Purnama bersinar terang ingin memamerkan keindahannya, begitu juga bintang yang sangat padu saat bertabur di gelapnya bentangan awan.
Malam yang indah ini terasa begitu menyakitkan untuk Nesya, gadis yang kini merenungi nasibnya lantaran fakta yang didengarnya tadi sore terasa menusuk perasaannya, fakta dimana jika Larisa adalah pacar lelaki yang sangat dicintainya.
Nesya bukanlah gadis yang akan membiarkan apa yang harusnya menjadi miliknya jatuh begitu saja di genggaman gadis lain, Farel sudah menjadi obsesinya, dan bagaimanapun caranya Farel harus jatuh kembali ke genggamannya, apapun pasti akan gadis itu lakukan.
"Tinggal tunggu tanggal mainnya aja Ris, gue gak bakal relain Farel sama Lo." Ucap Nesya yang kini dengan tampilan berantakan di kamarnya, bahkan kamarnya sudah tak berbentuk lagi.
°°°
Sang surya mulai menampakkan dirinya, memberi tahu pada penghuni bumi jika pagi sudah menyapa, suara kicauan burung yang baru saja keluar dari sarangnya terdengar begitu menenangkan ketika masuk indra pendengaran.
"Pagi,,Tante Wirna." Sapa Nesya kepada Wirna yang tengah menyiram bunga di halaman depan, gadis itu berjalan ringan dari rumahnya.
"Loh, Nesya kan?" Ucap wanita paruh baya itu sedikit terkejut dengan gadis yang menyapanya.
"Hehe iya Tante, baru pindah kemaren Tan," jelas Nesya ramah seperti biasanya.
"Sebelumnya pindah kemana kamu? gak pernah ada kabar."
"Ikut Mama Papa ke Singapura, oh ya Farelnya belum berangkat kan Tante?" gadis itu sangat berharap jika Farel masih di dalam rumah.
Bunda Farel menatap sejenak seragam yang dikenakan gadis dihadapannya, ia mulai faham jika Nesya satu sekolah dengan putranya, mengapa Farel tak pernah berbicara padanya jika Nesya kembali, padahal dulu lelaki itu sering menceritakan Nesya padanya.
"Belum Nes, ayok ke dalam dulu, Tante panggilin."
Nesya memilih duduk di sofa ruang tengah keluarga Wijaya, tata letak rumah ini masih sama seperti dulu saat dirinya sering menghabiskan waktu disini, hanya saja beberapa perabotan baru membuat rumah ini tampak lebih mewah dari sebelumnya.
Wirna yang hendak memanggil putranya ter-urungkan lantaran Farel sudah terlihat dari anak tangga dan mulai berjalan mendekat.
"Dicariin Nesya Rel, mungkin mau ngajak berangkat bareng." Terang Bundanya yang masih berdiri menatap dua remaja itu.
Nesya mulai bangkit dari duduknya dan menatap Farel yang kini terlihat sangat tampan dengan muka coolnya.
"Rel, aku berangkat bareng kamu ya?" tanya Nesya dengan penuh harap.
Farel tidak habis pikir dengan Nesya, gadis ini sangat berbeda, tidak seperti dulu, gadis yang dulunya tidak suka meminta bantuan orang lain, gadis pemalu, baik, tidak memaksa kehendak orang lain dan karena semua sikapnya itu Farel merasa nyaman dengan Nesya, namun tidak untuk saat ini, dia berubah total dan menjadi gadis yang tidak tau malu, selalu berusaha agar keinginannya bisa seperti yang diharapkan.
Entah apa yang membuat gadis masa lalunya berubah.
"Sorry gue bawa motor, mau jemput Larisa." Ucap Farel yang mencoba mengingatkan pada Nesya jika dirinya sudah mempunyai Larisa, dan segera berpamitan pada Bundanya.
Perasaan Nesya kini kembali hancur, ia sudah rela jalan kaki dari rumahnya ke sini agar bisa berangkat bersama Farel namun seperti inilah hasilnya, rasa bencinya terhadap Larisa perlahan mulai meningkat seiring perubahan sikap Farel padanya.
°°°
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, hanya tinggal beberapa menit bel pulang akan berbunyi.
Suasan kelas begitu tenang, para murid tengah fokus menyimak apa yang tengah dijelaskan Mrs. Farah.
Satu Minggu lagi UAS akan segera hadir menyambut penghuni Nusa Bangsa.
Gerombolan siswa perlahan mulai meninggalkan ruang kelas, dan bergegas untuk pulang, wajah yang awalnya terlihat segar kini tergantikan dengan wajah lelah, letih saat sore hari.
Larisa yang hendak menuju parkiran membelokkan langkahnya menuju toilet yang dekat dengan ruang kelasnya.
Gadis itu menaruh tas punggungnya ke dalam lemari loker yang tersedia, kunci lemarinya dibiarkan begitu saja, karena ia berpikir hanya sebentar saja, dan keadaan sekolah juga sepi tidak akan ada yang mengambil tas dan barang didalamnya, sebelah kakinya mulai masuk perlahan ke kamar mandi, baru saja Larisa akan berbalik menutup pintu, namun sebuah dorongan keras membuatnya jatuh terduduk lantaran licinnya lantai, pintu tertutup secara kasar menandakan seseorang baru saja menguncinya dari luar.
"Akkkh,,," rintih Larisa ketika lututnya terbentur keras dengan dinginnya lantai kamar mandi, rasa ngilu langsung menjalar di area kakinya.
