00. - Prolog

65.4K 1.1K 8
                                        

Dalam bentang rasa dan takdir, terjadi pertarungan tanpa suara antara puncak yang membeku dan tetes-tetes kecil yang jatuh setiap pagi. Everest menjulang tanpa ragu, menyimpan beku dari ribuan tahun silam, percaya bahwa tinggi berarti tak tersentuh dan keagungan terletak pada jarak serta sepi yang dijaga utuh.

Namun Embun juga tidak gentar, ia tidak memanjat, tidak menuntut, dan tidak menggugat, ia hanya hadir lalu diam-diam melekat untuk menghapus dingin setitik demi setitik hingga batu pun mulai mengingat hangat.

Maka dalam lakon sunyi semesta, siapa sebenarnya yang lebih kuat, yang berdiri tanpa goyah, atau yang datang tanpa dipanggil namun selalu meninggalkan jejak?

Di antara dua kutub itu, terjadi perang sunyi yang tidak bisa dilihat mata, tapi hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah jatuh dalam diam, karena dalam kisah mereka kekuatan bukanlah tentang siapa yang paling keras, melainkan siapa yang paling bertahan meski tahu akhirnya bisa saja hilang, dan mungkin cinta memang seperti Embun yang rapuh dan sementara, namun cukup untuk menumbuhkan keraguan di dalam sesuatu yang paling beku seperti Everest.

It is not the storm that softens the mountain, but the silent dew that dares to return each dawn. He was Everest, made of silence and stone. Yet she was the Dew— brief, but brave enough to touch him.

EVERESTWhere stories live. Discover now