Selamat membaca😊
=====]EUNOIA[=====
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(QS. Al-Baqarah 2: ayat 216)
=====]EUNOIA[=====
Senyum manis masih tersungging dibibir wanita itu. Senyum yang berbanding terbalik dengan matanya yang tengah menahan isak tangis. Hasna selalu percaya bahwa akhirnya ia bukanlah orang yang akan berdiri di samping mempelai pria. Kisah cinta yang telah tejalin selama 3 tahun nyatanya tak menjamin bahwa mereka akan berakhir dengan pernikahan.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, lelaki itu datang padanya membawa kabar bahagia yang baginya merupakan kabar buruk. Lelaki itu datang membawa sebuah undangan pernikahan yang terlihat cantik namun dimata Hasna undangan itu terlihat mengerikan.
Harusnya ia sadar bahwa tidak seharusnya ia sedih dengan hal ini. Dia yang selalu menolak konsep pernikahan tak sepatutnya merasakan kesedihan. Namun, hati manusia tak pernah ada yang tahu. Dan manusia selalu bisa berencana tapi takdir merupakan ketentuan Allah. Merasa tak lagi kuat membendung tangisnya, Hasna memilih segera pulang ke hotel tempatnya menginap. Belum sempat ia melangkah lebih jauh, Hasna mendapat kabar yang mengejutkan dari orang asing melalui telepon.
=====]EUNOIA[=====
Peluh sudah membasahi sekujur tubuh gadis muda itu kala sampai di depan pintu rumah sakit. Kecemasan yang sejak tadi pagi hinggap dibenaknya makin bertambah saat ia semakin dekat dengan pintu ruang rawat. Menarik napasnya dengan perlahan, gadis itu mulai membuka pintu dengan hati-hati. Disana, di atas ranjang terbaring seseorang yang sangat disayanginya. Pelan namun pasti, Hasna mengucap salam sambil berjalan menuju samping ranjang tempat Laras beristirahat. Matanya menatap lekat sesosok wanita tua yang masih sangat cantik diusia senjanya. Wanita yang kini menampakkan wajah pucat dengan senyum tersungging dibibirnya.
"Kamu kok bisa disini Na?." Tanya Laras dengan nada penuh kebingungan.
"Budhe kenapa nggak bilang sama aku? Kenapa aku harus tau kalau budhe sakit dari orang lain?" Ucap Hasna sambil menahan tangis.
"Budhe nggak apa-apa, nggak usah khawatir." Ucap Laras dengan nada menenangkan.
"Gimana aku nggak khawatir kalau tiba-tiba dapet telepon budhe masuk rumah sakit? Aku udah pernah bilang sama budhe, kalau budhe ngerasa nggak enak badan bilang sama Aku. Walaupun aku lagi jauh dari budhe, kalau emang budhe butuh, aku pasti pulang."
"Udah udah, budhe lagi sakit malah diomelin sama kamu." Kata Laras dengan senyum.
Ketika ingin menyanggah kata-kata Laras, masuklah Fikri-Pakdhe Hasna-bersama seorang dokter laki-laki serta wanita yang kira-kira seusia dengan Laras. Hasna yang baru akan bertanya siapa mereka terhenti kala Laras dengan semangat memperkenalkan mereka berdua. Sang lelaki bernama Galih dan sang wanita paruh baya bernama Yuni. Ternyata mereka adalah sepasang ibu dan anak yang memberi informasi pada Hasna bahwa Laras dirawat di rumah sakit. Sang ibu merupakan sahabat karib Laras yang tak pernah Hasna kenal. Sebab selama ia hidup bersama Laras dan Fikri tak pernah sekalipun ia melihat wanita ini.
Dalam diam Hasna memperhatikan interaksi keempat orang tersebut. Diam-diam ia bersyukur bahwa Laras dikelilingi orang-orang yang sayang dengannya. Diam-diam pula terbersit penyesalan kala mengingat bahwa ia semakin jarang menemani Laras.
=====]EUNOIA[=====
Ketika malam menyapa, entah apa yang terpikirkan oleh Laras, tiba-tiba setelah melihat Hasna menunaikan sholat magrib ia membahas tentang pernikahan. Hal yang sangat dihindari Hasna. Ya, Hasna benci pernikahan. Ia benci bila ia menikah, akhir pernikahannya akan sama seperti orangtuanya. Perceraian.
Walaupun tak dipungkiri bahwa ia menikmati kisah romansa. Ia pernah berpacaran dengan beberapa pria. Namun tak pernah benar-benar memutuskan untuk menikah.
"Nduk, piye? Kamu sampai kapan nggak mau menikah?"
