"BACOT!" teriak salah satu siswa di kantin sekolah sambil memukul temannya.
"Lo kalau mau ambil dia ambil aja, gue gak akan pertahanin sampah kaya dia" ucapnya sambil menekankan kata sampah.
"FABIAN! DEAN! IKUT SAYA!" teriak pak Mufti, guru bk terkiller pada masanya.
Iya dia Fabian, siapa lagi kalau bukan dia, cowok pembuat buat onar di sekolahnya. Dengan baju lusuh dan luka lebam Fabian berjalan ke ruang bk.
"Duduk!" ucap pak Mufti.
--
"Lett dari mana aja lo? Tadi ada ribut-ribut tuh di kantin" ucap Abel sambil duduk di bangku. Aletta tidak menghiraukannya, dia masih terpaku dengan ponselnya. Tiba-tiba seorang siswa berdiri di depan pintu.
"Sekretaris ke ruang bk sekarang" ucap siswa tersebut.
Merasa terpanggil, Aletta segera melepas earphone yang terpasang di telinganya dan berjalan ke ruang bk.
"Permisi" kata Aletta sambil mengetuk pintu dan membukanya.
"Fa-fabian" batinnya sambil tersenyum smirk.
"Aletta tolong bag-"
"Iya b-bu?" tanya Aletta. Bu Gina tersenyum melihat Aletta.
"Tolong bagikan lembar kerja ini ke masing-masing siswa di kelas kamu ya. Ibu ada kegiatan di luar sekolah jadi tidak bisa mengajar"
"Baik bu akan saya sampaikan"
"Makasih ya" Aletta mengangguk, lalu berjalan keluar.
Aletta bergegas kembali ke kelas sambil memasang earphone. Di tengah perjalanan seseorang dari arah belakang menarik earphone yang terpasang di telinga Aletta.
"Apaan sih?!"
"Kalem kalem gak usah ngegas"
"Ya abis nya lo-" perkataan Aletta terputus saat Fabian menarik salah satu tangannya.
"Lepas! Lepasin gue Fabian!" tegas Aletta sambil berusaha melepaskan tangannya.
Mereka berhenti di taman belakang sekolah. Sambil melepas paksa, Aletta menggerutu kesal.
"Sorry" ucap Fabian.
"Kenapa? Udah ah gue mau bagiin lembar kerja keburu jam pelajaran bu Gina abis" Aletta bergegas pergi, tetapi Fabian menyusulnya.
"Gue mau ngomong"
"Serius" kata Fabian lagi.
"Apa? Mau bujuk gue buat pergi ke Sydney?"
Fabian terpaku. Orang tua Aletta dan Fabian sudah sangat dekat, bahkan rumah mereka hanya berjarak beberapa langkah, tidak heran jika mereka sering bertemu, terlebih mereka juga satu sekolah.
"Ta gue gak maksa lo. Terserah lo, mau ikut ke Sydney atau mau tetep tinggal tapi dengan syarat lo gak sendiri"
"Bian, gue gamau pindah sekolah lagi gara-gara kerjaan bokap gue. Tapi kalau gue tetep tinggal, gue-" ucap Aletta sambil meneteskan air mata.
"Udah ya jangan nangis. Ta, gue bakal jaga lo, gue bakal selalu ada buat lo. Selama lo tetep tinggal di sini" ucap Fabian sambil menyeka air mata Aletta.
YOU ARE READING
EMPTY SPACE
Teen Fictionthings can change Sebuah cerita yang belum dibaca oleh ribuan orang, makasih udah mampir dan ninggalin jejak readers #1 March 29th. 2020 🌿
