(Bukan) Sekolah Keinginanku

66 4 0
                                        

Aku termenung sendirian mengamati gerbang sekolah baru. Langkah kakiku, belum mau berjalan untuk memasukinya.

Apa aku sanggup?

Apa aku sanggup untuk menjalani hari-hariku dengan bersekolah di gedung ini? Gedung yang bahkan bukanlah gedung asli sekolahku.

Aku menghela nafas pelan, sadar jika matahari sudah sangat terik.

Aku berjalan masuk, melewati gerbang pembatas antara area sekolah dengan jalanan.

Ku langkahkan kaki menuju lapangan, dimana keramaian sudah menyambut kedatanganku. Rupanya, aku bukan orang pertama yang datang. Banyak siswa-siswi baru yang masih berseragam putih biru sepertiku, yang sudah berbaris rapi di lapangan.

Aku mencari-cari barisan dari gugus kelasku, setelah ketemu, aku ikut berbaur dalam barisan.

Di depan lapangan, seorang siswa senior yang sepertinya adalah ketua OSIS sedang berbicara. Entahlah, aku tidak terlalu fokus mendengarkannya.

Aku justru mulai mengamati sekelilingku. Semuanya masih terasa asing bagiku, orang-orang di sekitarku, bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali.

Aku lebih tertarik untuk menilai segala yang ada di sekelilingku, daripada harus menyimak ketua OSIS yang sedang berbicara di depan lapangan sana.

Banyak sekali hal yang membuatku sedikit terkejut.

Pertama, banyak siswa-siswi yang tidak seperti teman-temanku di Sekolah Menengah Pertama. Banyak sekali orang yang tidak mengenakan hijab disini. Aku sedikit terkejut, sebab terbiasa melihat para perempuan berhijab. Aku memang seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama berbasis agama. Jadi, melihat banyak perempuan tidak berhijab merupakan hal yang baru bagiku.

Aku lupa, jika tempat aku melanjutkan sekolah saat ini, bukanlah sekolah berbasis agama.

Kedua, sungguh keramaian ini membuat kepalaku pening. Hingar-bingar ini, membuatku ingin lekas selesai mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah hari ini.

Aku introvert?

Mungkin iya, bisa jadi iya.

Aku pun tidak mengerti, apakah seseorang yang tidak senang berada di keramaian dalam jangka panjang adalah sosok introvert? Apakah seseorang yang sukar sekali untuk berbaur dan tidak pandai memulai pembicaraan adalah seorang introvert?

Jika iya, berarti aku termasuk salah satunya.

Tanpa ku sadari, ketua OSIS yang berbicara di depan sudah mengakhiri pidatonya. Kini, tiap-tiap Kakak pembimbing dari masing-masing gugus memberikan instruksi kepada siswa baru untuk segera mengikuti langkahnya.

Aku mengikuti saja, sepertinya para pembimbing akan mengarahkan siswa baru ke dalam kelas.

Benar saja.

Kini aku sudah memasuki ruang kelas, ku edarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Mencari tempat yang pas untukku duduk. Bangku-bangku depan sudah diisi penuh. Aku memutuskan untuk duduk di kursi kosong nomor dua dari belakang.

Di depan kelas, kakak pembimbing gugus kelasku mulai berbicara, tentang apa-apa yang ada di sekolah ini. Dari mulai pengenalan sekolah, organisasi-organisasi nya, eskul-eskulnya, dan lain sebagainya.

Satu yang tidak pernah di ceritakan oleh Kakak Pembimbing, fakta bahwa sekolah ini belum memiliki gedung sendiri.

Bukankah di awal aku sudah bicara?

Bahwa sekolahku ini belum memiliki gedung sendiri. Sungguh, ini jauh dari kata sekolah favorit di Indonesia.

Wajar saja jika masa pengenalan lingkungan sekolahnya di adakan siang hari. Karena harus bergantian dengan siswa sekolah pemilik gedung ini yang sebenarnya.

Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan bahwa takdir akan membawaku pada sekolah ini.

Ingin mengelak, namun aku siapa?

Ingin menolak, apakah aku bisa?

Satu yang sedang aku usahakan saat ini, yaitu menerima dengan lapang dada semua ketetapan Tuhan yang satu ini.

Meski ku tahu sekolah ini bukanlah sekolah tujuanku, yang sangat jauh dari ekspektasiku sebelumnya, aku bisa apa selain menerima dengan lapang dada?

Tenang saja,

Akan aku usahakan.

Semampuku.

Karena aku sedang berusaha untuk percaya, bahwa semua ketetapan-Nya adalah yang terbaik.

Allah memberi apa yang aku butuhkan, bukan hanya apa yang aku inginkan.


______

Sekali lagi ingin ku ingatkan, ini hanyalah catatan-catatan harian yang selama ini hanya bersarang pada pikiranku saja.

Well, Ku pikir semua orang pasti pernah mengalami gagal dalam kehidupan.
______

Sampai jumpa!

GaduhWhere stories live. Discover now