Suara petir bergemuruh saling bersahutan ditengah derasnya air hujan yang turun membasahi bumi saat langit malam yang semakin menggelap namun ada sepasang manusia yang sedang terlibat percekcokan tanpa mempedulikan keadaan diluar.
Plakkk...
Plakk...
Plakk...
Suara tamparan keras menggema disebuah ruangan yang minim akan pencahayaan, diselingi dengan isak tangis yang kian terdengar menyayat hati.
"Cukup mas, saya sudah tidak kuat lagi hidup sama kamu kalau caranya begini," ujar seorang perempuan yang tegah menangis tersedu-sedu, mereka sering sekali bertengkar. Calie Ayunindya membawa kedua putri kembarnya yang lima hari lalu baru saja lahir pergi jauh dari kota yang membuat hidupnya jadi berantakan dan pergi menuju panti asuhan di kota Jakarta.
Tidak butuh waktu lama akhirnya ia sampai di tempat yang dituju.
"Nak, maafkan ibu. Ibu harus meninggalkan kalian ditempat ini dengan caranya yang begini, semoga kalian bisa hidup bahagia tanpa adanya Ibu dan ayah di sisi kalian." Calie pun meninggalkan kedua putrinya yang menangis dan hanya meninggalkan secarik surat dan kalung bergambar hati terpotong.
Penghuni panti yang tengah asyik bercengkerama pun akhirnya keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Ya Allah, siapa yang tega membuang bayi secantik ini," ujar Ibu panti yang bernama Dewi dan melihat sekeliling tidak ada seorang pun diluar. Mereka pun membawa bayi tersebut ke masuk ke dalam rumah.
Ketika hendak menutup pintu ada seorang wanita muda yang berjalan ke arah Ibu panti, "Dewi boleh saya bicara sebentar." Ibu panti pun langsung memberikan anak kembar di gendongan nya kepada asisten panti untuk diantarkan ke kamar, sedangkan Ibu panti mengajak wanita muda tersebut untuk mengikutinya ke ruangannya.
"Silakan duduk El." Ibu panti mempersilakan wanita muda yang dipanggilnya El untuk duduk dibangku yang sudah disediakan dalam ruangannya.
"Langsung saja ke intinya, saya ingin mengadopsi anak kembar yang baru saja ditemukan di depan panti tadi."
"Apa kamu yakin El?"
"Saya sangat yakin Wi, saya janji akan merawat mereka dengan sebaik mungkin dan penuh perhatian juga kasih sayang, saya juga janji tidak menyakiti mereka sedikit pun," ujar El dengan wajah yang sangat memohon.
Tanpa berpikir panjang ia pun memperbolehkan, lalu raut wajah bahagia terpancar dari seorang perempuan yang belum juga di karuniai seorang anak.
Tok... Tok... Tok...
Seorang pria umur 30 masuk ke dalam ruangan Ibu panti yang langsung disambut sapaan ramah oleh Ibu panti dan tak lupa dipersilahkan untuk duduk.
"Yah, Bunda sudah membicarakan soal rencana kita ingin mengadopsi anak dengan Dewi. Dewi setuju dan memberikan kita kesempatan untuk merawat anak kembar yang tadi ditemukan di depan pintu panti. Mereka sangat lucu dan cantik Yah, Bunda jadi tidak sabar ingin membawanya ke rumah dan merawatnya dengan penuh kasih sayang." El menjelaskan kepada suaminya yang baru datang dengan penuh antusias dan raut bahagia.
Sang suami pun menggenggam erat tangan El untuk menunjukkan rasa bahagia nya sembari mengulas senyum tulus.
"Bun, alhamdulillah ya akhirnya kita di izinkan Allah memiliki anak dua sekaligus kembar walau hanya mengadopsi."
°°°
Ikuti terus ya jalan ceritanya, bantu cerita ini dengan cara vote dan komen sebanyak mungkin. Kritik dan saran kami terima dengan senang hati^^
Tangerang, 13 Juni 2020
YOU ARE READING
EMBUN [On Going]
Teen Fiction"Kalau lo embun, gue pagi hari." "Maksud lo apa?" "Maksud gue kita sepasang, kan embun biasanya ada pas pagi hari." "Apasih lo gak jelas." Buahahahahahaha Begitulah percakapan absurd yang setiap hari terdengar dari dua pasang anak manusia yang sanga...
![EMBUN [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/228767990-64-k780272.jpg)