Prolog

915 148 38
                                        

Sekelompok remaja tengah berkumpul di sebuah ruangan yaitu ruang OSIS. Mereka sedang mempersiapkan acara Orientasi peserta didik baru yang akan mereka adakan minggu depan tentu saja di sekolah mereka, SMA Dirgantara.

"Hari ini rapat kita cukup sampai disini. Kita semua boleh bubar. An Terimakasih atas kerja keras teman-teman sekalian." Kata pemuda yang tak lain adalah ketua OSIS SMA Dirgantara. Satu persatu orang orang di dalam ruangan itu pun pergi menyisakan si ketua Osis dan beberapa anggota lain.

Seseorang menepuk bahu pemuda itu, "Lix gue duluan," Pamit seorang pemuda pada sang ketua Osis yang tidak lain bernama Ansel Felix Arion.

Felix melihat siempu yang berpamitan, "Oke. Hati hati dijalan Matt." Sahut Felix pada rekannya yang bernama Matteo El Wandi. Felix menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap punggung wakilnya yang mulai menghilang dari ruangan. Ketika berada di bibir pintu, Matteo terhenti dan menoleh pada Felix.

"Lo yang hati hati." Kata Matteo singkat lalu pergi meninggalkan Felix. Kini hanya tersisa Felix seorang di ruangan Osis. Setelah merasa lelahnya berkurang karna rapat tadi, ia pun bergegas mengemasi barang barangnya kemudian mengunci ruangan Osis, lalu bergegas menuju parkiran. Sampai di parkiran, hanya tersisa motornya saja. Menyadari hari menjelang malam, Felix pun bergegas menuju motornya lalu pergi meninggalkan pekarangan sekolah yang sudah sunyi.

Ketika di perjalanan entah kenapa perasaan Felix tak karuan, karena saat ia melewati jalanan sunyi tiba tiba saja segerombolan motor menghadangnya di tengah dijalan. Felix terjatuh dari motor karna ia menarik rem mendadak. Lengan Felix tergores aspal membuatnya meringis sakit. Felix bangkit karena segerombolan orang orang itu mulai mendekatinya dengan membawa tongkat baseball dan juga kayu. Felix tidak tahu siapa mereka dan juga wajah mereka ditutupi oleh kain.

"Oh, jadi ini ketua Osis SMA Dirgantara itu." Kata salah satu dari mereka. Felix bingung apa yang mereka inginkan darinya.

"Apa mau kalian?" Tanya Felix to the point. Mendengarnya mereka tertawa. Felix mengernyit, Apa yang lucu dengan pertanyaannya? Salah satu dari mereka maju mendekati Felix, dan tiba tiba mengayunkan tongkatnya.

BRAK!!

Laki laki itu memukul bagian depan motor Felix dengan pemukul baseball sampai lampu motornya pecah. Felix naik pitam tak terima. "KALIAN SEMUA ADA MASALAH APA SAMA GUE? HA!! KALIAN SIAPA!!"
Bentaknya marah. Mereka malah tertawa lalu mendorong Felix sampai Terjatuh ke aspal.

Felix hendak bangkit namun terlambat, mereka semua langsung menghajar Felix. Mereka memukulinya habis habisan tanpa ampun. Tanpa memberikan Felix peluang untuk membalas.

Merasa Felix sudah hampir tidak berdaya mereka pun menyudahi, lalu bergegas meninggalkan Felix yang sudah tak sadarkan diri di pinggir jalan dengan babak belur dan darah serta lebam diseluruh tubuhnya.

***

Seorang gadis cantik dengan kulit putih langsat dan rambut terurai sebahu berdiri didepan sebuah pagar, yang bertuliskan 'MENERIMA KOS PUTRI' ia girang akhirnya menemukan kos putri disekitar sekolahnya. Gadis itu pun memasuki pekarangan rumah lalu mengetok salah satu pintu. Pintu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya dengan daster yang melekat ditubuhnya ala ibu ibu rumahan.

"Adek nyari siapa?" Tanya wanita itu ramah.

"Selamat sore bu, apa Ibu yang punya kos ini?" Tanya gadis itu sopan.

"Kebetulan ibu sendiri. Adek mau ngekos ya disini?" terka si ibu dengan benar.

Gadis itu mengangguk cepat, "Iya buk, saya mau ngekos,"

"Waduh, kamar terakhir udah diisi dek tadi. Kebetulan awal ajaran baru jadi banyak yang nyari kos, maaf ya dek." Kata ibu itu tidak enak. Gadis itu bisa apa padahal ia sudah berkeliling untuk mencari kos, ternyata setelah berhasil menemukannya malah penuh.

