Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

Musim Semi Manusia

29 6 0
                                        

"
Pada setiap kemarau, akan berakhir pada pertemuannya dengan penghujan, begitupun dengan sebuah kebekuan rasa yang akan dengan pasti kembali merasakan kehangatan musim semi .
"

Segalanya seterang hari tanpa awan, untuk seorang laki-laki yang begitu mencintai wanitanya, bagaimana bisa sedikitpun menemukan cela? Baginya, kekasihnya adalah arti kemurnian sebenarnya. Baginya, wanita itu adalah segala makna terbaik di seluruh semesta. Mencintainya sama dengan mensyukuri keindahan semesta, memeluknya sama dengan memeluk dunia, menepis kesuraman di hari-harinya adalah sebuah misi penyelamatan dunia. Bagaimana tidak? Di mata laki-laki itu, dunia tampak suram ketika wanitanya muram, dan dunia adalah kejahatan sebenarnya jika membuat wanita itu meneteskan air mata. Tidak ada sedikitpun hal yang menjadi celah untuk mencela. Wanitanya sempurna, hanya tidak begitu menarik ketika aura suram mengelilingi dirinya. Bagi laki-laki itu, menumbuhkan senyum tersembunyi dan tawa yang hendak binasa dari kehidupan wanita itu adalah misi yang bukan sekadar bertujuan untuk menjatuhkan hati, namun sebagai pencapaian terbesar dalam hidup ini.

Segalanya diawali ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Segalanya indah, walau untuk menjadi mahasiswa di sana tidaklah mudah. Baginya, itu adalah langkah awal untuk menggapai masa depan yang cerah, walau tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang punya caranya sendiri mencapai kegemilangan. Benar, setiap orang memiliki waktu dan jalan yang berbeda untuk mencapai puncak hidupnya. Ia mengerti, dan tidak pernah menjadi sombong atas pencapaiannya.

Laki-laki itu bernama Bara Dewa Mahesa, biasa dipanggil Bara. Seorang laki-laki jawa berperawakan tegap dengan tinggi badan yang proporsional, membuatnya menarik dengan tampilan yang terawat. Saat ini, seperti biasa ia sedang duduk di meja taman kampus, dengan buku yang terbuka dalam genggamannya, dan bibir yang terkadang tidak sengaja ikut berbisik tanpa suara. Sedang menunggu seseorang untuk keluar dari sebuah ruang kelas yang tidak jauh dari sana. Rutinitas yang tidak pernah bosan ia lakukan, bagaimana tidak, yang ia tunggu bukan sembarang orang, ia adalah seorang wanita yang Bara putuskan untuk menemaninya dalam susah senang kehidupan kedepannya.

Usianya saat ini dua puluh tahun, terlalu muda bagi seorang laki-laki berpikir tentang pernikahan, dan ia memang belum siap secara mental ataupun finansial. Ia bukan seorang laki-laki yang gemar berbohong hanya untuk menyenangkan hati. Ketika pujaan hati menanyai tentang masa depan yang begitu dinantikan, ia akan menyatakan banyak kebenaran. Untuk kemudian dibalas rengut imut yang selalu membuatnya kewalahan. Wanitanya selalu menggali sebuah kepastian, dan yang bisa Bara lakukan hanyalah berjanji, karena pada dasarnya ia belum punya apa-apa untuk dapat melaksanakan janjinya. Walau tentu janjinya bukanlah kebohongan yang disengaja untuk meraih keuntungan belaka dari sebuah hubungan. Ia mungkin bukan manusia yang baik, ia bisa buruk, tapi tidak jahat.

Dedaunan yang mengering rontok dari dahannya, jatuh tepat di tengah-tengah buku yang sedang ia baca. Daun kering, memang waktunya untuk gugur, namun gugurnya membawa manfaat bagi generasi selanjutnya. Daun-daun tua akan menjadi pupuk untuk dedaunan yang lebih muda. Mirip seperti bagaimana ia rela menggugurkan banyak hal untuk menumbuhkan secercah cahaya di balik kesuraman wanitanya. Tidak ada yang salah dengan cinta, dan tidak ada yang bisa memaksakan bagaimana cinta itu ditunjukkan. Beginilah cara Bara mencintai, sepenuh hati, tulus yang tidak perlu ditanya, dan pengorbanan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Bara!" panggil seseorang dari kejauhan. Bara menoleh untuk melihat sosok yang tidak asing, anak manusia yang telah menjadi teman yang begitu setia dalam memberikan banyak nasihat. Melihatnya, Bara mengungkap senyum tulus yang hangat.

"Kevin." Balas Bara dengan mengangkat tangannya dan anggukan pelan. Memberi kesan tingkah laku yang berkelas. Walau, latar belakang Bara bukanlah keluarga dengan kekayaan berlimpah, bukan berarti ia tidak dapat mempelajari bagaimana cara berlaku dengan baik. Lebih lagi semuanya karena bantuan Kevin, menjadi teman diskusi mengenai banyak hal yang tidak sekadar obrolan kosong khas anak muda sekarang. Diskusi yang terbagi selalu menjadi alasan mereka semakin rekat setiap waktunya. Walau Bara tidak tahu bahwa cintanya untuk wanita itu telah merenggangkan segalanya.

Aku PulangHistórias para pegar e não largar. Descubra agora