Prolog: Teluk Berlabuh

69 3 1
                                        

Karin memandang pantulan dirinya di cermin dengan rasa kagum sekaligus puas. Penampilannya telah rapi, bersih, dan cantik, persis seperti yang ia inginkan. Setelah memoleskan sedikit pewarna bibir sebagai sentuhan terakhir, Karin beranjak dari depan cermin, mengambil tas yang telah dipersiapkannya, lalu melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk menunggu. Di tengah keasyikannya bermain ponsel, sebuah pesan baru tiba-tiba masuk. Karin refleks mengangkat kepala, segera berdiri, melangkah cepat menuju pintu depan, lalu membukanya.

Langkah Karin terhenti sejenak tepat di ambang pintu. Pandangannya jatuh pada sosok yang tengah berdiri membelakanginya. Selama beberapa detik, ia hanya terdiam, menimbang apakah harus menghampiri atau tidak. Namun, pada akhirnya, Karin kembali melangkah. Jarak di antara mereka perlahan terpangkas hingga akhirnya ia berhenti tak jauh di belakang sosok itu, "Lo ngapain malem-malem ke sini?" tanyanya.

Suara Karin membuat sosok itu perlahan memutar tubuh. Tatapan mereka bertemu. Javier memandang Karin beberapa saat, lalu tanpa sadar menatap perempuan di depannya dari ujung kepala hingga ke bawah, "Lo mau ke mana, Rin? Kok udah rapi sama cantik gini?" tanya Javier. Karin menatap lurus Javier, "Ada apa, Jav?" tanya Karin.

Javier tak segera menjawab. Ia justru mengalihkan pandangan ke beberapa arah, menghindari mata Karin untuk sesaat. "Gue mau ngomongin yang kemarin." Kata Javier pada akhirnya. "Apa?" tanya Karin, berpura-pura tidak tahu. Sebenarnya ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.

Javier berdecak pelan, raut wajahnya berubah, menyisakan gurat kesal, "Lo itu... maunya apa, Rin?" tanya Javier. Pertanyaan itu membuat alis Karin perlahan bertaut, "Lo nanya gue maunya apa?" Karin justru berbalik tanya. Jemarinya menunjuk diri sendiri seraya memasang raut bingung.

Karin mengembuskan napas kasar. Ia memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap Javier, "Harus gimana lagi gue bersikap sama lo?" ia sudah lelah menunggu Javier berbicara setengah-setengah, "Gue udah nolak lo secara halus. Urusan kita udah selesai, Jav."

Karin menarik napas dalam, "Dari awal gue emang enggak bisa suka sama lo," setelah memilih diam cukup lama, kini ia memutuskan mengatakan semuanya dengan terus terang, "Oke, gue sempat berusaha nyoba. Tapi ternyata gue enggak bisa."

Javier mengusap tengkuknya pelan. Ia memang sudah menduga jawaban itu sejak lama. Namun, mendengarnya langsung dari mulut Karin tetap saja meninggalkan rasa yang berbeda. "Terus lo sukanya sama siapa?" ia menatap Karin beberapa detik, "Sama adik kelas itu?" kalimat itu terdengar sarkas, "Apa yang lo liat dari dia?" tanya Javier.

Karin terdiam, berusaha menenangkan segala perasaan yang sejak tadi saling bertabrakan di dalam dadanya, "Dia enggak bingung kayak lo," jawab Karin tegas, "Dia tegas nunjukin apa yang dia rasa."

Rahang Javier mengeras. Perkataan Karin berhasil menyulut emosinya, "Gue juga tegas nunjukin apa yang gue rasa, Rin!" bentak Javier, nada suaranya meninggi tanpa bisa lagi ia kendalikan. "Tapi sikap lo enggak!"

Hening menyelimuti keduanya. Karin mengembuskan napas berat. Dadanya terasa sesak hingga sulit baginya menarik udara dengan tenang. "Lo bilang lo suka sama gue? Oke, gue percaya." Karin masih berusaha terdengar tegas, tetapi suaranya tak lagi seteguh sebelumnya. Bibirnya bergetar pelan, sementara satu tetes air mata jatuh begitu saja ke pipinya, "Tapi sikap yang lo tunjukin tuh enggak! Lo ragu! Lo bingung!"

Kali ini Karin tak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras, membasahi kedua pipi. Napasnya terputus-putus di sela sesenggukan, memperlihatkan betapa lelahnya ia menghadapi semua kebingungan yang terus Javier tunjukkan.

Mata Javier refleks melebar, pun kepalanya menggeleng kecil. Raut wajahnya yang semula dipenuhi kekesalan kini berubah panik. "Bukan ragu..." suara Javier terdengar lebih pelan dibanding sebelumnya, "Gue cuma takut." Jelasnya. Sesaat setelah itu, jemari Javier menyentuh pipi Karin, menghapus jejak air mata dengan ibu jarinya. Karin hanya diam. Ia tak menepis tangan Javier, tak pula menjauh.

