Previous Page of 40Next Page

WIRO SABLENG

spinner.gif

PENDEKAR DARI GUNUNG NAGA 1

PENDEKAR DARI GUNUNG NAGA 2 

LEMBAH MERAK HIJAU yang terletak di propinsi 

Ciat-kang merupakan sebuah lembah subur 

dengan pemandangan yang indah. Lebih-lebih 

karena di sebelah timur lembah ini terdapat daerah 

persawahan yang luas dan pada saat itu padi yang 

ditanam telah masak menguning hingga kemanapun 

mata memandang, seolah-olah hamparan permadani 

emaslah yang kelihatan. Bila angin bertiup, padi-padi 

masak menguning itu bergoyang melambai-lambai 

mengalun lemah gemulai 

Dipagi yang cerah ini diantara desau tiupan 

angin lembah yang segar terdengarlah suara tiupan 

seruling yang merdu sekali. Barang siapa yang 

mendengarnya, pastilah akan tertegun dan mema- 

sang telinga baik-baik menikmati suara seruling itu. 

Siapakah gerangan yang meniup seruling tersebut? 

Tentunya seorang seniman pandai yang dapat meng- 

gambarkan keindahan pemandangan alam sekitar- 

nya lewat hembusan napas yang disalurkannya ke 

dalam lobang seruling. 

Tetapi adalah diiuar dugaan karena kenyataan- 

nya si peniup seruling bukanlah seorang seniman, 

bukan pula seorang dewasa. Melainkan seorang 

anak gembala yang baru berusia tujuh tahun dan 

duduk di atas punggung seekor kerbau besar tegap 

berbulu bersih dan berkilat. 

Perlahan-lahan kerbau besar itu melangkah me- 

nyusur tepi sawah, memasuki lembah Merak Hijau, 

kemudian mendaki bibir lembah di sebelah selatan. 

Di atas punggungnya bocah berusia tujuh tahun itu 

demikian asyiknya meniup seruling hingga dia tidak 

perduli lagi ke mana pun kerbaunya membawanya. 

Akan tetapi ketika binatang itu sampai di atas 

lembah sebelah selatan serta rnerta si bocah meng- 

hentikan permainan serulingnya. Mulutnya ternganga 

dan sepasang matanya yang bening melotot begitu 

dia menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dua 

sosok tubuh yang hanya merupakan bayang-bayang 

hitam dan putih dilihatnya berkelebat hebat, terlibat 

dalam suatu perkelahian yang gencar dan seru. 

Adalah aneh... memikir anak itu...  

begini indah dan segar, ada orang berkelahi. Mem- 

perhatikan dengan mata tak berkesip lama-lama 

membuat si bocah menjadi pusing sendiri. Beberapa 

kali dia memejamkan matanya, dibuka kembali, di- 

pejamkan lagi, dibuka lagi. Ketika dia membuka 

sepasang matanya untuk yang kesekian kalinya, 

dilihatnya bayangan hitam mendesak bayangan pu- 

tih dan tahu-tahu satu tendangan dahsyat dilancar- 

kan oleh sosok tubuh bayangan hitam. Tapi bayang- 

an putih dapat mengelak. Tendangan maut itu tak 

sengaja terus melabrak kepala kerbau yang ditung- 

gangi anak tadi. 

Terdengar lenguhan keras. Kerbau besar itu 

mencelat sampai beberapa tombak, angsrok di ta- 

nah, mati dengan kepala pecah. Anak lelaki tadi 

terpelanting dan nyangsrang dalam semak-semak. 

Pakaiannya habis koyak-koyak dan kulitnya baret 

luka-luka. Tapi suling Kesayangannya masih ter- 

genggam di tangan kanannya. Dengan susah payah 

dia keluar dari semak-semak itu sambil mengomel 

marah ketika mengetahui apa yang terjadi dengan 

kerbau tunggangannya. 

Di depan sana akibat kejadian yang tak di- 

sangka-sangka itu, dua orang yang tadi berkelahi 

mati-matian sama melompat mundur. Perkelahian 

terhenti dan keduanya memandang ke arah si bocah 

dan kerbaunya. 

Kini barulah anak lelaki itu dapat melihat dengan 

jelas sosok tubuh dan tampak kedua bayangan hitam 

dan putih tadi. 

Di depan sebelah kanan tegak seorang kakek- 

kakek berjubah hitam berkepala botak plontos yang 

kilat-kilat ditimpa sinar matahari. Sepasang alisnya 

tebal, kumisnya jarang tapi tebal-tebal dan panjang. 

Tampangnya persis seperti anjing air! 

Di sebelah kiri berdiri pula seorang kakek-kakek 

Previous Page of 40Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended