Sungguh aku tak peduli dengan kuyupnya baju yang kukenakan dan juga bagaimana menyeramkannya wajahku saat make-up yang kupakai hari ini telah luntur karena terus menerus terguyur hujan yang tiba-tiba jatuh di tengah teriknya hari, seakan memang sudah direncanakan untuk membuat diriku terlihat menjadi seseorang yang sangat menyedihkan.
Aku terus berjalan dengan tatapan lurus nan kosong kedepan melewati beberapa persensi berwajah mencemooh yang secara tidak langsung mengatakan "Lihatlah bagaimana menyedihkannya anak pejabat yang sok cantik itu" Tatapan mereka seolah bukan apa-apa dan tak lebih menyakitkan dibandingkan dengan apa yang beberapa menit lalu aku saksikan dan dengar.
Kepalaku secara otomatis memutar kejadian dimana aku dengan suka cita keluar dari perpustakaan dengan niat mengejutkan seseorang yang beberapa menit lalu memberi pesan akan menungguku lebih awal di taman belakang yang dekat dengan danau buatan, bermaksud tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama seperti biasanya akhirnya aku membereskan setiap aktivitasku setelah mendapatkan pesan tersebut.
Setelah melewati beberapa lorong dan tinggal beberapa meter lagi aku sampai di sana, aku melihat dua persensi berbeda jenis yang duduk di sebuah bangku sedang bergurau dan merangkul satu sama lain.
Sayup sayup ku dengar mereka mulai membuka obrolan yang lebih serius, ku dengar wanita itu mengajukan sebuah pertanyaan "Kapan kamu akan meninggalkan dia?" Aku dengan kaki bergetar dan perasaan asing yang mulai terasa di seluruh tubuh mulai mendekati mereka.
Lalu kudengar lawan bicaranya menjawab "Ayolah sayang, kenapa kamu membicarakan itu lagi? kamu sudah tahu jawabannya bukan, sulit untukku bisa lepas darinya mengingat orangtuaku begitu menyukainya, dan juga keluarganya itu orang termasuk jajaran orang terpenting di kota ini".
Kudengar wanita itu berdecih dan kurasa dia mulai bosan dengan jawaban yang diberikan "Tolong ingat, aku sedang menagih janjimu yang waktu itu, apa kau sudah lupa?" Tanyanya dengan nada agak tinggi, kulihat sang lawan bicaranya mulai menarik tangan si wanitanya sambil mengusapnya dia menjawab "Bukankah kamu tahu aku cuma main-main sama dia, kalau bukan karena orangtuaku aku gak mau sama orang itu".
Amarahku mulai meledak saat dia mengeluarkan kalimat itu apalagi saat dua kata terakhir keluar dari mulutnya, tanpa bisa dicegah lagi aku menyela pembicaraan mereka,
"Orang itu? Seriously? Siapa ORANG ITU yang kau maksud sialan?" Teriakku dibelakangnya, tak ku hiraukan beberapa pasang mata yang melirik kearahku, termasuk dua persensi yang membalikan tubuh mereka kearahku dengan tatapan terkejut.
Berpura-pura tak peduli dengan tatapan mereka semua aku beranjak pergi dari sana.
Namun, baru sekitar lima langkah aku berjalan kurasakan tanganku digenggam seseorang dan dia berusaha memblokade jalanku. "Li, sayang. Liat aku, ini semua gak seperti yang kamu dengar, oke. Aku bisa jelasin semuanya" ucapnya dengan wajah khawatir.
Aku rasa dia bukan mengkhawatirkan diriku dan perasaanku, tapi dia mengkhawatirkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya atas apa yang dia lakukan, oh tentu saja anak mereka yang sangat BERBAKTI ini begitu bermulut manis. Hingga aku jijik dan mual mendengar panggilan sayangnya. Jadi kuputuskan untuk menepis tangannya dan berusaha untuk meninggalkannya.
Tapi lagi dan lagi dia mencekal tanganku, lalu kulihat dia besimpuh di depanku "Sayang kumohon, aku bisa menjelaskan semuanya, jadi tolong jangan beri tahu kedua orangtua kita oke?" melihatnya seperti itu mendadak aku menyemburkan tawa, yang pasti bukan tawa bahagia, entah lucu melihat ekspresinya yang ketakutan serta khawatir itu atau menertawakan diriku sendiri yang ternyata selama ini dibodohi oleh manusia semacam ini.
"Kau.... GILA!"
Dengan tenggorokan tercekat aku mengumandangkannya. Setelah mengatakan itu aku memutuskan pergi dari sana daripada menjadi tontonan gratis bagi mahasiswa lainnya.
*****
Halo, salam kenal semuanya.
Ini first time aku nulis cerita fiksi dan diunggah di sebuah flatform.
Ayo tambahkan ke library kalian biar ada pemberitahuan pas aku publish part selanjutnya, jangan lupa vote dan komen ya.
Mohon dukungannya, semoga aku bisa konsisten dengan apa yang sudah aku mulai.
Terima kasih.
risma.rsml
24 Oktober 2020
YOU ARE READING
In Tempore
RomanceWalaupun Friedrich Nietzsche membuat kutipan yang berbunyi "Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar", tetapi jika kamu yang meminta hal tersebut aku akan mengatakan hal itu sesuatu yang menyenangkan. -Liana Mutiara Senja M...
