1. Usaha

158 33 30
                                        

Pagi sekali dengan penuh semangat Garcia sudah bersiap pergi sekolah. Gadis itu tengah memoleskan liptint pada bibirnya agar tidak terlihat pucat, hari ini rambut panjangnya sengaja ia biarkan tergerai karena seperti yang ia ketahui Aldo sangat menyukai cewek yang rambutnya tergerai panjang.

Seperti kuntilanak, pikir Garcia sesaat. Saat dirinya sibuk memakai kaos kaki dengan mendudukkan diri didepan meja riasnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa adanya ketukan.

"Dek, cepet mand-- WOW!!" pekik laki-laki berumur 21 tahun itu begitu melihat seorang Cia yang pemalas itu sudah bersiap pergi sekolah.

"Apasih," sinis Cia berdiri mengambil tas sekolahnya yang berada diatas ranjang, "minggir! Mending kakak cuci muka dulu sana! Mau nyuruh aku mandi kok sendirinya belum mandi." Omel cewek itu mendorong pelan tubuh kakaknya untuk menyingkir dari jalannya.

"Lo nggak panas kan?" Zidan meletakkan telapak tangannya pada kening adiknya dengan heran, "lo abis mimpi apa?" lanjutnya bertanya masih dengan heran.

Cia menepis tangan Zidan dengan kasar, "Hari ini aku berangkat bareng sama pacar aku!" ujar Cia dengan mata berbinar senang.

"Lo punya pacar?!" pekik Zidan lagi dengan keheranan yang semakin bertambah,"emang ada yang mau sama lo?" cetus Zidan tersenyum mengejek.

Raut wajah Cia yang semula berbinar senang seketika berubah kesal karena ucapan kakaknya, "emangnya kakak apa! sampe sekarang nggak punya pacar." balasnya.

"Udahlah, nanti aku telat! Aku sarapan di sekolah aja. Bye kak!" pamit gadis itu mencium pipi kiri Zidan lalu berlari kecil menuruni tangga rumahnya.

"Jangan lari, nanti jatuh!" peringat Zidan dengan berteriak yang dibalas Cia dengan tawa cekikikannya.

Ia tak berpamitan pada Ayahnya karena pasti Ayahnya sudah lebih dulu berangkat ke kantor. Mama sudah lama meninggalkan keluarganya demi laki-laki lain. Alasannya simple, karena Ayahnya terlalu sibuk bekerja.

Yang Cia herankan, kemana bisa semudah itu mereka berpisah? Saat hubungan bertahun-tahun lamanya harus terpisah hanya karena masalah kecil seperti itu.

Cia mengeluarkan mobilnya dari garasi, sebelum dirinya mengendarai mobil gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

Kak Aldo❤


Kak Al..
(read)

Kak, aku otw

oke.

Hati-hati dijalan ya.

hati-hati.

Susah memang menyukai Aldo, tapi Cia selalu bertahan karena ia terlalu malas mencari cinta yang lain. 3 bulan lamanya mengejar Aldo, hari ini akhirnya cowok itu mau berangkat bersama dengan dirinya. Dengan sedikit paksaan dari Cia pastinya. Cewek itu mengancam Aldo akan mencium cowok itu ditengah lapangan.

Seperti sudah mengenal Cia, Aldo mengiyakan ajakan gadis gila itu dengan terpaksa. Bukannya apa, Aldo sedikit trauma pasca gadis itu menembak dirinya dikantin 2 minggu yang lalu. Cia dimatanya terlalu bar-bar. Makanya, sampai saat ini Aldo kurang menyukai Cia yang tiba-tiba saja ingin masuk dalam kehidupannya.

Jarak rumah Cia dengan Aldo tak begitu jauh, hanya sekitar 20 menit dari rumahnya. Beruntung arah rumahnya dengan Aldo searah dengan sekolah, jadi itu semakin memudahkan Cia untuk berangkat bersama Aldo kapanpun. Itupun jika Aldo mau.

"Hai kak!" Sapa Cia turun dari mobilnya, membuat kerutan bingung pada wajah Aldo yang sudah menunggu didepan rumahnya.

"Kak Aldo yang nyetir," cengir Gadis itu menyerahkan kunci mobilnya.

Aldo mendegus kesal namun tanpa banyak protes cowok itu segera meraih kunci mobil Cia lalu masuk kedalam mobil berwarna merah pekat milik Cia.

Cia tersenyum bangga melihatnya, bahkan gadis itu bertepuk tangan riang.

"Masuk." perintah Aldo menatap Cia datar dari balik kemudinya.

"Masuk kemana? Rumah kak Aldo? hehehe." goda gadis itu tertawa senang, berbanding terbalik dengan ekspresi Aldo yang masih datar.

"Masuk apa gue tinggal." Aldo memberikan opsi sembari menyalakan mesim mobilnya.

"Yang punya mobil aku, masa aku yang ditinggal." keluh gadis itu berlari kecil mengitari mobilnya lalu mendudukkan diri disamping Aldo.

"Kan gue yang nyetir." balas Aldo mulai menjalankan mobil begitu Cia sudah memakai seat belt.

*****

"Kak Aldo," panggil Cia menatap Aldo dengan tatapan kagum.

"hm?" balas cowok itu fokus mencari tempat parkir untuk mobil Cia.

"Nanti pulang bareng?" tawar gadis itu penuh harap.

"Nggak bisa," Aldo mematikan mesin mobil, "gue mau main sama temen." lanjut cowok itu menyerahkan kunci mobil pada gadis disampingnya.

"Aku boleh ikut?" tanya gadis itu dengan tatapan imut memelas, "please.." mohon gadis itu.

Aldo menghela nafasnya dengan kasar, "emang lo siapa? karena gue setuju buat berangkat sekolah bareng, bukan berarti kita bisa sedekat itu!" lontar Aldo menusuk, raut wajah Cia berubah sedih. Ucapan Aldo memang selalu semenyakitkan ini. Tak apa, Cia hanya sedih, nanti juga ucapan Aldo ia lupakan.

"Satu lagi, jangan ganggu gue hari ini. Gue udah nurutin lo buat berangkat bareng, jadi gantian lo yang nurut sama gue." lanjut  Aldo melepas seat belt nya lalu meninggalkan Cia yang masih terdiam didalam mobil.

"Untung gue sayang, huft." gumam gadis itu mengelus dadanya. Cia pelan-pelan mengatur emosinya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Tak apa, kan sudah biasa ucapan Aldo seperti dajjal. Jangan sakit hati, kan memang itu udah jadi makanan sehari-hari Cia kalo sama Aldo.




tbc❤


Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Oct 05, 2020 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Eveything About YouHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora