Awan Hitam

166 35 12
                                        

'' haaaah''

Untuk kesekian kalinya Cheril meniup kedua telapak tangannya menyalurkan hawa hangat dari nafasnya agar membantu mengurangi dingin yang mulai menyelimuti tubuh kecilnya. Awan hitam sedari tadi sudah mulai menggantung nyaman di langit mungkin sebentar lagi hujan akan turun menari beratapkan Awan

Hari ini adalah hari penerimaan keputusan lulus atau tidaknya para murid SMP Cahaya Bangsa, Cheril berhasil lulus dengan nilai sempurna. Namun pil pahit harus kembali ia telan sendiri tidak ada pelukan hangat tidak ada tepukan haru dari kedua orangtuanya.

Cheril sudah berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan menangis seperti saat ia mendapat juara umum saat sekolah dasar dan menanyakan alasan kenapa Mama atau Papanya tidak datang di saat penting untuknya.

Yang membuat ia harus menerima pukulan demi pukulan dari Anna dan Rudi, mulai saat itu Cheril tidak lagi menayangkan alasan kenapa Mama dan Papanya tidak hadir ke sekolahnya Wala hanya sebentar.

Satu per satu para murid dan orang tua mereka mulai bergegas meninggalkan sekolah karena takut akan hujan yang akan segera turun. Hujan pun turun mengguyur seluruh kota cukup deras hingga membuat Cheril harus menunggu hujan reda baru bisa pulang.

Cheril menatap jam tangan yang hitam yang melingkar di pergelangan tangannya yang kecil, jam sudah menunjukkan pukul 14.03
Yang berarti ia harus segera pulang sebelum Mamanya sampai lebih dahulu di rumah.

Hujan masih turun dengan deras, kendaraan umum yang biasanya lalu lalang tidak satupun muncul, Cheril kembali melihat jam tangannya mau tidak mau ia harus segera pulang walaupun ia akan kebasahan tidak apa dari pada ia mendapat amukkan dari Mamanya.

Dengan menjadikan tas nya sebagai pelindung kepala Cheril berlari menembus hujan walau membutuhkan waktu lebih lama dari pada menggunakan kendaraan umum tapi apa boleh buat ia harus sampai di rumah secepatnya.

~~~

"Assalamualai...".

PRANGG!!
Cheril membeku terkejut ketika sebuah vas bunga melayang dan hampir saja mengenai kepalanya.

"Dari mana saja kau anak sialan!"

Itu Mama yang barusan melempar Cheril dengan vas bunga yang hampir mengenai tepat kepalanya

"Ma..maaf ma.. tadi aku..."

PlAK!!!

"Mau beralasan? Dasar tidak tahu diri! Harusnya kau berterima kasih kami Masi mau menerima mu di rumah ini! Tidak membuangmu!"

Tamparan Anna begitu menyakitkan, pipi Cheril terasa amat panas bulir air mata  tanpa aba-aba sudah meluncur tak bisa di tahan lagi

" Wahh tuan putri sudah pulang ternyata yaa,". Rudi muncul dari dalam dengan wajah tak kalah marah menatap Cheril

" Lihat pa! Anak sialan ini bertingkah lagi! Papa liat sekarang pukul berapa? Dan papa tau dia baru saja pulang setelah berkeluyuran dari siang!"

Rudi yang mendengar aduan Mama menatap marah pada Cheril. Rudi kembali masuk ke dalam dengan cepat sambil membawa campuk di tangan nya. Cheril sangat takut saking takutnya ia hanya bisa menggeleng tanpa suara.

PLAK!!
Satu cambukan tanpa aba-aba berhasil mendarat di bahu Cheril rasanya teramat perih se akan kulit akan tercabut saking sakitnya cambukan yang di berikan Rudi.

PLAK!! PLAK!!
Lagi dan terus Rudi memberikan cambukan di punggung Cheril tanpa henti.

"Amm..ampun paa ammpum hikss ber.. henti pa..sa..sakitt"

Rudi seakan kesetanan mencambukku tanpa henti bahkan teriakan kesakitan Cheril pun seperti tak terdengar olehnya.

"Kau tau peraturan nya bukan?! Kau harus berada di rumah sebelum kami pulang! Tapi apa? Dengan tidak tahu dirinya kau keluyuran dan baru pulang di saat kami sudah dari dua jam yang lalu di rumah!"

"PlAKKK!!
Lagi cambukkan di berikan Rudi.

"Maaf paa... Maaaf ".



Hii^^
Semoga suka ya sama ceritanya
Mohon vote dan komen nya ya^^
Terimakasih^^
September 9²0

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 09, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SALAHWhere stories live. Discover now