Salvador

36 6 2
                                        

Remaja bertubuh tegap itu berjalan di lorong bercahaya redup mengikuti pria paruh baya di depannya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Remaja bertubuh tegap itu berjalan di lorong bercahaya redup mengikuti pria paruh baya di depannya. Mereka memasuki sebuah ruangan luas dipenuhi mesin mesin seperti CPU raksasa yang berjejer rapih dengan megahnya mengitari ruangan, sementara di hadapan mereka beberapa operator sedang fokus di depan perangkat komputernya masing masing. Pria paruh baya itu kemudian menuju sebuah bilik yang letaknya berada di tengah, dia membuka bilik itu dengan semacam kartu pas yang dia gesekkan di tepian pintu, pria paruh baya itu membuat gestur seolah mempersilahkan remaja itu masuk. Tampak ada sedikit keheranan terlihat dari wajahnya yang tampan, namun remaja itu tetap mendekati bilik dan melirik ke arah pria paruh baya itu.

"apa ini?" tanyanya kepada si pria paruh baya.
"ruangan adalah database room semua pelajar, dan sekarang kamu akan mengkonfirmasi datamu yang sudah kami input sebelumnya, silahkan masuk, masukkan ID yang tertera di kartu yang ku berikan saat pertama kita bertemu. kemudian masukkan sidik jarimu"

Remaja itu merogoh sakunya dan mengambil kartu ID yang dimaksudkan pria paruh baya itu, dia masuk ke bilik itu dan memasukkan nomor ID nya, sebuah data pun muncul, di sana tertulis data tentang dirinya, tertera disana nama lengkapnya "Levin Antonio" begitu juga dengan tanggal lahir dan nama orang tua, sebuah data yang lumrah di setiap perguruan tinggi.
Dia kembali meragukan keputusannya yang dia ambil saat ini, keputusan untuk mendaftar di sebuah kampus yang sama sekali tidak pernah dia duga ada di dunia nyata, dulu dia hanya tahu melalui cerita dari mulut ke mulut, tentang sebuah kampus yang merupakan kampus elit yang terhampar di sebuah pulau pribadi yang sangat luas, hanya anak para bangsawan, orang yang punya koneksi, atau melalui rekomendasi alumni yang bisa bersekolah disana. Namun ternyata kampus tersebut adalah sebuah kampus mafia di mana mafia masa depan dicetak. sedangkan mafia adalah hal yang dia benci karena telah merusak keluarganya dan masa kecilnya. Tekadnya yang semula bulat karena keinginannya dan juga keinginan ayahnya, kini sedikit bimbang ketika melihat layar monitor itu dan memandang nama ibunya. Dia hanya menunduk, mengepalkan tangannya dan mengumpulkan tekadnya kembali.

"Bagaimana? Sudah?" Kata si pria paruh baya membuyarkan lamunannya.
Dengan masih sedikit keraguan remaja bernama Levin Antonio itu pun mengkonfirmasi data miliknya, menginput sidik jarinya kemudian melirik pria paruh baya di sebelahnya.
"sudah?" tanya pria paruh baya itu. "baik ini proses terakhir" pria itu ikut masuk ke bilik dan menggeser kursor di komputer bilik, halamannya pun berpindah ke halaman lain. "silahkan masukan nama yang akan kau gunakan selama ada di kampus ini, kami berkomitmen merahasiakan nama dan data asli setiap siswa, hanya pihak sekolah saja yang mengetahuinya, semua nama pelajar di tempat ini adalah nama palsu, dan hanya bisa digunakan satu orang"

Levin hanya mengangguk pelan dan memasukkan nama "Levin" di kolom tersebut, pria paruh baya itu melirik kolom di komputer dan menatap Remaja itu heran. "Levin? kau menggunakan nama aslimu?"
"bisa kita segera selesaikan prosedur tidak penting ini, aku ingin segera beristirahat, Mr. George" ucap Levin mengacuhkan pertanyaan pria yang disapanya George tersebut.
"ah kau ini, ini sudah paling cepat, lagi pula kau termasuk beruntung karena bisa masuk sini dengan mudah tanpa harus melakukan orientasi dan karantina selama satu bulan, biasanya Presdir tidak mentolerir hal seperti ini tapi entah mengapa dalam kasusmu dia mengabaikannya, baiklah, sekarang kita langsung ke kamarmu, selanjutnya kau akan diantar oleh Ben"

KAMPUS MAFIAWhere stories live. Discover now