ii.Aloe Vera

64 0 0
                                        

lapak ini hanya short story seputar kejadian yang pernah di alami di kehidupan real

ceritanya B aja, jadi, kalo mau yang luar biasa di sini ga ada

watak, alur, tokoh, itu diambil dari orang orang dekat termasuk sifat real yang nulis haha

jadi, ini adalah kisah lain di MHS, bisa dibilang sequel dari APRILOVE


°°°°

Cewek mungil berkulit kuning langsat, saat ini tengah menghirup angin sore. Ditemani lagu yang sedikit menyayat, sedang melamunkan nasib uang jajannya untuk dua minggu kedepan. Bukannya dihukum, melainkan, ia sedang dalam fase mode liburan awal semester.

Helaan nafas layaknya orang putus asa sedari tadi keluar dari bibir mungilnya. Wajah loyonya itu tampak kelimpungan. Rugi. Itu sebabnya ia tak suka libur.

Oh ya, satu lagi masalahnya. Ia tidak bisa libur lebih dari dua hari. Alasannya? Saat hari pertama sekolah dimulai, sudah dipastikan—malam harinya, kakinya akan pegal. Kenapa? Karena seorang Selena Kayanna Eloovi sangat sukar keluar rumah. Alhasil, rutinitas paginya jadi terjeda. Kaki yang biasanya digunakan setiap pagi berjalan dari parkiran sekolah sampai ke kelas, sekarang, kakinya hanya digunakan untuk berkeliling rumah, itupun bisa dihitung jari. Ya, paling-paling jika bosan ia hanya main ke rumah tetangga sekaligus sepupu samping rumahnya.

Cewek yang biasa di panggil Elen itu memang pemalas. Maka dari itu, sekalinya dua minggu mengurung diri di rumah, saat masuk sekolah di hari pertama, kakinya akan pegal, karna di rumah ia hanya duduk dan rebahan, setidaknya, Elen harus berolah raga agar pergerakan otot kakinya terbiasa.

Belum lagi, orang-orang rumahnya selalu jadi korban kepemalasannya. Mau jajan, Bundanya yang belikan, atau, adik laknatnya yang jadi korban, tentu dengan sogokan yang lumayan, minimal bisa membeli kuota 10gb satu bulan.

Semuanya berawal semenjak ia masuk SMP, tingkat kepemalasannya semakin meningkat saja. Sebenarnya, alasan utama yang mendasari adalah karna Elen anti-sosial.

Drdrrttt.....

Lamunannya buyar saat ada telepon masuk dari Cira, teman pecicilannya.

"Apa?" tanya Elen malas saat sambungan itu terhubung dengan orang yang ada diseberang sana.

"El, besok kita jalan-jalan ke Ragunan mau nggak?" Suara antusias terdengar kentara sekali diujung sana.

Elen tampak berpikir. "Serah," katanya tak minat.

Cira sempat menggerutu di seberang sana. "Yang jelas dong, mau nggak?" tanyanya lagi.

Elen menghela nafas, "ntah."

Cira gemas, sedari tadi Elen selalu bergumam tak jelas. "Terserahlah El, sabodo, yang penting besok gua sama Erra jemput lo jam 9!" Setelah mengatakan itu, Cira mematikan sambungannya setengah kesal.

Seolah tak punya dosa, Elen hanya mengerdikan bahunya tak peduli. Yang memenuhi otaknya saat ini hanyalah uang jajan seorang.

Sedetik setelahnya, Elen menyeringai antusias. Jika besok ia ikut pergi bersama dua teman laknatnya, setidaknya, secuil uang jajannya di kasih sama Bunda tercinta.

Jadi, alasan pertama Elen mau ke Ragunan tak lain dan tak bukan hanya demi uang jajan. Resikonya belakangan. Jika bukan karena itu, ia ogah mau ikut. Yaiyalah, ia tidak terbiasa berjalan lebih dari 50 meter.

Kakinya hanya buat pajangan, sukar digunakan.

Dengan hati yang berbunga-bunga, Elen keluar dari kandangnya yang banyak dipenuhi rak berisi novel-novel remaja. Bahkan, sempaknya saja kurang banyak dari buku khayalan yang sebulan sekali ia beli di Gramedia yang ada di kotanya.

°°°°

E L E N

E L E N

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

biar story ini cepet end, kasih vote sama komen, kasian tokoh-tokohnya, ntar nasibnya sama kek yang nulis

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

biar story ini cepet end, kasih vote sama komen, kasian tokoh-tokohnya, ntar nasibnya sama kek yang nulis

lah kurang baik apalagi coba, authornya aja jomblo, enak banget tokohnya bisa pacaran

aloe veraStories to obsess over. Discover now