Wajahnya berubah lesu, "Yasudah deh buk, gakpapa saya cari yang lain aja." Namun saat ia akan berpamitan, seorang gadis dengan rambut di cepol menghampiri mereka. Ternyata ia sudah memperhatikan percakapan mereka sedari tadi.

"Buk gimana kalau adek ini sekamar sama saya aja?" Kata gadis itu mengusulkan.

"Beneran kak!?" Seru gadis dengan rambut sebahu itu girang.

"Memangnya nak Deyya gapapa kalau sekamar berdua?" Tanya ibu kos memastikan pada gadis yang ia panggil Deyya.

"Saya gapapa kok buk, kasihan kalau dia harus nyari kos lain, lagi pula sudah sore," Deyya sedikit mendekatkan diri pada ibu kos, "Tapi biaya kosnya bisa bagi duakan bu?" Tanya Deyya pelan.

"Ah, kamu Deyya tahu aja kalau ada kesempatan," sahut ibu kos yang tahu maksud Deyya mau menerima Gadis ini, agar biaya kosnya menjadi ringan. Mendengar respon ibu kos, Deyya hanya cengengesan tak berdosa. Sedangkan gadis didepan mereka hanya menyimak dua orang di depannya itu.

"Yasudah kalau Deyya setuju, boleh boleh saja," Ucap ibu pemilik kos itu, "Adek gimana?"

Dan dentu saja siempu yang ditanya mengangguk antusias. "Saya mau buk."

Setelah membicarakan perihal biaya dan peraturan di kos ini, Deyya pun akhirnya memboyong gadis yang dia ketahui namanya adalah Lovata itu ke kamarnya. Kamar mereka berada di lantai dua paling pojok. Dan Disinilah Lovata berada, dikamar sederhana yang bersih dan tertata rapi, ya ini kamar Deyya.

"Wah! kak kamar kakak rapi banget," Seru Lovata takjub, Deyya yang mendengarnya hanya tersenyum, yang lebih tepatnya tersenyum bangga.

"Biasa aja kok," katanya dengan mengibaskan tangan.

Lovata kembali melihat lihat isi kamar. Kamar ini sederhana, tidak banyak barang disini, namunsemuanya tertata rapi di tempatnya. Tidak seperti kamarnya di rumah yang sangat berantakan seperti kapal pecah. Sepertinya mulai sekarang ia harus terbiasa merapikan kamar ini.

Cukup puas memperhatikan seisi kamar, Lovata tersadar sesuatu. "Oh iya kak, kita belum kenalan. Kenalin nama aku Jovanka Lovata. Bisa dipanggil Lovata, Atau Tata. Terserah kakak aja mau manggil apa," Ucapnya semangat sembari menjulurkan tangan.

Deyya menyambut tangan itu, "Nama kakak Hideyya Harunggi. Panggil kak Deyya aja," Ucap Deyya yang kini duduk di pinggir kasurnya dan menepuk nepuk kasur itu mempersilahkan Lovata untuk duduk. "Duduk sini." Lovata pun ikut duduk di samping Deyya.

"Kakak SMA dimana?" Tanya Lovata.

"Kakak di SMA Dirgantara, kelas 12. Lovata?" jawab Deyya.

Mendengarnya Lovata sangat antusias karena mereka ternyata satu sekolah. "Sama kak! Aku juga SMA Dirgantara, kelas 10,"

"Kak ceritain dong SMA Dirgantara tuh gimana? Kakak pembina Osisnya galak gak? Ada gak kak, kakak kelas yang rese gitu?" Tanya Lovata beruntun membuat Deyya terkekeh,

"Satu satu, satu satu. Exited banget lo nanyanya,"

"Soanya aku gak mau jadi sasaran kakel galak kak," jujur Lovata berubah murung.

"mana ada yang galak galak disekolah kita, kalau pun ada tinggal dilawan," kata Deyya dengan semangat. Dan mereka berdua pun tertawa sesaat. Lovata senang ternyata Deyya sangat terbuka dengannya membuat ia sangat nyaman didekat Deyya.

Di tengah-tengah obrolan mereka, ponsel Deyya berdering, ada notifikasi dari grup Chat kelasnya yang sangat rebut. Deyya meraih ponselnya, Merasa kepo dengan pembahasan teman-temannya di grup chat kelas.

"Kakak liat Chat bentar ya Ta," izin Deyya dan diangguki oleh Lovata. Deyya membuka grup Chat kelasnya, mereka sangat ribut ntah membahas apa. Sampai Deyya menscrol ke atas dan mendapatkan berita yang sangat mengejutkan.

Karin-akapor : Gila!!! Gue baru dengar berita dari anak Osis, kalau si Ketua Osis masuk rumah sakit kemarin, sampe koma.

DandelionWhere stories live. Discover now