Dipaksa meninggalkan sang kekasih hati dan malah diharuskan menikahi gadis buta yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, merupakan hal tersial dalam hidup seorang Evrard.
Andai tindakan sekaligus kebodohan sang adik tidak merugikan orang lain, Evrar...
Tes... tes... tes.... Selamat sore semuanya. Aku bawa cerita yang baru keluar dari oven. Wkwkwkwk Semoga banyak yang suka ya 😅
Oh ya, aku mau coba pakai cast untuk cerita ini, tentu saja sesuai seleraku. Jika kalian merasa tidak cocok, tidak apa. Kalian bisa membayangkan tokoh sesuai imajinasi masing-masing. 😄
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
as Lavender Isabelle Pierre
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
as Evrard Dominique Pierre
Happy reading ------------------------
Terpenjara dalam sangkar emas. Mungkin itulah pengandaian yang paling tepat untuk menggabarkan keadaan saat ini seorang perempuan bernama Lavender Isabelle Ferdinand. Salah. Bukan Ferdinand lagi, melainkan Pierre. Bukankah sejak setahun lalu ia terpaksa harus mengganti nama belakangnya setelah dipersunting oleh laki-laki yang tak pernah dikenalnya. Laki-laki yang ia dengar bernama Evrard Dominique Pierre.
Jangankan mengenal suaminya tersebut, melihat wajahnya saja Lavender tidak pernah. Bukannya ia tidak mau melihat wajah sang suami, melainkan keadaan yang mengharuskannya. Bahkan, bukan hanya wajah suaminya yang tidak pernah ia lihat, tapi semua mahluk hidup dan benda mati di sekitarnya tidak bisa cahaya matanya jangkau. Sejak dua tahun lalu, ia diharuskan bertekuk lutut pada kegelapan. Ia tidak mempunyai kuasa untuk menolak atau sekadar mengajukan protes, sebab dirinya menyadari jika tindakannya tersebut hanya akan membuang energi secara sia-sia. Kini ia sudah tidak mempunyai pilihan selain mengikuti arus kehidupan.
Walau menikah menjadi impian setiap orang, terutama dirinya sendiri. Namun, tetaplah harus didasari oleh rasa cinta dan saling menyepakati. Bukan pernikahan seperti yang dialami olehnya dengan Evrard. Dulu Lavender mempunyai impian yang sangat sederhana mengenai pernikahan dan hidup berumah tangga. Menikmati hidup dengan laki-laki yang mencintainya hingga ajal menjemput dan mengurus anak-anaknya bersama. Namun kini, semua mimpi sederhananya tersebut harus tenggelam bersama kegelapan yang menimpanya. Jangankan mengurus anak seperti impiannya, memenuhi kebutuhannya sendiri saja kini masih membutuhkan bantuan orang lain. Lebih tepatnya, saat ini dirinya masih sangat bergantung pada bantuan orang lain.