WARNING❗
1. Mengandung unsur kekerasan.
2. Kata-kata kasar.
***
Regras Devion Aldebaran (17) seorang remaja yang keras, dingin, dan garang. Di balik sifatnya itu ia menyimpan seribu masalah dan luka dalam hidupnya. Menyimpannya sendiri, dan ia terlu...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Regras berjalan keluar dari halaman rumah. Tak mendengarkan teriakan yang memanggil namanya.
"LO MAU KEMANA!? DENGERIN GUE DULU REG!" teriak pria berumur 20 tahun itu di tengah hujan deras mengguyur kota Jakarta di sore hari ini.
"REG!" panggil pria itu sambil menarik lengan Regras dengan kasar.
Regras dengan cepat menepisnya.
"Apa? udah jelaskan?" ucap Regras kepada Jovan sang kakak.
"Yang dimaksud sama papa ngga gitu..." lirih Jovan.
"APA HAH? GUE TAU GUE ANAK BAJINGAN YANG NGGA PERNAH DIHARAPKAN SAMA KELUARGA INI! TAPI KALIAN BERDUA LEBIH BAJINGAN. SIALAN!" murka Regras, tangannya mengepal menandakan dia benar-benar murka.
"Mamah itu yang salah disini!" bentak Jovan kepada adiknya itu.
"ANJING!" umpat Regras dengan rahang mengeras. Sedetik kemudian sebuah hantaman mendarat di pipi Jovan membuat dirinya terjatuh.
Napas Regras tak beraturan, menatap penuh kebencian pada sang kakak. Tak terasa, air matanya mengalir bersama derasnya air hujan.
Lelucon seperti apa ini?
"Kalau lo ngga tau apa-apa soal keluarga kita, lo mendingan diem anjing! sekali lagi gue denger lo ngumpat mama, habis lo sialan!"
Regras kemudian pergi dari hadapan Jovan. Berharap yang sebelumnya ia dengar itu bukanlah hal yang nyata.
"REG!!!" teriakan Jovan tak didengarkan oleh Regras ia tetap melangkahkan kakinya pergi entah kemana.
---
Fia duduk di bangku minimarket tempat ia bekerja paruh waktu. Dirinya melihat ke langit yang mendung merintikan air hujan.
"Yah... hujan dong. Gimana pulangnya ini?"
/plak/
"Astagfirullah, alhamdulillah maksudnya. Hujan itu rejeki Fi" ucapnya kepada diri sendiri sambil memukul pelan kepalanya.
Karena sudah cukup lama menunggu akhirnya Fia memutuskan untuk menerobos derasnya hujan berlari ke halte tempat ia biasa menunggu angkutan umum.
Dirinya sedikit khawatir karena ia meninggalkan Moly kucingnya, sendirian di rumah. Fia melirik ke kanan dan ke kiri menunggu angkutan yang biasa ia naiki setelah pulang bekerja.
"Kaparat lo semua anjing!" umpatan seseorang membuat Fia menoleh ke belakang.
"Eh?" kaget Fia saat melihat murid satu sekolahnya yang terkenal garang itu tengah duduk sambil menundukkan kepalanya di bangku yang tak jauh darinya.
Fia memperhatikan Regras seperti sedang kacau. Dalam hati ia ingin sekali menghampiri pria itu tetapi ia takut kena hantaman yang ia sangat tau menyakitkan. Karena Regras sering kali bertengkar dan berakhir membuat satu sekolah ricuh.
Entahlah mungkin kata hatinya yang memerintah dirinya untuk mendekati pria itu.
"Regras?" ucap Fia pelan berharap pria itu tidak marah.
Regras mendongakan kepalanya melihat sosok gadis yang tidak ia kenal berdiri tepat di hadapannya.
Fia terkejut karena melihat mata Regras memerah seperti baru saja menangis.
"Siapa?"
"Kenapa?"
Ucap Regras dan Fia secara bersamaan.
"O-oh, Aku Sofia Putri Namora kelas XI IPS 1 SMA Pelita Bangsa. Wajar sih kamu ngga kenal, butiran debu kayak aku di sekolah memang jauh dari pandangan orang-orang" canda Fia sambil tertawa pelan.
Regras hanya diam tidak mengekspresikan apa pun. Membuat Fia menghembuskan napasnya pelan. Ia tahu betapa batunya Regras saat bicara dengan perempuan.
"Aku duduk ya?" ucap Fia dibalas anggukan kecil dari Regras membuat Fia sedikit senang.
"Enggg... kenapa?" tanya Fia tak dijawab oleh Regras.
"Ma-maaf kalau keganggu sama pertanyaanku. Tapi aku tau kalau kamu pasti lagi marah, capek, campur aduk. Sampe nangis begitu. Iya kan?" ucap Fia sambil tersenyum menatap lurus jalanan.
"Gue nggak nangis!" sewot Regras saat mendengar ucapan gadis di sampingnya ini yang menurutnya agak menyebalkan.
"Lucu" komentar Fia dengan pelan kemudian Fia terkekeh dan menggelengkan kepalanya heran.
"Cowok nangis itu juga wajar kok. Cowok nangis itu bukan karena lemah. Cowok kan manusia yang pasti juga punya perasaan. Malahan kalau cowok nangis pasti ada hal besar yang nyakitin hatinya. Cowok juga ngga seharusnya pura-pura kuat kalau ada masalah. Seharusnya cowok juga harus berekspresi. Sedih, nangis, capek, itu wajar banget. Manusiawi. Aku emang ngga tau apa masalah kamu tapi coba deh kamu senyum terus kamu mencoba ikhlas dan bersyukur. Mungkin ada lagi orang seumuran kita yang jauh lebih sedih hidupnya. Bersyukur itu membuat hati tenang, membuat pikiran kita terbuka. Percaya deh" ucap Fia dengan serius.
"Maaf, aku berisik ya?" ucap Fia kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Regras menatap gadis di sampingnya. Baru kali ini dirinya mendegar ucapan panjang dari gadis seumuran dengannya. Biasanya ia tak peduli dengan ucapan gadis-gadis lain yang menurutnya mengganggu.
"Engg..beneran keganggu ya? maaf aku emang cerewet banget orangnya"
"Ehh itu angkutannya dah dateng. Aku pulang dulu ya? Semangat, jangan sedih. Biasanya juga galak sampe semua orang ngucap astagfirullah. Nanti galaknya hilang kalau sedih " hibur Fia membuat Regras sedikit tersenyum.
Fia melambaikan tangannya dibalas senyuman tipis dari Regras. Karena gadis itu, dirinya sedikit lebih tenang.
"Sofia..." gumam Regras sambil menatap angkutan yang gadis itu naiki semakin menjauh dari pandangannya.
Regras menggelengkan kepalanya mengusir gadis itu dari pikirannya. Mengapa juga dirinya harus memikirkan gadis itu?
Regras merogoh saku celananya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.