Beranjak Dewasa #1st

28 8 47
                                        

Kau tatap langit kelam itu, lalu kau bandingkan dengan bola mataku.
"Aku melihat alam semestaku."
Begitu ucapmu.

---

Rintik hari ini tak se-spesial biasanya. Memang tidak ada yang aneh, bagiku rintik kali ini tak seperti rintik yang selama ini kupuja.

Kian lama awan yang tadinya terlihat bersahabat, kini berhianat dan mengingkari janji. Dia terlihat jahil mengecoh ibu-ibu rumahan yang tengah menjemur baju.

"Duh mana Besok dipakai kondangan lagi Bagaimana ya ini? Mbok ya kalau mau hujan, kasih tanda dulu lah jangan tiba-tiba. Cucian jadi basah semua, aduh gustiii..." walaupun aku dan Bu Teguh telah dibatasi oleh dinding kamarku dan jendela, namun suara cerewetnya tetap saja menembus segala halang rintang, dan tetap terdengar hingga gendang telingaku yang nelangsa dibuatnya.

Aku tak heran mendengarnya mengomel sendiri. Dia memang aneh, pikirku. Akupun juga sudah sangat kenyang mendengar 'nyanyian kematian' oleh istri pak rt itu.

Tak kenal siang atau malam, nyanyian dengan suara yang menurutku bagai pemanggil arwah itu, selalu terlantun dari bibir Bu Teguh. Bahkan menurutku, segala jenis setan pun enggan mendengar senandungan Bu Teguh.

Lamunanku terbuyarkan oleh dering telpon. 'Unknown number' adalah nama yang tertera di layar. Entah siapa yang iseng menelpon jam tidur siang begini.

"Halo?" Suara berat di seberang sana menyapa terlabih dahulu.

"Iya halo? Ini siapa ya?"

"Ini Dimas,"

"Ha? Dimas Kanjeng?"

"Ha? siapa Dimas Kanjeng? Ini Dimas temen sekelas lo, masa lupa? Apa ga di save?"

"Ohiya, Dimas Adiputra? Ada perlu apa?"

"Yailah, formal amat. Gue dah di depan rumah lo nih, gercep ya,"

Aku menyibak tirai jendela yang dari tadi kututup. Disana sudah ada seorang cowok dengan kepala tertutup helm, sembari menggenggam hp di tanggannya.

"Astaga, lu ngapain hujan hujan kesini, bego. Cabut, buru!"

"Ga bisa cabut. Ujannya makin deres. Gue ga bawa jas hujan. Makanya mau numpang singgah di rumah lo,"

"Dikira rumah gue tempat umum, apa? Yodah buru, sini masuk!"

Telpon berakhir.

Aku berjalan keluar kamar, menuruni tangga, dan secepat mungkin menuju pintu utama.

Dengan sedikit tergesa aku membuka kunci, dan merampas gagang pintu. Ternyata Dimas sudah berdiri di depannya, dengan pakaian yang utuh basah kuyup.

"Gue dah kaya gini, lo suruh cabut? Kurang gila apa lu coba?" Dia menyengir setelah kupersilahkan masuk.

"Lagian lu ngapain tiba tiba kesini gak ngabarin dulu? Untung bokap lagi gaada di rumah."

"Yaelah, kasih minum dulu kali, tega amat. Dingin nih!" Dia melepas jaket basah, dan menyerahkannya padaku. Aneh.

"Dikira gw pembantu? Dah numpang, belagu lagi. Huu," Aku berjalan ke dapur, selepas menggantungkan jaketnya di gantungan baju.

5 menit kemudian aku kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh hangat di tangan. Tak lupa ku sediakan beberapa jenis camilan.

"Tadi gue lagi jalan jalan. Stress di rumah mulu, bisa lepas ini kuping gue denger bonyok gelut mulu, ga selesai-selesai." Dia memulai obrolan, sebelum menyeruput teh hangat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 23, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

QRSStories to obsess over. Discover now