Perlahan, napas Karin mulai kembali teratur. Meski kedua matanya masih memerah dan jejak air mata masih membekas di pipi, tangisnya sedikit demi sedikit mereda. Ia mengangkat punggung tangannya, mengusap sisa air mata, lalu setelahnya ia melangkah mundur satu langkah. Menciptakan jarak yang cukup bagi keduanya. Javier hanya mampu memandanginya. Jemari yang tadi sempat menyentuh pipi Karin perlahan turun ke sisi tubuh. Ada sorot kecewa yang begitu jelas di mata, tetapi ia tetap memilih diam.

"Nah, itu," Karin bersuara, kini terdengar jauh lebih tenang meski masih menyisakan serak akibat tangis. "Lo adalah cowok paling bingung yang gue kenal. Lo maju enggak mau, mundur juga enggak mau."

Javier terdiam cukup lama, rahangnya mengeras, pandangannya jatuh ke lantai. Setelah menarik napas panjang, ia mengangkat wajahnya menatap Karin. "Terus gue harus gimana?"

"Itu masalahnya, Jav!" Karin menarik napas dalam, tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar, "Lo nanya gue harus gimana, padahal yang harusnya tahu jawabannya ya lo." Ia jeda perkataannya sejenak, lalu, "Itu hal yang enggak bisa bikin gue suka sama lo."

Javier mengepalkan kedua tangannya, "Dia punya cewek, Rin!" nada suaranya meninggi, seperti pembelaan terakhir. "Tahu!" jawaban Karin meluncur cepat, "Gue tahu."

"Gue cuma suka aja sama dia," jelas Karin, "Enggak ada di pikiran gue buat rebut dia dari ceweknya."

Javier menghela napas panjang, "Gue maunya lo, Rin," nada suaranya merendah, dipenuhi keputusasaan, "Gue udah perjuangin lo."

Karin tertawa pelan, bukan karena lucu, melainkan karena sudah terlalu lelah memperdebatkan hal yang sama, "Apa yang lo perjuangin? Sekecil gue minta lo buat nembak gue secara langsung aja enggak bisa."

"Rin..."

Karin melangkah maju satu langkah. Jemarinya terangkat ke depan wajah Javier, membentuk angka dua, "Dua tahun kita deket, Jav," kata Karin dengan menekankan pada kata dua, "Dan enggak ada kemajuan. Di awal tahun kedua, lo nembak gue lewat chat, tapi waktu gue minta lo buat nembak gue langsung, lo enggak bisa." Sudut bibirnya bergerak tipis, bukan senyum, melainkan senyum getir.

Javier mengusap tengkuknya pelan, tatapannya sempat menghindar, "Gue... waktu itu gugup. Gue takut kalau semuanya bakal berubah." Karin menggeleng pelan, "Lo cuma perlu ngulangin lagi perkataan lo yang di chat itu, Jav!"

"Gue tuh cuma mau denger lo nembak gue langsung. Ngomong langsung di depan gue."

"Tapi lo waktu itu bingung. Itu yang bikin gue ragu sama lo."

"Cuma itu!" bentak Karin mengakhiri perkataan panjangnya.

"Gue kira... kalau gue bilang langsung, lo malah makin jauh," kata Javier lirih, berusaha membela diri, "Makanya gue milih enggak ngom—"

Belum sempat kalimat itu rampung, Karin lebih dulu menyela, "Abis gue tolak karena lo enggak bisa ngomong langsung ke gue..." ia menjeda sebentar, lalu, "Lo malah ngilang," lanjutnya.

"Dua bulan lo ngilang!" kata Karin, suaranya mulai bergetar. Ia tertawa getir, "Ada gilanya juga gue masih nunggu lo sampai sekarang."

"Gue masih pengen tahu kepastian lo ke gue gimana, Jav." katanya jujur. Karin menggeleng pelan. Kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa kecewa yang akhirnya sudah mencapai batas. "Tapi gue udah capek."

Javier membuka mulut, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Kerongkongannya terasa tercekat. Ia ingin menyangkal, ingin menjelaskan, tetapi semua kalimat yang semula berdesakan di kepala mendadak lenyap begitu saja.

"Lebih baik gue bertahan sama rasa suka yang enggak tahu bakal dibales apa enggak..." Karin mendongak, mengambil napas sebanyak mungkin, "Daripada gue harus sama lo yang enggak tahu maunya apa." Bibirnya membentuk senyum tipis yang sama sekali tak mengandung bahagia.

Keheningan menyelimuti mereka, sisa emosi yang baru saja tumpah masih menggantung di udara.

Namun, tiba-tiba,

"Kak."

⟡༺༻⟡

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca "Teluk Berlabuh". 🤍
Kalau kamu menikmati perjalanan cerita ini, jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan bagikan ke teman-teman atau media sosialmu, ya. 

Sampai bertemu kembali di bab berikutnya!
With love,
Rain.

Teluk BerlabuhHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora