Karena aku menyayangimu, tanpa karena.
Cinta yang tulus, tak akan ada kata karena atau alasan lain mencintainya. Karena pada dasarnya, pilihan hanya ada dua. Apa? Mencintai dan di cintai. Ketika itu terjadi, cinta menjadi kunci besar yang tak bisa di pungkiri. Kedua insan tanpa sadar saling mencintai dan menyayangi, namun tak bisa mengungkapkan melalui kata, melainkan ekspresi dan ketegaran hati. Kita tak pernah tahu, mana yang mencintai, dan mana yang di cintai, karena pada dasarnya sama. Sama-sama cinta dan memiliki rasa hati.
Seperti Maharani, ia belum menyadari apa yang ia rasakan saat ini, tapi ketika ia dekat dengan Fajar, ia selalu merasa nyaman. Apa itu cinta? Oh, belum tentu. Bahkan Rani belum bisa memastikan. Rasa nyaman membuat hati dan pikirannya selalu tenang. Di saat ia dilanda kesulitan, Fajar orang pertama yang menyelematkan dirinya dari kematian. Begitu lah, simbiosis mutualisme, saling menguntungkan yang berujung pada cinta di dasar hati.
"Gue tahu, gue emang cakep. Jangan di lihat terus," ucap Fajar dengan mata terpejam.
Rani yang menyadarinya pun langsung mendorong Fajar hingga terjatuh di lantai. Fajar pun memegang pinggang kesakitan, sementara Rani tertawa puas.
"Kurang ajar." Fajar pun menatap Rani dengan penuh rasa sakit. "Lo nyakitin badan gue, gimana kalau pacaran nanti? Lo pasti sakiti hati gue terus."
"Idih, ketua kelas alay!" ketus Rani bergidik ngerih.
Fajar yang melihat Rani kembali pun hanya tersenyum, ya, walau wanita itu belum kuat untuk berdiri. Kondisinya yang lemah tak berdaya sekarang, membuat hati kecil Fajar nyeri.
"Lo makan dulu, ya," ucap Fajar sembari mengangkat satu mangkuk berisi bubur.
Rani yang melihat itu langsung menutup bibirnya menggunakan tangan. "Enggak! Orang gue gak sakit, kenapa harus makan bubur?"
"Lo emang gak sakit, tapi emang lo mau di rumah sakit terus? Kalau gue, sih, ogah. Apa lagi bau obat-obatan," tanya Fajar dengan menatap ke sekeliling.
Fajar berbicara tanpa menyadari, bahwa dirinya yang sekarang pun terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Entah sampai kapan, ia akan terbebas dari koma yang membuat dirinya dilihat sebagian orang saja.
"Iya, gue makan." Rani pun membuka mulutnya, bersamaan dengan itu Fajar memasukkan sendok berisi bubur. Rani pun melihat wajah Fajar terutama bibir Fajar yang selalu pucat. "Fajar, gue mau tanya sesuatu boleh?"
Fajar yang sedang mengaduk bubur menghentikan aksinya. Ia menatap Rani dengan penuh tanda tanya. Alis yang terangkat pertanda bahwa ia menyetujui ucapan Rani, walau penuh tanda tanya.
"Sebenarnya lo siapa, sih?" Pertanyaan begitu saja keluar dari mulut Rani.
"Gue?" Fajar menunjuk dirinya sendiri, di iringi oleh anggukan kecil dari Rani. "Gue orang, lah. Ya, kali, alien."
Wajah serius milik Rani berubah sebal. Bagaimana bisa, Fajar bercanda saat dirinya menanyakan hal yang begitu serius seperti ini. Ia hanya penasaran, dan selama ini ia memendam itu semua sendiri. Beribu macam pertanyaan seakan bersarang, membuat hati dan pikirannya menjadi tak tenang.
"Gue serius." Rani mengubah ekspresi wajah lagi. "Beribu-ribu macam pertanyaan bersarang di otak gue, tentang siapa lo? Gue penasaran aja, apa selama ini hanya gue yang bisa lihat lo? Bukan hanya Mama gue, yang bilang kalau lo gak ada, tapi sopir, pembantu, Papa, memiliki argumen yang sama. Sekarang gue tanya, siapa lo?"
Fajar yang mendengar itu hanya merespon diam. Apa ia harus menjelaskannya sekarang? Apa ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya? Apa Rani akan menerimanya? Pertanyaan itu yang selalu menjadi alasan, kenapa ia tak mau memberi tahu Rani.
