Prolog

54 17 9
                                        

Jomblo? Mungkin terkenal wajar bagi sebagian kaum hawa. Nyatanya, menjomblo saja masih bisa bahagia, bukan? Tapi bagi Amora, menjomblo sama saja mencari kesalahan yang fatal. Ia tak bisa hidup tanpa seorang pria, walau sudah pernah mencoba, nyatanya ia tak akan pernah bisa.

Menjalin kasih, merajut asa, dan membuat kenangan indah, sering ia lakukan. Tanpa cinta dan hubungan serius ke depan. Pacaran, hanya ia lakukan sebagai bahan penenang, bukan merangkai masa depan.

"Kali ini, gue gak main-main. Gue cinta sama lo!" pekik Amora menatap punggung seorang pria yang jauh di depan sana.

Pria itu nampak memberhentikan langkahnya, memutar arah badan, menjadi menghadap ke arahnya. Senyum miring tercipta, dari paras rupawan yang ia punya.

"Gue?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri, kemudian berkata, "lo gila? Menyatakan cinta, tapi gak lihat statusnya. Gue ini, pacar sahabat lo, gak seharusnya, lo cinta sama gue."

Hatinya terasa sesak, ribuan duri seakan menancap, memang tak seharusnya ia mencintai pria yang sudah menjadi milik orang lain, apa lagi, pria itu adalah pacar dari sahabatnya. Satu yang ingin ia utarakan, apa cinta bisa memilih? Jika ia, pertemukan dirinya lagi, dengan seorang pria yang bisa membuatnya pulih. Hanya itu yang ia mau, bukan obat penenang yang hilang lalu berangsur-angsur pergi.

Anutaphobia Stories to obsess over. Discover now