We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

•• 01 ••

30 1 0
                                        


Hello men temen readers! Sebelum masuk ke ceritanya aku mau perkenalan dulu ya, biar lebih nyaman saling interaksi satu sama lain, okay?

Jadi perkenalkan nama asli aku Catherine Patricia Aurbrey Gusep panggil aja Cath atau Catherine.
Aku umur 14 tahun (2020), jadi aku masih kelas 8 alias kelas 2 SMP hehe. Muda banget ya?

Sebagai disclaimer aja, cerita yang aku buat ini cerita pertama aku jadi pastilah banyak kekurangan, but tolong maklumin aja ya. Juga cerita ini murni dari imajinasi aku dan sebagai info banyak kejadian dan pengalaman yang aku sendiri pernah alamin disini.

I hope you guys enjoy it!O(≧∇≦)O

-Happy Reading!-


C H A P T E R  1

Senin, 16 Juni
"Ehmm... tes.. tes.. dah nyalakan? Haa selamat pagi anak-anakku yang tercinta. Saya pak Hasan, guru Bimbingan Konseling di SMA Merdeka. Bagi yang namanya disebutkan langsung memisahkan diri dari barisan ke gugusnya masing-masing, kakak-kakak OSIS mohon pandu adik-adiknya biar ga pusing bapa liatnya yah. Tingkyu somach ehehe," ujar pak Hasan sambil tetap menjaga image nya yang berwibawa padahal sebaliknya.

Dimata para peserta MPLS, pak Hasan itu orang yang friendly atau petakilan dan suka SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat sama siapapun. Padahal beliau guru Bimbingan Konseling yang umumnya tegas, selalu serius dan sering dijuluki guru killer. Tidak heran banyak murid yang tetap santuy bila bertemu pak Hasan baik diluar maupun didalam sekolah. Asalkan tidak melanggar aturan semuanya tetap aman pikir mereka.

Seorang gadis tinggi berambut panjang hitam gelam diurai segera pergi ke gugusnya setelah mendengar namanya disebutkan.

"Halo adek cantik, mau abang antar ga?" rayu seorang cowo berbadan jangkung dengan postur bungkuk dengan wajah songong.

"Ga," jawab gadis itu singkat sambil menatap sinis calon kakak kelasnya itu.

"Duh, manis-manis gini ternyata galak ya. Jangan-jangan adek tipe tsundere gitu yha. Wah abang suka tuh sama tipe cewe begituan hihi."

"Dih amit-amit!" balas gadis tersebut sambil bergidik ngeri dan mengabaikan laki-laki itu.

Padahal suasana hatinya sedang tidak baik lantaran sahabat karibnya, Nanda, beda gugus dengannya. Nanda kebagian gugus Sulawesi, alias gugus ketiga. Sedangkan gadis bernama lengkap Ivelyna Joana Patricia itu masuk ke gugus Sumatra, alias gugus keempat atau yang terakhir.

"Nahh, kalau beginikan enak dipandang. Sekarang gugus Kalimantan dan gugus Jawa berkumpul di ruangan 1. Dan untuk gugus Sulawesi dan gugus Sumatra kerumah bapa aja dulu eyaaa, engga dong becanda, ke ruangan 2 maksud saya. Sekarang silahkan BUBAR!" titah pak Hasan renyah dengan menggunakan toa merah putihnya.

Mata Joana pun berbinar. Setidaknya selama masa 'karantina' MPLS ia masih bisa bercengkrama dengan sahabat kecilnya itu.

"Joana!" panggil Nanda sambil berlari menghampiri Joana.
"Bareng yuk!" ajak Nanda sambil menggandeng tangan Joana.

"Kuylah!"

>>>

Suasana Ruangan 2 sangatlah ricuh, sama hal nya Ruangan 1. Kedua ruangan sempit itu tak cukup menampung sekitar 50an lebih anak-anak berbadan bongsor. Mereka duduk saling berhimpit-himpit namun hal itu tidak menyiutkan niat mereka untuk berkenalan satu sama lain.

Story of JoanaStories to obsess over. Discover now