1

11 3 2
                                        

Tok tok

Pintu bercorak putih yang di hiasi bunga sakura, yang di pastikan pintu kamar luarafa syahdan putri dari muhammad syahdan seorang TNI angkatan udara dan bunda veve putri syahdan seorang dokter di rumah sakit purwo yang di bangun almarhum sodipurwo ayah bunda veve sendiri.

Tok tok

" lu gue masuk yah"

Merasa tak di respon gadis itu langsung masuk ke dalam kamar, gadis yang masih mengenakan seragam SMA bakti, rambut yang sebahu yang tergerai lurus dan tak lupa jepit rambut merah jambu berbentuk hati yang terselip di rambut sebelah kanan membuatnya terkesan manis, syana safara sahabat luar semenjak di bangku dasar.

Syana melangkah masuk kedalam, yang pertama di lihat nya kamar yang berantakan, syana mengedarkan pandanganya tak ada tanda tanda kehidupan di dalam sana.

" lu, lo dimana?" serunya

" luar, lo dimana?"

Syana menggembungkan pipinya karna tak ada respon, syana melirik nakas ternyata luar belum menyentuh makananya.
Syana menghampiri nakas, lalu mengambil makanannya tak sengaja ia melirik balkon, dilihatnya gadis yang mengenakan baju tidur biru tua  dengan rambut yang tergerai lurus, yang tengah menatap langit di siang hari.

" lu lo ngapain?" Tanya syana setelah menghampiri luar

Luar menoleh ke sumber suara, di lihatnya syana yang tengah berdiri di belakangnya sambil membawa nampan yang berisi makanan.

"Lo ngapain kesini?" Tanya luar tanpa ekspresi

" gue hawatir sama lo"

" ini kan masih jam sekolah sya"

" iya gue tau, tapi gue takut lo gak makan lagi"

"Entar gue makan"

"Kemarin juga ngomong gitu tapi gak lo makan"

"Gue lagi gak nafsu sya"

"Lu, sampai kapan kaya gini, bela belain jam istirahat gue kesini"

"Gue gak nyuruh loh kesini" jawab luar sinis

"Lu, gue mohon lo jangan kaya gini lo gak cape, emang dengan lo kaya gini bisa ngubah segalanya, lu gue cuma pengin lo ma-"

PRANG

Makanan yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan itu, kini telah terjatuh menyentih kerasnya teras rumah, beserta nampanya.

Kini muka luar yang semula pucat berubah merah karna menahan amarah " SYANA, LOTUH GAK NGRASAIN YANG GUE RASAIN" bentak luar setelah mengambil nampan di tangan syana dan melemparnya.

"TERSERAH LO, GUE CAPE SAMA TINGKAH LO, GUE MAU TANYA SAMALO" syana menarik nafas dan membuangnya sebelum melanjutkan perkataanya, untuk meredakan emosinya "kalau lo kaya gini emang bisa bawa angkasa kembali, ENGGAK LU ENGGAK, emang dia peduli, dengan cara lo nyiksa diri lo sendiri?"

Luar hanya menunduk dan membenarkan perkataan syana dalam hati

"Kalau lo mau tau angkasa sekarang gimana" syana mendekatkan tubuhnya pada luar yang masih dengan posisi menundu nya

Syana melirihkan suaranya "angkasa, udah, bahagia, sama yang lain" syana menekan setiap katanya, kemudian menjauhkan tubuhnya.

Luar langsung mendongakan kepalanya atas apa yang iya dengar tadi, luar menatap syana tak percaya sedangkan yang di tatap menatapnya tanpa ekspesi.

"Apa?" Kata luar lirih seperti berbisik

Seakan hati yang sudah hancur kini mejadi debu, dan membuatnya memutar lagi kejadian 8 hari yang lalu......


"Angkasa, hari ini kamu belajarnya gimana di kelas?" Tanya luar saat di kantin

"Biasa"

Luar mengernyit bingung, kenapa dengan kekasihnya itu tumben sekali tak banyak bicara, dan sekalinya bicara singkat dan tak mau menatap lawan bicaranya

"Angkasa, kamu lagi ada masalah?" Tanya luar sambil memegang tangan angkasa, dan angkasa hanya menggelengkan kepalanya.

"Terus kenapa, lagi sebel yah sama  siapa?" Jujur luar tidak suka angkasa yang banyak diamnya, luar harus mengembalikan angkasa seperti semula.

"Enggak" lu.ar mendenggus kemudian melepas gegamanya pada angkasa

Diam cukup lama.....

"Angkasa kenapa sih, kamu marah sama  aku?"

Angkasa malah mengabaikan pertanyaan luar, dan malah asik dengan ponselnya entah apa yang iya lakukan dengan ponselnya itu hingga membuat angkasa tersenyum senyum sendiri.

"Angkasa aku tanya loh sama kamu?"

Angkasa mendenggus, meletakan benda pipih itu di atas meja dan beralih menatap luar.

"Enggak setiap pertanyaan yang lo kasih ke gue selalu gue jawab kan?" Jawab angkasa

"Apa, barusan kamu panggil aku lo"
Ada apa dengan angkasa hari ini, apakah salah makan?

"Sama aja kan, kenapa emang?

" kamu kenapa sih?".

"Gue mau nanya, kalau sikap gue kaya gini terus, gimana?" Tanya angkasa

"Aku akan kembaliin sikap kamu"

"Kalau tetap dingin?"

"Aku cairin"

"Kalau makin dingin?"

"Kalau usaha pasti bisa"

"Kalau usaha lo, bikin gue benci lo gimana?".

"Angkasa, kamu kenapa sih?" Luar sungguh tidak suka dengan pembicaraan ini

"Jawab aja"

"Oke, kalau kamu benci, aku akan buat kamu suka lagi sama  aku"

"Jujur, lo tahan gak kalau sikap gue dingin ke lo?"

"Enggak"

"Hemm sayangnya gue suka sikap dingin itu"

"Maksudnya apasih?"

Angkasa bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya di atas meja "gue rasa lo tau, kalau sikap gue berubah itu namanya udah gak nyaman"

Luar hanya diam

"Buat apa pertahanin, gue mau kita udahan" jawabnya tanpa menatap luar, kemudian beranjak dari kantin tangan kananya asik memainkan ponsel.


"ENGGAK"

Teriak luar, setelah mengingat kejadian itu

"Enggak mungkin sya, dia gak mungkin setega itu sama gue, gue tau dia sayang gue"

Mengis, hanya itu yang luar lakukan,setelah kejadian di kantin itu luar hanya asik mengurung diri  dalam kamar, bahkan dia tidak berangkat sekolah selama 1 minggu, dia berharap angkasa akan peduli dan menjenguknya tapi.... dia ternyata lebih memilih bersama yang lain.

"Lupain dia, luar inget di luar sana masih banyak cowo yang lebih baik di timbang angkasa,
"Luar, lo harus buktiin ke angkasa, tanpa dia lo bahagia"

Ujar syana pada luar agar sahabatnya itu bisa kembali seperti dulu, luar yang ceria bukan yang asik mengurung diri.



luarangkasaWhere stories live. Discover now