"Bukan nggak mau budhe, aku masih mau fokus sama kerjaan." Ucap Hasna masih dengan alasan yang sama saat ditanya perihal pernikahan.
"Kerjaanmu nggak bakal dibawa mati Na. Jadi kamu mau menikah?"
"Budhe kenapa tiba-tiba nanya kaya gini sih?" Tanya Hasna yang mulai tak nyaman.
"Budhe mau lihat kamu menikah, bahagia, dan nggak terbayang-bayang sama masa lalu orangtuamu." Ucap Laras dengan tulus.
"Aku sudah bahagia dengan budhe, pakdhe, dan pekerjaanku. Nggak ada yang bisa menandingi itu budhe. Udahlah budhe, nggak usah dibahas. Aku laper, mau cari makan dulu ya Budhe. Assalamualaikum." Ujarnya sembari berlari kecil menuju pintu.
Hasna tak benar-benar ingin mencari makan, ia hanya ingin menghindar dari pertanyaan Laras perihal pernikahan. Dan disinilah sekarang Hasna berada, duduk sendirian di taman rumah sakit sambil melamun hingga tak sadar ada orang yang duduk di sampingnya.
Galih, duduk di sampingnya sambil mengulurkan jaket pada Hasna.
"Pakai, saya nggak mau kalau harus menggendong kamu yang pingsan karena kedinginan di tengah malam."
"Makasih." Ucap Hasna mengambil jaket yang diulurkan sambil mencibir kenyinyiran Galih.
Sembari memakai jaket yang diberikan, Hasna ingat bahwa ia belum mengucapkan terima kasih pada Galih yang sudah menolong Laras ketika masuk rumah sakit.
"Hm, Galih, makasih sudah menolong Budhe Laras. Saya berhutang sama kamu."
"Sesama muslim memang harus saling membantu jadi kamu nggak berhutang apapun sama saya."
"Tapi saya merasa berhutang dengan kamu. Bagaimana jika saya traktir makan malam? Anggap saja ucapan terima kasih dari saya. Tolong jangan ditolak, saya memaksa bukan meminta." kata Hasna dengan nada peringatan.
=====]EUNOIA[=====
Hasna kira setelah Laras kembali sehat ia tidak lagi mendengar pertanyaan perihal pernikahan. Memang bukan Laras yang membahas namun Fikri. Hasna bingung mengapa dua orang yang sudah dianggapnya sebagai orangtua ini terus-menerus membahas masalah pernikahan.
"Pakdhe sama budhe cuma ingin melihat kamu menikah. Kami ingin kamu bisa bahagia tanpa ada bayang-bayang masa lalu orangtuamu," Kata Fikri penuh kelembutan.
"Apa menurut pakdhe aku belum bahagia?"
"Kamu bahagia, tapi pernikahan akan membuat kamu lebih bahagia. Lagipula menikah itu ibadah."
"Aku belum siap untuk menikah dan aku belum punya calonnya."
"Masalah calon, insya Allah pakdhe sudah memilihkan satu pemuda yang baik akhlaknya untuk kamu. Dan masalah kesiapanmu ingatlah firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 32. Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
Hasna dihantui kebimbangan, ia tidak ingin menghancurkan harapan orang yang sangat disayang dan dihormatinya. Ia tak ingin menjadi alasan kekecewaan Laras dan Fikri. Jika memang dengan menikah bisa membuat mereka bahagia maka Hasna akan melakukannya. Walaupun entah pernikahan macam apa yang akan dijalaninya nanti. Hasna akan bertahan demi kebahagiaan dua orang itu.
"Oke, aku mau menikah dengan pilihan pakdhe. Semoga aku bahagia seperti keinginan pakdhe dan budhe." Ucap Hasna dengan nada tak yakin.
"Alhamdulillah. Kalau begitu, insya Allah minggu depan dia akan kemari untuk berkenalan dengan kamu."
"Baik pakdhe. Sudah malam, aku permisi tidur. Assalamualaikum." Ucap Hasna dengan cepat sambil berlari menuju kamarnya.
=====]EUNOIA[=====
Hai, ini cerita pertamaku. Maaf kalau aneh. Aku masih dalam tahap belajar menulis juga. Tolong diingatkan ya kalau ada typo. Makasih❤
YOU ARE READING
Eunoia
General FictionHasna selalu yakin bahwa ia tidak akan pernah menikah. Dia benci dengan konsep pernikahan. Sekalipun Hasna selalu ditinggal menikah oleh mantan-mantannya ia tetap percaya bahwa sampai kapanpun dia tidak akan menikah. Namun, bagaimana jika akhirnya i...
