Proloog

471 221 26
                                        

Surat terakhir...

Aku ingin menuliskan kisah ini dengan hati. Berharap setiap kata yang tertulis dapat menggetarkan dan menuai haru. Sesuai niat awal,

Aku mulai memejamkan mata, menggerakkan jemariku untuk melukis aksara. Mengulang kembali apa yang pernah kita lalui. Bertahun-tahun lalu saat firasatku tentangmu kuat, seperti cinta yang menyatu dalam kurun waktu lama, sekaligus dengan perasaan mati rasa yang terpenjara.

Kristal merah berkilat di mataku saat kulihat dirimu ditakdirkan sebagai aksara yang tertuang dalam kertas krimku.

Aku memulai kembali.

Dalam hitungan detik, suaramu memudar. Aku kesulitan untuk menerka. Sungguh, wujudmu hanya bayangan yang tak lagi mungkin kupeluk seharian.

Aku terpaku beberapa saat, saat desal angin meniupkan beberapa helai rambutku yang telah menutupi sebagian wajah.

Akhirnya, Aku dapat mendengar suara alam yang membisikkan bahwa arlojiku masih berdentang cukup lama untuk rindu yang mendera.

Bagai sebuah ilusi alamiah, bulan melengkung indah. Menggambarkan senyuman yang sudah lama kulupa titik fatalnya.

Besok, Aku berani menjamin bahwa tak akan ada lagi penghayatan dari mentari yang dikekang oleh siang sebab ternyata ada banyak hal yang belum mau kusadari.

Hari ini, sebagaimana yang terjadi, Aku telah berlari mengejar tujuh warna yang dijanjikan dengan mendayung perahu kayu kepada tangan yang terlentang untuk memberi hujan.

Tapi, sampai matahari hampir terbenam, alam tak kuasa menahan tetes rindu yang menggenangiku seharian. Membuat kesepakatan sepihak denganmu yang jauh-jauh hari telah membuat jangkar untuk menjerat cinta.

Dara The Florist ✔️Stories to obsess over. Discover now