga memeluk atau sekedar melepas rindu pun tak bisa untuk dirinya.
Bik jum menatap nanar kepergian dito, ia melihat semua kejadian tadi. Wanita paruh baya yang sudah menelan pahit dan manis kehidupan di keluarga ini, sehingga secara detail ia tau masalah yang sering dihadapi oleh keluarga yang ia abdi kan selama bertahun tahun. Ia tahu seluk beluk lorong kehidupan dirumah ini.
Namun seberapa tahu dia akan semua itu bahkan kebenaran yang ada, ia tak bisa bergeming dan bahkan hanya bisa diam mengikuti alur yang akan kemana membawa keluarga ini untuk menepi di kehidupan yang akan datang.
Wanita paru baya itu kembali menghela napas, ia berbalik badan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan nya yang sempat terhenti.
Sementara diambang pintu, mora menangis dalam diam.
------------------
"dek..., adek, adek baik baik saja? " ucap seorang satpam di dekat apotik karena tak sengaja melihat key yang sempat terhuyung di trotoar jalan.
Key mengerjipkan matanya yang terasa berat, ia kemudian mengangguk sambil menengadahkan tangannya untuk memberi isyarat bahwa dia baik baik saja.
"owhh, baiklah ,lebih baik adek lebih berhati hati saja. Bapak kembali bertugas dulu" setelah menerima anggukan dari key satpam itu pergi untuk kembali melanjutkan tugasnya.
-------
Setelah menemui mora tadi dito langsung melajukan mobilnya untuk meninggalkan rumah itu, rumah seribu kenangan.
Lelaki paru baya tersebut merasa bersalah karena mengacuhkan mora, namun ia tak bisa berlama lama ada dikota ini, tujuan utamanya adalah memberikan hadiah pada putrinya, putri kecilnya dulu.
Dito melajukan mobil secara perlahan, melenggang di jalanan kota. Ia menatap kado kedua yang dibawahnya, itu untuk moraa namun dito lupa memberikannya, lelaki itu tersenyum getir sadar betapa pengecutnya dirinya sebagai seorang ayah. lelaki itu menoleh ke arah trotoar jalan yang mana ada seorang siswi yang sedang meringkuk seperti sedang kesakitan, kepalanya ia keringkupkan sehingga dito tidak bisa melihat wajah gadis tersebut.
Dito memberhentikan mobilnya berniat membantu siswi tersebut yang terlihat kesakitan, lelaki itu membuka pintu mobil.
Drtttt...... Drtttt..
YOU ARE READING
l'm Fine :) [ON GOING]
Teen FictionMemandang dunia itu sebenarnya menyenangkan bila tak tau apa yang ada di dalamnya.. Berharap kebahagiaan akan terpancar disana Berharap semua akan baik baik saja Berharap dunia akan berperilaku baik Itu pandangan ku, seorang AMANDA KEYLI AUREL, Gad...
part 26:)
Start from the beginning
![l'm Fine :) [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/256051848-64-k344650.jpg)