terima kasih yang sudah mau membaca cerita saya. ^^ syukurlah akhirnya tamat juga. :D makasih atas dukungannya. ^^
bye~ bye~
happy reading~~~
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Restoran dengan nuansa romantis yang di hiasi berbagai lampu gantung yang indah serta di temani beberapa lampion dengan berbagai bentuk. Memperindah restoran ini. Walau tak mewah tapi suasana romantisnya dapat. Hanya satu kata yang dapat gue bilang sekarang. Indah! Sangat menakjubkan. Setiap mejanya ada sebuah lilin yang menambah keromantisanya sebakin kental. Dan Farrel mendorong kursi roda gue ke salah satu meja, yang tak jauh dari pemandangan jalanan, juga tak jauh dari sebuah panggung kecil di depan sana. Ada seorang wanita yang sedang bernyanyi di temani beberapa orang yang menggiringnya. Gue hanya tersenyum, betapa sempurnanya restoran ini. Gue bahkan tak meminta Farrel mengajak gue di restoran bintang lima atau yang mewah-mewah. Bagi gue sekarangpun gue dah senang.
"Kamu seneng gak?" gue menolehkan kepala gue ke arah Farrel. Gue tersenyum sumringah. Dan mengangguk pelan. "Gue seneng banget, Rel. Makasih ya."
"Sorry, aku gak bisa ajak kamu ke tempat mewah, aku...aku.."
"Rel, gue lebih seneng di sini. Enak nyaman." Gue ngeliat semua pengunjung di sini sedikit ramai, tapi tak begitu ramai. Kebanyakkan semua adalah pasangan yang membawa pasangannya ke sini. Gue jadi senyum-senyum sendiri.
"Napa kamu senyum-senyum?"
Gue yang kepergok senyum-senyum hanya kelagapan. "Eh...eng..enggak apa. seneng aja." Saat itu ada seorang pelayan yang sudah mengantar beberapa makanan di meja kita. Gue mandang makanan serta wajah Farrel secara bergantian. Setelah pelayan tersebut pergi barulah Farrel bilang. "Aku dah pesankan sebelum ke sini. Kamu mau kari ayam kan? Dari kemarin-kemarin kamu makannya bubur aja." Gue hanya tersenyum lebih lebar lagi. Rasa senang menyeruak di hati gue.
"Makasih ya." Gue menikmati makanan gue. rasanya udah lama banget gue gak makan kari ayam. Ahahaha. Gue aja tidur cantik selama 1,5 tahun. Hell. Gue keren banget ya. Abis bangun, langsung makan. Lo jangan ngetawain ya. Nyatanya kaki gue emang pertu terapi. Sebulan lalu tangan gue udah normal. Tapi sekarang yeah syukur deh bisa di gerakin diri.
Tak pernah terbayang akan menjadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati bersamanya telah hilang dan sirna
Hitam Putih perlu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati ntuk dapati semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini memang ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujung nya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Kegiatan makan gue seketika berhenti ketika gue mendengar sebuah lagu. Lagu yang di nyanyikan oleh sang penyanyi. Gue natap cewek yang sedang menyanyi tersebut. Penuh penghayatan dan entah apa. lagunya serasanya menampar gue. menampar kenyataan yang harus-sekali lagi-gue terima. Rasa sesak kembali menyergap hari gue. gue berusaha menahan semuanya dengan menggigit bibir bawah gue. astaga. Tak bisakah gue hidup bahagia?
Memang tak mudah tapi ku tetap menjalani kosong nya hati
Dulula mimipi kita yang pernah terjadi tersimpan tuk jadi history
Hitam putih perlu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati tuk dapati semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini memang ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa ntuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujung nya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan..(ouw..ho)
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini memang ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujung nya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Song by isyana sarasvati- Tetap Dalam Jiwa
"Lagu itu sedang ngetrens sekarang. Bahkan di tempat kerja aku juga selalu menyanyikan lagu itu." Gue mandang Farrel yang kini menatap gue. mungkin dia sadar kalau gue sedang mendengarkan lagu yang baru saja di nyanyikan itu. "Lagunya memang agak menyedihkan. Aku tak begitu suka." Gue hanya tersenyum kecut. Bahkan sebuah lagupun dapat menyindir gue. gue hanya menelan air ludah gue dengan getir. Nafsu makan gue yang tadi menggiurkan kini lenyap tak berbekas. Hanya untuk menatap saja rasanya sudah kenyang.
"Kie? Kenapa? Apa tak enak karinya?" aku mendongak menatap Farrel. Lalu menggelengkan kepala. "Lalu kenapa hanya di tatap makanannya?"
Gue kembali tersenyum. "Gak apa. hanya merasa kenyang aja."
"Kalau kenyang ya sudah jangan di paksa." Farrel tersenyum simpul dan itu membuat dirinya semakin tampan. Jantung gue udah berdetak kencang kayak lari marathon. Gue sedikit malu. Tapi kembali kenyataan seakan tak memperkenankan gue menghayal. Gue menunduk menatap kedua kaki gue.
