CHAPTER TWELVE

1.4K 43 0
                                    

"Permisi Bu, kami ingin menjalankan hukuman", ucap Titan sambil membawa karung dan topi kerucut.

"Hukuman?", jawab Bu Qarnila sambil memasang kacamatanya.

"Iya Bu, hukuman hujan-hujanan kemarin", sambung gue.

"Kalian ngomong apa ini? Sudah sudah, masuk ke kelas", dengan tatapan aneh, gue dan Titan keluar dari ruang kepsek dan masuk ke kelas masing-masing.

-----

Aneh banget sih Bu Qarnila, kemarin sudah marah-marah. Tapi, pas minta hukuman malah lupa. Duh.

"ZIMORA PANTEGA!", seseorang memanggil namaku, gue langsung menoleh kaget, "Jelaskan apa yang ibu sampaikan tadi!"

Sial.

"Kalau kamu tidak mau belajar ipa, jangan masuk di saat pelajaran ibu! MENGERTI?!", gue menganggukkan kepala, semua mata tertuju padaku.

Gue cuma diam, awkward banget dah.

-----

Saat bel istirahat, seperti biasa. Gue dan Gita berlarian ke kantin, gue gakmau kelaperan gara-gara telat ke kantin.

"Bu gado-gado sama teh dingin, ya", ucapku sambil memberi uang 15 ribuan. Setelah menerima pesanan, gue dan Gita duduk di meja paling ujung.

"Eh gimana lo dengan Azrier?", tanya gue basa-basi.

"Udah putus"

"Yah jangan jutekan dong", gue mencolek pipi Gita.

"Ih genit lo jijay! Hush hush", Gita menepis tangan gue, "Eh ada Azrier", Gita memasang muka sok cool dan mata sayu.

Omg Gita..

"Hei!", gue menoleh, kalian udah pasti tau dia siapa.

"Haii, duduk duduk", Titan duduk di sampingku.

"Gado-gado, ya? Wah, mau dong?", Titan membuka mulutnya berharap diberi makanan.

"Enak aja, beli dong!", Titan yang terlihat ngambek -maksudku SOK ngambek- pergi meninggalkanku.

-----

Boston calling...

"Hai Bos, eh kok Bos sih. Ton aja deh, yakali gue panggil lo Bos", tiada balasan dari Boston selama beberapa detik.

"Hallo Zee?", omg.. Bukan Boston, suara seorang wanita, "Ini mamanya Boston", malunya gue.. Apa kata dunia, "Kamu ada liat Boston?"

"Err.. Tidak te, emang Boston kemana?"

"Kalau tante tau kenapa tante nanya kamu Zee.."

Oh iya, duh. Stupid Zimo.

"Err.. Iya te hehe, mm.. Emang Boston menghilang dari kapan?"

"Dari tadi pagi, katanya mau beli sarapan, tapi sampai sekarang enggak pulang. Enggak bawa hp lagi"

"Ooh.. Udah lapor polisi te?"

"Belum, tadinya mau lapor setelah habis telepon kamu, yaudah deh. Makasih Zee"

Call ended.

Boston hilang? Gue antara kaget dan ngakak nih. Emang dia diculik? Kalo dia hilang, nanti dicarinya apa? Anak hilang? Masa brondong hilang?

Zimo Zimo Zimo! Stop that!

Gue gak bisa tinggal diam, gue telepon Gita. Eh enggak, gue bilang dulu ke mama papa nih.

Reaksi mereka seperti ini :

Mama : Boston hilang?! Yaampun bagaimana bisa? Boston amnesia ya?

Papa : Apa? Shh.. Diamlah Zee, nanti papa ngomong lagi.

Gita : WHAT?! HAHAHAHAHA!! Omg, kenapa dia bisa? Maksud gue, ya..

Titan : Boston? Maksud lo? Lo mau pindah ke Boston?

Apakah ini aku atau emang misteri kehilangan Boston ini.. LOL.

Okay, gue HARUS cari Boston. Tapi sama siapa? Ini sudah malam.

Ada sms.

Zee? Kok smsnya gak di bales? Yaudah, kalau emang Boston hilang. Gue bantu cari mau? Walaupun gue gaktau Boston itu siapa.
-Titan

Akhirnya.. Tanpa memperpanjang waktu, gue membalas sms Titan.

Makasih! Gue ke rumah lo ya..
-Zimo

-----

Tok tok..

"Permisi..", seseorang membuka pintu rumahnya, "Ayolah? Gue udah siapin fotonya nih", gue memamerkan puluhan lembar poster Boston.

Titan melihatku tanpa ekspresi, lalu melihat lembar foto Boston. Titan masuk kembali ke rumahnya tanpa menutup pintu.

"Ayo", Titan menarik tanganku menuju parkiran mobil.

"Menurut lo, Boston kemana?", gue menatap Titan penuh harapan.

"Gue gaktau, kita ke kantor polisi aja dulu", gue cuma mengangguk.

Saat sudah sampai, Titan turun dan menyuruh gue untuk tetap di mobil. Gue sih iya iya aja, mungkin karena udah malam.

-----

"Gimana?", tanya gue saat Titan udah masuk ke dalam mobil.

"Lagi di proses, mendingan kita tempel posternya di pohon atau tempat yang sering di lewati orang"

"Tapi kan ini udah malem Tit?"

"Jadi lo maunya besok?", gue mengangguk dan Titan menjalankan mobilnya, ke rumahku mungkin, "Boston itu... Siapa lo sih?"

Spontan gue menoleh dan melotot ke Titan.

"Dia.. Pemandu diving gue. Emang kenapa?"

"Lo udah deket banget ya sama dia?"

"Ya.. Lumayanlah", ku lihat ekspresi Titan yang datar, horror banget.

OPERA LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang