1

25 2 0
                                        

"AVILA!" Ada sebuah suara menggelegar yang tiba-tiba mengganggu mimpi indahku.

"AVILA SANCHIA BANGUN!" Suara itu semakin menggema memekakkan telinga. Bahkan kurasa ranjang yang sekarang kugunakan bergetar akibat suara menggelegar itu.

"Baiklah, kalau kau tidak mau bangun, aku akan menemanimu dan kembali tidur." Suara itu terdengar melembut. Tapi tunggu, kurasa ada sesuatu yang membungkusku erat dan tanpa aba-aba kurasakan beban berat diatas tubuhku. Hei ini berat sekali seperti ditimpa seekor badak yang mungkin saja seukuran gunung Tangkuban Perahu.

"Eungh..." Lenguhan tertahan lolos dari mulutku mengiringi pergerakan kecilku yang berusaha lepas dari situasi ini. Namun sesuatu diatasku malah asik berguling-guling seolah badak yang sedang asik berkubang.

Baiklah, tidak ada jalan lain. Aku harus menuruti perintahnya untuk bangun, "Bu... aku nyerah.. aku bangun nih," ucapku dengan suara serak khas bangun tidur.

Mataku yang masih lengket tak mau dibuka, kukucek dengan sedikit kasar, "Bu.. jam berapa sekarang?"

"Lihat saja sendiri!" Jawab ibuku cuek sambil berdiri dan menarik selimut yang tadi membungkusku. Segera saja mataku mengarah pada jam dinding yang tergantung manis di sudut ruangan, dan otomatis mataku dapat terbuka lebar begitu melihat angka yang ditunjukkan.

"Astaghfirullah, udah mau jam 7! Aku pasti telat!" Teriakku keras, dan tanpa dikomando kakiku langsung mengambil langkah seribu dan bergegas mandi.

***

Ini adalah hari pertama kembali bersekolah setelah dengan nikmatnya merasakan libur semester pertama. Bersyukur saat aku sampai, gerbang masih terbuka lebar mempersilakan semua orang masuk tanpa perlu berlari karena terlambat. Tak ada yang spesial selama aku bersekolah disini. Tidak tempatnya, ruangannya, bahkan orang-orangnya. Sudah banyak aku mendengar cerita cinta disana-sini, membuat banyak yang senang bersekolah. Bukan untuk mencari ilmu, namun mencari gebetan baru, alias cari perhatian disana sini.

Jangankan gebetan, teman dekat pun aku tidak punya. Bukan karena aku anak cupu yang sering dirisak atau bahkan anak sombong perisak, melainkan belum ada saja yang cocok denganku. Semuanya masih kurasakan hanya seperti serangga parasit yang datang mendekat hanya saat membutuhkan, dan akan pergi begitu bertemu inang baru. Tapi entah kenapa, terkadang masih ada yang mau mencoba dekat denganku. Semoga saja dia bukan 'serangga parasit' seperti yang kumaksud.

"Avila, kita duduk sebangku ya!" Ucap seorang gadis bernama Vita sambil melambaikan tangannya dari jauh kearahku. Kulihat bangku nomor dua dari depan dengan posisi tepat di depan meja guru. Ini bukan tempat yang cocok saat pelajaran matematika, fisika ataupun kimia. Namun untuk mengapresiasi usahanya berangkat pagi dan memilih tempat duduk, aku hanya bisa mengangguk dengan wajah terpaksa.

***

Baru hari pertama masuk sekolah, di jam kedua pelajaran guru-guru sudah merasa rajin masuk ke kelas bergantian. Rasanya kini aku bisa menghembuskan nafas lega setelah mendengar bel pertanda pulang. Dengan Langkah gontai, kuhampiri sebuah bangku panjang di taman sekolah, menunggu semua siswa yang berebut keluar gerbang pergi. Sungguh, aku tidak suka berdesakan ditengah cuaca panas ini. 

Pohon rindang yang melindungiku dibawahnya juga seakan menyetujui keputusanku dan memberikan sepoi sepoi anginnya. Mataku yang asik menatap rindangnya pohon tak sengaja menangkap sesosok gadis yang sedari tadi tak kusadari keberadaannya. Tunggu, bukankah dia Chiara Aneila si gadis sempurna yang sering dibicarakan orang-orang?

Mataku sedikit menelusuri sosok gadis itu yang masih tenang membaca buku digenggamannya, tidak terusik sama sekali dengan bisikan orang orang yang membicarakannya atau bahkan beberapa anak laki-laki yang mencoba berbicara dengannya. Samar kudengar salah satu anak laki-laki yang mendekatinya mengajaknya pulang bersama dengan menyebutkan arah jalan rumah Chiara yang katanya searah dengannya. Hei, rumahnya tidak jauh dari rumahku ternyata.

Dibalik Dunia RemajaStories to obsess over. Discover now