Prolog

235 122 90
                                        

Kesal. Satu kata yang mungkin bisa mendeskripsikan keadaan hati seorang gadis yang telah diseret paksa oleh kedua temannya menuju salah satu mall di pusat kota Jakarta siang ini. Bayangkan saja, saat ia tengah asik mendengarkan lagu favoritnya, tiba tiba dua manusia yang menjadi kesayangannya datang dan menghancurkan semuanya.

Berteriak tak jelas, menyuruhnya segera mandi dan memakai pakaian yang mereka siapkan, lalu mengambil alih kemudi mobil. Dan disinilah sekarang. Berjalan keliling mall hampir satu jam lamanya sudah Disha lakukan.

Masuk store satu ke store yang lain. Tidak ada yg cocok lalu berkeliling lagi. Dan sekarang perut nya sudah meronta ronta minta diisi.

"Kalian capek nggak sih?, gue capek mau makan," gerutu Disha menatap kedua temannya jengah. Sudah sendiri tadi dirinya meminta untuk istirahat dan kedua nya kekeh tidak mau.

"Nanti elah Sha, 10 menit lagi kita makan okey," sahut Keisha dengan mata yang berkeliaran melirik sana sini seolah ada hal yang lebih menarik untuk diperhatikan.

Lelah, Disha memilih berputar arah. Meninggalkan kedua temannya, juga mengabaikan beberapa kali teriakan Dira di belakangnya. Ia benar benar lapar sekarang.

Sekitar 5 menit berjalan, Disha memutuskan masuk sebuah restoran yang menyediakan beberapa makanan favorit nya. Masuk, lalu duduk di kursi kosong yang sudah dipilihnya, setelahnya memesan dan menunggu hingga makanan itu datang.

10 menit menunggu menu makan siang Disha sudah ada di hadapannya. Se-porsi double steak kesukaan nya dengan segelas milkshake sudah tersaji dengan rapi.

Tak mau berlama ia segera memakan hingga tandas. Melupakan sejenak kedua temannya yang entah sudah berada di sudut mall sebelah mana saat ini.

30 menit berlalu. Sejak makanan nya sudah habis Disha masih enggan untuk beranjak. Ia masih kesal sekaligus tenang dengan suasana restoran yang lengang. Hanya ada beberapa orang tanpa ada keributan.

Ting

Disha menoleh. Menatap handphone miliknya yang tergeletak di atas meja. Kemudian meraihnya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan kali ini.

Dan feeling nya mengatakan kedua sahabatnya yang setengah jam lebih ia tinggalkan.

Keisha
dimana lo woy?!.

Me
Restoran. Makan dulu laper gue

Keisha
Lama!. Gue tunggu di lantai 5. Kita nonton!.

Me
Oke.

Pesan berakhir. Ia segera membayar lalu pergi menuju lantai 5 tempat kedua temannya berada. Karena malas berjalan menaiki eskalator, ia memilih menggunakan lift. Untuk hemat waktu katanya.

Memasuki lift bersamaan dengan seorang laki laki di sampingnya. Hanya berdua. Dan lift mulai bergerak setelah Disha menekan angka 5 pada tombol. Lalu berhenti sejenak di lantai dua, segerombolan orang tiba tiba masuk. Membuatnya sedikit terhimpit mundur pada sudut dalam lift. Dan ya, sekarang Disha benar benar terhimpit.

Di pojokan dinding dan.. tunggu. Sejak kapan laki laki yang masuk bersamaan dengannya sudah ada di depan badannya?. Mengukungnya seolah memberinya perlindungan agar tidak mati konyol karena terjepit.

Disha mendongak. Memastikan penglihatannya benar, karena memang tinggi nya hanya sebatas dada laki laki itu. Dan..

Gotcha!!.

Mata Disha beradu. Mata coklatnya menatap mata hitam kopi tajam milih manusia di hadapannya. Cukup singkat, karena lift sudah berdenting menunjukkan bahwa mereka sampai lantai 5.

Segerombolan orang mulai keluar. Tapi Disha belum, tubuhnya masih berada dalam kukungan laki laki itu.

"Udah tau kecil, masih aja nekat,"

»»»»»»»»»»»»

Makasih, udah baca dan ikutin terus ceritanya. Maaf kalau gaje apa gimana.

14 Juni 2020

Role destroyer [ON GOING]Stories to obsess over. Discover now