"Rel...kalau andai gue gak ada elo masih suka ma gue?" tanya gue pelan, gue aja gak yakin kalau Farrel mendengarnya. Tapi sayang harapan gue gak kekabul. Gue natap Farrel pelan-pelan, ada sedikit rasa takut saat melihat Farrel mematung di tempatnya dan natap gue dalam. Lalu kembali tersenyum.
"Kamu mau ke mana? Kaki aja belum sehat masih pergi aja." Gue kembali tersenyum. Yeah benar. Hahaha. Gue emang mau ke mana? "Kamu yang gue butuhin. Jadi jangan bicara macam-macam." Guepun langsung bungkam ketika Farrel bicara begitu.
#####
2 tahun yang lalu...
"Oi! Selamat ulang tahun ya bro." Ucap gue. gue natap Johan yang dengan sumringahnya ngerangkul seorang cewek di sampingnya. Benar gue datang di acara ulang tahun Johan. di depan Jo ada Zac juga Melodi. Mereka kelihatan tampan. Jiah. Jangan di puji. Entar kepala mereka sebesar gentong nanti. Jo hanya terkekeh mendengar ucapan gue.
"Elo nongol juga ternyata. Lama amat elo datangnya. Gue kira elo datang waktu kiamat bro." Gue tempeleng kepalanya.
"Ya kali gue mati dulu. Elo nyumpahin gue mati heh?!" Zac juga Melodi hanya tertawa terbahak-bahak. Gue hanya ngerutin dada gue.
"Elo kabur lagi bro? Elah." Ucap Melodi. Gue hanya meringis denger pertanyaan gak mutunya.
"Lo bego atau idiot? Ya jelas gue bisa out dari rumah karena yeah lo pada taulah." Gue bilang sedikit merasa kurang nyaman karena berurusan dengan 'keluarga' gue. yang entah sejak kapan gue punya sebuah keluarga.
"Duh ilah elo sensi amat, Kie? Sini deh elo duduk. Kagak duduk-duduk pantat elo lancip?" ujar Zac.
"Iye pantat gue ada jarumnya. Yaelah elo bodo banget, Zac." gue pun menurunkan pantat gue di damping Jo. Gue sih kagak kaget kalau dia nempel mulu sama cewek di sebelahnya. Cewek itu udah mulai di pacarin Jo mulai jaman ilerannya Jo. Alias jaman SMP. "Hi Din. Elo cantik aja hari ini." Ucap gue menggoda pacar Jo.
"Heh! Bini gue ini. Makanya elo jangan kebanyakkan jomblo. Sana deh elo cari. Gue dah undang cewek-cewek bohay." Gue yang denger Cuma ngendus jengkel. "kalau elo kagak mau yang bohay, yang tepos macam Zac juga Melodi juga ada."
"Lo kira gue sinting, heh?! Gila apa makan 'pisang'?" ucap gue.
"Elah gini-gini gue juga tampan, Kie. Elo kagak kepincut noh ma gue?" gue mandang Zac dengan jijik sumpah itu anak otak kagak pernah bener. Pikirannya 'bawah' mulu.
"Mo sampe Jupe kawin ma monyet juga gue ogah ma lo, Zac. noh Melodi nganggur. Sama jomblonya."
"Shit! Gue udah diem masih aja di sangkut pautkan. Dosa gue apa sih, Kie ma lo itu?" protes Melodi yang masih enak-enak main ponselnya. Gue hanya nyengir tanpa dosa.
Zac tiba-tiba ngedeket dan berlagak ala bencong-bencong ngedeketin Melodi. "Meell~ lo kagak mau nih ma gue~ gue cakep lhoo~" Shit! Gue ngeliatnya aja jijik sumpah. Gue hanya bisa nyumpah serapahi kelakuan Zac yang mungkin agak miring otaknya.
"Fuck off your asshole. Fuck holy mother! Lo ngejijikin, Zac! sana lo pergi jauh-jauh dari gue." Melodi beranjak dan natap Zac dengan tatapan siap menguliti.
"Stop, stop. Jangan lo ancurin pesta gue. mending main ToD aja gimana?" ucap Jo menengahi dengan seringaiannya. Errr. Kalau udah menyeringai otak Jo kadang juga bisa sampai di pantat. Sama miringnya ma Zac. sebelas duabelaslah ma Zac.
"Setuju!" teriak Zac.
"Ya dah elo yang gue pertama tanyai." Ucap Jo. Dengan akal bulusnya.
"Shit la elo1 gue kan nyetujui bukan karena korban pertama gue. elo ngerjain gue?!" ucap Zac tak terima.
"Udah elo terima aja kali Zac. kan elo yang nyetujui." Ucap Melodi yang di hiasi seringaian. Gue hanya diam sambil minum jus apel gue.
"Fuck you all!!"
"Pilih mana? Truth or Dare?" tanya Jo yang masih menyeringai. "Dare! gue ogah elo tanyai macam-macam."
Semakin dalam seringaian yang di berikan oleh Jo. Lalu, "Zac, coba elo naik ke pangkuannya Melodi. Buka bajunya, dan berlakulah seperti jalang." Ada jeda beberapa saat. "Lalu beri kissmark di lehernya." Gue hampir menyemburkan minuman gue kalau gak ingat di depan gue ada Melodi. Zac natap Jo tak terima. Melodi pun juga demikian.
"Gak bisa! Napa gue dari tadi di sangkut pautkan? Gue kan diam aja dari tadi." Melodi mulai protes dengan apa perintah Jo.
"Elo sendiri yang bilang kalau ini hanya permainan? Hem?" ucap Jo cuek.
"Gue bakal bales elo nanti" lalu dengan berat hati Zac duduk di pangkuan Melodi dengan banyak protesan di mulut Melodi. Mulai dari membuka bajunya, sampai berlenggak-lenggok ala wanita menjijikkan. Hingga terakhir memberikan tanda kemerahan. Gue hanya menyerengit jijik. Tanpa sadar gue berucap. "Menjijikkan sumpah."
Setelah melakukan semuanya Zac natap gue. lho? Napa perasaan gue gak enak? Dan benar Zac nunjuk gue. gue bingung harus milih mana saat Zac menanyai gue. gue gigit bibir bawah gue dengan gugup. Berharap pilihan gue gak salah. "Dare." dan Zac tersenyum lebar banget. Pake sangat. Kalau mulutnya bisa di perlebar, mungkin senyumnya juga bakal selebar mulutnya. "Nah cari aja cowok cupu di sini setau elo. Atau cowok nerd lah. Lalu bawa ke sini. Cium dia sepanas mungkin selama 1 menit." Gue hanya menelan ludah gue. nah kan, apa kata gue? Zac juga Jo perbandingannya sebelas duabelas.
"Kok gitu! Kata elo mau dendam ke Jo. Napa elo dendam ke gue?!"
"Udah hanya permainan, Kie." Gue natap Melodi dengan tajam. Guepun berdiri dan mencari seseorang. Setau gue yang nerd anak cowok itu...eerrrmmm...saat menemukan sosok tersebut gue menariknya. Dia tampak sedang mengobrol dengan temannya. Benar Jo mengundang hampir seluruh angkatan. Jadi mungkin dia datang. Gue menariknya berdiri dari tempat duduknya. Dia juga teman-temannya tampak bingung karena gue menariknya.
"Ikut gue bentar." Setelah menariknya dan menggeretnya ketempat para 'setan-setan' berkumpul. Gue mendudukkan dia di tempat duduk gue yang tadi. Dia natap gue dengan raut wajah heran juga bingung. "Sorry. Tapi lo bisa diam bentar kan?" gue pun duduk di atas pangkuannya. Menghadap dia. dia masih memandang gue dengan heran, karena gue maklum. Lalu menuntun kedua tangannya berada di pinggang gue. setelah selesai gue mengalungkan kedua tangan gue. dan berbisik padanya, karena gue ngeliat betapa merahnya wajahnya saat ini saat sadar apa yang akan gue lakukan nanti. "Lo kalau malu tutuplah mata elo. Dan ikuti apa yang gue lakukan." Diapun mengangguk.
Dia menutup matanya dan gue mulai memajukan wajah gue ke wajahnya. Bibir gue perlahan mulai mendekat dengan bibir merah mudanya. Sungguh bibirnya sangat kenyal. Gue mulai mengecup pelan dengan ritme terlampau sering. Lalu gue mulai melumat bibir bawahnya. Gue mulai menjilat, serta menggigit kecil bibir kenyalnya. Gue bisa ngerasain pegangannya terhadap baju gue mulai mengerat. Guepun mencoba memasukkan lidah gue. dan di luar dugaan dia membuka mulutnya. Gue pun mencari pasangannya. Gue mengajaknya bertautan. Yang awalnya dia tak merespon semua apa yang gue lakukan kini dia mulai membalas ciuman gue. awalnya ciuman ini terasa lembut, tapi tiba-tiba terasa bergairah dan membuat ciuman ini menjadi menuntut. Saling melumat yang kita lakukan. Hingga ada dorongan agar gue melepaskan ciuman ini. Yaitu kebutuhan oksigen. Gue ngelepas pagutan ciuman gue dan dia. benang saliva terlihat antara bibir gue juga bibirnya.
Gue mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman kita dengan ibu jari gue. Lalu menatap Jo, Dinda, Zac, juga Melodi. Mereka hanya melongo melihat aksi gue. gue yang liat hanya terkekeh geli. Sumpah raut wajah mereka kayak orang bego. Benar-benar kayak orang bego. "Lihatlah wajah bego kalian. Monyetpun bakal tertawa." Mereka hanya termangu natap gue. gue nolehkan wajah gue ke hadapan dia. dia hanya natap gue tak percaya.
"Gi-gila. elo nyeret ketua OSIS? Gue bilang anak cowok yang nerd! Bukan ketua OSIS!" ujar Zac
Gue tersenyum menatap Zac. "Gue sengaja ngegeret Farrel ke sini kok." Guepun bangun dari atas pangkuan Farrel dan kembali duduk di atas pangkuan Farrel. Bedanya kini gue ngehadap Melodi. Inilah kali pertama gue dekat dengan Farrel.
######
tebece. ^.^