"Heee,,,Lo siapa sih nyari gara-gara sama gue." Teriaknya seraya mulai bangkit dari jatuhnya.
Larisa mencoba membuka pintu, dan hasilnya nihil, pintu tertutup begitu rapat, susah sekali untuk dibuka, gadis itu tak sempat melihat siapa pelakunya.
"Wooy,,, bukain gak! Resek banget sih Lo." Gadis itu tak henti-hentinya memukul pintu.
Tawa ringan terdengar dari bibir seorang gadis yang sudah mulai meluapkan rasa kesalnya.
"Rasain Lo, ini baru permulaan Ris belum ada apa-apanya!" Ucap Nesya, gadis itu mulai berjalan kearah loker.
"Bego! Kenapa kuncinya gak Lo ambil." Nesya dengan tidak sabar membuka tas Larisa, dan mengambil ponsel didalamnya, sebuah keberuntungan berada di pihaknya saat ini, karena ponsel Larisa tak bersandi dan memudahkan gadis itu untuk mengotak-atiknya.
Jemari Nesya mulai bermain-main di sana, mengetikkan sebuah pesan kepada lelaki yang kini menjadi obsesinya.
Larisa
Rel, gue pulang sama Clara, jadi gausah nungguin!
Senyuman miring terbit dari garis wajah Nesya, gadis itu mulai melangkahkan kakinya dengan cepat menuju parkiran.
"Reeel," Teriak Nesya sebelum Farel menancapkan gas motornya.
"Gue ikut pulang yaah?"
Lelaki berwajah dingin itu kini tak punya alasan untuk menolak Nesya, Farel akhirnya menganggukkan kepalanya menuruti permintaan gadis masa lalunya.
Tangan Nesya terulur memeluk pinggang Farel, namun segera mendapat tepisan dari sang pemilik, Farel tak ingin disentuh gadis lain selain kekasihnya.
"Megang, gue turunin!" ancam Farel, dan segera melajukan motornya.
Nesya hanya menghembuskan nafas kasar, menatap miris nasibnya, ia hanya mampu berpegangan di motor Farel, lelaki yang dulunya membiarkan Nesya memeluknya sekarang ia sudah tidak bisa melakukannya lagi, dia rindu dengan semuanya, sekuat tenaga tetasan air matanya ia tahan, gadis itu tak ingin terlihat cengeng di depan Farel.
°°°
Perlahan perputaran bumi membuat matahari akan segera tergantikan dengan sang purnama, senja sudah mulai terlihat dan akan segera usai.
Seorang gadis yang kini sudah tak memiliki tenaga untuk bersuara lagi, lantaran sejak tadi teriaknya terasa seperti angin lalu dan tak ada yang mendengarnya, pencahayaan di kamar mandi sudah mulai remang-remang lantaran saklar lampu yang berada di luar ruangan membuat Larisa tak bisa menyalakannya, dan ponselnya yang berada di loker membuat gadis itu tak memiliki harapan untuk keluar, bahkan ia sendiri bingung mengapa Farel tak mencarinya sejak tadi, apakah lelaki itu meninggalkannya begitu saja.
Suara gemuruh mulai terdengar, kilatan petir membuat cahaya telihat begitu menyeramkan, sepertinya rintikan air akan membasahi tanah, padahal baru saja senja menghilang, namun sepertinya sang purnama tak ingin menyapa bumi malam ini.
Larisa hanya mampu terduduk lemah sesekali meringis menahan ngilu di kakinya, kedua lututnya terasa berdenyut, mungkin sekarang sudah memar.
Cahaya dalam kamar mandi sudah sepenuhnya gelap, sesekali terang lantaran pantulan petir dari jendela yang letaknya tinggi dari jangkauannya, suara angin berhembus begitu kencang di sertai derasnya hujan, Larisa mulai ketakutan, ia sendiri di sini, gadis itu hanya mampu mendekap kedua kakinya, matanya ia tutup rapat-rapat, setiap kali suara guntur terdengar gadis itu menjerit ketakutan, perutnya sudah mulai terasa perih lantaran belum makan sejak tadi siang, badannya sudah mulai gemetar lantaran sudah tidak ada tenaga dan menahan isakannya, sebenarnya Larisa bukan tipikal gadis penakut, namun situasinya berbeda kali ini, ia hanya seorang diri di kamar mandi sekolahnya dengan tidak ada pencahayaan disertai suara guntur dan kilatan petir yang saling bersahutan, hembusan angin meliukkan pohon-pohon rindang membuat situasi menjadi semakin horor, siapa yang akan tahan dengan situasi ini.
Apakah ia akan terjebak disini sampai pagi? Apa dia akan bermalam dan tidur di kamar mandi yang menyeramkan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui dan terus berputar di pikirannya.
***
To be continued :)
Maaf baru bisa up
Penasaran dengan lanjutannya? Vote dan komentar sebanyak-banyaknya dan aku akan cepet up.
Sedih sih liat yang baca sama yang vote beda jauh bahkan jauh dari kata separuhnya, dan ini faktor utama ku jadi males up :'
Author ngetik panjang cuma minta kalian menghargainya dengan vote dan komentar udah seneng banget kok :'
Terima kasih banyak buat yang udah vote dan komentar di part sebelumnya, vote dari kalian sangat berharga :)
Tandai jika ada typo :)
See you :*