"Lo benaran mau tahu siapa gue?" tanya Fajar menaruh mangkuk bubur di atas nakas.
"Iya, jelaskan aja. Gue gak akan pergi, karena gue penasaran."
Fajar pun menatap Rani dalam. Berulang kali ia menarik napas, ketika ia ingin menjelaskan, lehernya seakan tak bisa bersuara, di ikuti oleh napasnya yang menjadi tak bisa di kontrol. Ada sesuatu yang seakan mencekik lehernya, membuat ia kesulitan untuk bernapas.
Fajar pun mencoba meraih tangan Rani, namun ia jatuh dari atas kursi, ketika ia meronta-ronta karena sulit untuk bernapas, Rani yang melihat itu berusaha untuk bangun dari posisinya sekarang, walau rasa sakit menghantam.
"Ran ... Tolong gu--e." Fajar pun kembali meronta-ronta. "Pergi ke ruangan mawar, ruangan yang ada di samping ruangan lo sekarang. Help me please!"
Ekspresi kesakitan Fajar membuat Rani tak tahu harus berbuat apa. Fajar seakan tak bisa bernapas, bahkan berulang kali pria itu meronta-ronta membuat Rani tanpa pikir panjang melepaskan infus yang ada di tangannya.
"Aw ... Lo tahan, gue ke sana sekarang." Rani beranjak turun, memastikan bahwa kondisi Fajar baik-baik saja, dan berjalan dengan rasa sakit untuk menuju ke salah satu ruangan yang Fajar maksud.
"Rani, kamu mau kemana?" tanya Evi mencegah tangan Rani, namun segera di hempas begitu saja.
"Jangan ikut campur," ucap Rani dingin kemudian berusaha untuk mempercepat langkahnya, ketika raungan Fajar bisa ia dengar.
Rani berhenti, ketika pintu ruangan bertuliskan mawar. Dengan segera Rani membuka pintu ruangan, Rani mematung di tempatnya, ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Delima yang tak lain kakak kelasnya sedang mencekik leher seorang pria. Tunggu, siapa pria itu? Rani pun tanpa basa-basi langsung menghempaskan tubuh Delima, membuat wanita itu terpental.
"Lo gila? Ini perbuatan kriminal!" teriak Rani pada Delima yang membatu di tempatnya.
Tanpa basa-basi atau menjawab ucapan Rani, Delima keluar dan menabrak Evi yang juga melihat kejadian itu. Ketika Rani memutarkan badannya ke arah pria yang baru saja di Delima cekik, Rani menutup mulutnya tak percaya. Bahkan kaki Rani seakan tak bisa menampakkan lagi di lantai yang dingin. Ketika tubuhnya ingin ambruk, Evi dengan cepat menahan tubuh anaknya.
Tangan Rani pun menunjuk pada seorang pria yang juga sama-sama terbaring lemah dengan alat medis juga alat batu pernapasan yang masih terpasang. Rani menggeleng tak percaya. Fajar? Ternyata Fajar masih terbaring lemah di ranjang.
"Astaghfirullah ..." Rani menggeleng lemah sembari meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa?" Evi bertanya kemudian menatap seorang pria yang ia yakini berusia sama dengan anaknya sedang terbaring lemah tak berdaya. "Siapa dia?"
Rani pun melepaskan dekapan hangat milik Evi, memeluk lemah tak berdaya milik Fajar yang terbaring lemah. Rani seakan sudah paham, pantas saja semua orang memandangnya gila. Fajar memang masih bernyawa, namun yang selama ini menemani dirinya adalah raga yang terpisah, bukan tubuh aslinya.
"Fajar ... Kenapa lo gak bilang gue? Lo emang nyata, tapi gak bisa dilihat semua orang." Rani pun menangis meraung-raung. "Kenapa lo gak bilang? Jadi ini, alasan semua orang anggap gue gila, alasan yang mendasari fakta, bahwa lo benar-benar cuman makhluk halus yang gak bisa dilihat semua orang."
"Maksudnya apa, Rani?" tanya Evi tak mengerti.
Rani menatap Evi dengan derai air matanya. "Ini Fajar, Ma. Rani gak gila, karena Fajar yang selama ini menemani Rani bukan Fajar yang nyata, tapi hanya raga."
Apa ini yang Fajar sembunyikan dari dirinya? Kenapa Fajar tak memberi tahunya? Rani bersyukur, karena Fajar selamat dan tak meninggalkan dirinya.
#TBC