"Pah, jangan tinggalkan mamah..." suara jeritan seorang wanita paruh baya, berumur 42 tahun bernama Sinta.
"Cih, buat apa aku harus tinggal bersama wanita kotor sepertimu!" balas lelaki bernama Rendy sambil meludah ke lantai.
"I-ini, tidak seperti yang papah lihat semalam! Aku bukan wanita kotor yang kau ucapkan dari mulut dusta kau itu!"
"Lalu? Bagaimana dengan lelaki yang bersamamu itu? Apakah itu kurang sebagai bukti bahwa kau telah bermain gila dengan lelaki di club malam itu!" bentaknya dengan nada kasar.
"I-itu, hanya sepupu jau-"
"Arghh! Lagi dan lagi, kau terus mengelak! Mulai malam ini..." Rendy menggantung ucapannya.
"Kumohon, jangan ucapkan kalimat haram itu, Pah" Sinta menyatukan kedua telapak tangannya dan menangis sesegukan sambil menggelengkan kepalanya dengan berat.
"Kau, AKU TALAK!" ucap Rendy dengan penuh ketegasan dan mantab.
Kata-kata itu terucap bersamaan dengan petir yang menggelegar saat itu.
"Aku gak terima, Pah!!!! Lantas, bagaimana dengan nasib, Laily!"
"Aku, sudah tak peduli dengan anak itu! Kalau perlu buang saja dia ke panti asuhan!"
"A-yah, tidak sayang, Laily?" ucap seorang gadis kecil yang berdiri di depan pintu kamarnya, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya! Ayah sudah tidak sayang sama, kamu!"Ucap Rendy menunjuk ke arah Laily dan menarik koper nya ke luar rumah.
"Pah, jangan tinggalin kami berdua.." Sinta mencekal pergelangan Rendy, tapi ditepis kasar oleh empunya.
"Ayahhhhh! Jangan tinggalin Laily, kalo ayah gak bisa sayang sama Laily, Laily bisa kok sayang sama Ayah," Ucap Laily dengan polosnya. Ia memegang kaki ayah nya yang hendak keluar dari rumah.
"Halah! Kamu, itu cuma anak pungut! Gak usah sok belagu pake acara sayang-sayangan!" bentak Rendy dan menendang perut mungil Laily dengan kaki nya.
"Aww, sakit ayah," rengek Laily yang saat itu masih berumur 5 tahun.
"Pah, tega kamu ya! Laily ini anak kita! Darah daging kamu juga!" Sinta menggendong Laily yang meringis di lantai.
"Laily, itu bukan darah daging aku! Dia itu anak selingkuhan kamu! Dia anak haram!"
(Anak haram!) Kata-kata itu terus terngiang-ngiang,semakin kencang dan kencang! Hingga............
Duarrr!
"Astagfirullahhalajim!" Laily memegang dadanya yang berdegup kencang. Pelipisnya dipenuhi dengan buliran keringat yang bercucuran..
"Fyuhh, mimpi buruk itu lagi," Laily bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas mandi.
"Laily, nak, bangun nanti kamu terlambat loh." ucap Santi mengetuk pintu kamar Laily.
"Iya, bun, Laily udah siap nih!" balas Laily setengah berteriak.
***
"Yahhh, Laily terlambat lagi!" pekik Laily. "Fiks, gak ada cara lain," sambung Laily memicingkan mata nya.
"Ihhhhhh, kok gak nyampe sih! Padahal kemarin tembok nya pendek aja tuh! Laily, lo pasti bisa!" Laily terus-menerus mendumel tak karuan.
Satu panjatan lagi, Laily akan sampai ke puncak tembok. Saat akan memijakan telapak kakinya ke batu kerikil besar, tiba-tiba....
VOUS LISEZ
Laily's Love Story
NouvellesTerlambat sekolah bukan selamanya menjadi tragedi terburuk. Justru karena kasus tersebut membuat Laily bertemu dengan seorang cowok bernama Deven. Siapa sih yang tak kenal dengan Deven? Sosok cowok idaman para kaum hawa dan selalu menjadi idol. ...
