P R O L O G

935 103 10
                                        

Ramai.

Ada banyak pembicaraan yang bersahut-sahutan di sekitar.

Ada banyak langkah, suara-suara gelas yang berdenting, senda gurau dan omong kosong yang terdengar semakin nyaring menyelimuti ballroom istana yang penuh dengan tamu-tamu kehormatan keluarga kerajaan.

Hari ini memanglah hari yang spesial dan patut untuk dirayakan besar-besaran. Putra Mahkota Kerajaan Konoha, Uchiha Itachi, baru saja pulang dari misi penting dan berbahaya dengan selamat. Bukan hanya kembali dengan utuh dan bernyawa, namun sang Putra Mahkota juga berhasil membawa harta, rampasan, cenderamata berharga, dan yang terpenting informasi serta pengkhianat yang melarikan diri dan mengancam stabilitas kerajaan. Semuanya diselesaikan oleh sang putra kebanggaan dengan sempurna.

Wajar jika semua orang menamainya dengan berbagai macam kata-kata hiperbola. Kekuatan Putra Mahkota memang begitu besar dan sulit untuk dikalahkan. Kemasyhurannya di usia muda menjanjikan Kerajaan Konoha yang makmur dan cemerlang di masa kejayaannya yang sudah menanti di depan.

Ramai.

Dan membosankan.

Terlalu banyak pembicaraan tidak berarti yang bersahut-sahutan di sekitar.

"Nona Sakura, apa Anda ingin berjalan-jalan?"

Sakura mendongak ke arah pelayan pendampingnya, Anette, dan menganggukkan kepalanya seraya mendengar ajakan itu. Sakura memang sudah ingin keluar dari ruangan yang dipenuhi banyak orang-orang ini sejak tadi. Baginya tidak terlalu penting semua glorifikasi yang tak henti-hentinya dibicarakan oleh nyaris semua orang sejak Sakura datang ke sini.

Anette kemudian membawa Sakura mengitari bagian dalam dan luar istana, yang meskipun masih ramai, masih bisa ditoleransi olehnya. Pelayannya itu pun dengan senang hati memberi tahu orang-orang penting yang dilewati oleh mereka seolah itu adalah informasi yang penting.

Tapi sama seperti saat di ballroom tadi, tidak ada satu pun hal yang menarik meski kemewahan yang terpampang memang menyilaukan. Pilar-pilar menjulang yang dibangun oleh batu pasir yang kokoh, lantai marmer yang memukau dan berkilauan di bawah kakinya, lampu-lampu besar yang bergantung dan menyinari bagaikan bebungaan indah di langit-langit istana yang membentang.

Semuanya memang indah.

Semuanya tidak mengesankan.

Setelah berkeliling dalam waktu yang amat singkat, Anette membawanya kembali ke ballroom dengan alasan. "Tuan berpesan agar Nona kembali sebelum puncak acara dimulai."

Tentu saja Ayahnya akan mengatakan hal semacam itu. Sebagai salah satu aliansi terkuat yang mendukung keberhasilan misi, nama Ayahnya akan semakin besar dan berpengaruh dan dia tidak mungkin membiarkan putri kesayangannya melewatkan momen besar itu begitu saja. Sakura memang belum cukup dewasa, tapi ia sudah cukup mengerti mengenai intrik-intrik politik di lingkungan sosialnya.

Tepat sebelum ia memasuki area ballroom, ada sesuatu-atau lebih tepatnya seseorang-yang akhirnya berhasil menarik atensinya.

Sakura melirik ke arah rombongan yang datang dengan beberapa orang ksatria pengawal dalam ukuran yang cukup besar seolah siapa pun yang didampingi mereka adalah tamu yang sangat penting. Awalnya, Sakura tidak bisa melihat siapa orang tersebut, namun semakin mendekati pintu utama, Sakura akhirnya bisa mengetahui siapa sosok itu. Dan dengan pakaian keluarga kerajaan yang melekat di tubuh kecilnya, Sakura tahu bahwa anak lelaki itu bukanlah seorang tamu penting biasa.

"Dia adalah Pangeran Sasuke, Nona," bisik Anette dengan suara pelan kepadanya. "Saya mendengar bahwa hari ini juga merupakan upacara pemberkatan untuk pangeran." Untuk pertama kalinya, Sakura menggubris ucapan Anette dan memandang ke arah wanita berambut merah itu dengan alis terangkat-tidak mengira bahwa aliran informasi mengenai keluarga kerajaan bisa didapatkan oleh para pelayan dengan mudah.

Under Your SkinStories to obsess over. Discover now