Bab Tiga Puluh Tiga: Pasanganmu adalah Pakaianmu

2K 142 14
                                    

Jika hati diibaratkan sebagai udara yang dibutuhkan oleh semua manusia, Maira lebih suka menganggap hati adalah Ali. Di mana ia bisa tinggal sesukanya, semaunya, dan selamanya. Dan ia pun lebih suka jika menganggap Ali adalah rumah, meski berulang kali tampak reyot dan lapuk di mata orang lain, tetapi rumah reyot itu adalah dunia yang tak akan tumbang sekali pun badai menerpanya.

Rasa cinta yang muncul secara perlahan karena ke-halal-an dalam pernikahan itu kemudian menjadi cinta yang menggebu, di mana ia hanya perlu menatap pada satu titik dan tidak menatap titik lainnya.

Memang itu yang ingin ia lakukan, berpusat pada Ali seolah ia akan tak akan hidup dengan baik jika kehilangan pria bermata sendu yang kini tengah berada di sampingnya, menatap ke depan dan sesekali menatapnya. Kesenduan yang seolah menggambarkan bahwa pria itu sedang kesepian adalah sebuah hal yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta, setiap saatnya, semakin dalam jatuhnya.

“Kenapa lihat aku sampai segitunya, Ra?”

Ali terkekeh dan berfokus menatap kedua manik hazel Maira yang masih saja menatapnya tanpa berkedip, sementara ia sesekali melirik supir yang tengah mengemudikan mobilnya dari rumah Maira menuju toko pusat oleh-oleh di Malang, sebelum kembali untuk menuju ABD Shaleh. Ia tersenyum kecil, melihat Maira berkedip sekali dan cepat. Meski sebenarnya ia benar-benar menahan diri untuk tidak tersenyum selebar yang ia mampu dan menahan rona di pipinya agar wajahnya tak memerah karena tersipu.

“Ra?”

“Hm?”

“Ada yang pengin kamu katakan?”

Maira menggeleng sekali, kemudian mengalihkan pandangan sembari menjauhkan rangkulan erat tangannya di lengan Ali. Ia mengembuskan napasnya dan disusul dengan menggeser duduknya hingga ujung kursi penumpang, mendekat ke jendela di sisi yang jauh dari Ali.

“Ra?” Ali mengerutkan kening.

Maira menatapnya dengan mata berkaca yang tak dapat ia artikan maknanya sesuai dengan keinginannya, karena perempuan bercadar itu selalu pandai menyembunyikan segala perasaan terlukanya. Luka? Karena Ali tak menemukan sedikit pun cercah sebuah binar dari sorot mata yang kini telah tampak sayu itu. Hingga beberapa bulir keringat sebesar biji jagung yang muncul di kening istrinya, membuat ia mengalihkan pandangan. Ia menautkan kedua pangkal alisnya, kemudian menyadari bahwa Maira merintih kesakitan.

“Ra?!”

Ali menggeser duduknya hingga dekat Maira dan wajahnya menegang hingga orang yang tak dapat melihat sekali pun dapat merasakan ketegangan di sekitar tubuh pria berjenggot tipis itu. Tidak pelik jika Ali dikatakan sangat ketakutan mendengar Maira merintih kian kuat, sedangkan perempuan itu juga kini telanjur menitikkan air mata tanpa berucap sepatah kata pun.

“Ra? Kenapa? Apa yang sakit? Hey, Ra, Maira?”

“Perut.”

Maira melirih yang membuat Ali sontak menengok perut rata Maira yang sudah sedikit menonjolkan kehamilan, meski tidak terlalu kentara karena gamis longgarnya. Dan tangan mungil istrinya tengah memeganginya, sembari satu tangannya mencengkeram pinggiran kursi penumpang.

“Perut … kenapa perutnya? Maira?”

Ali panik yang sejadi-jadinya, bahkan saat perusahaan papanya di ambang kebangkrutan sebelum mamanya mengambil alih, dirinya tak sebimbang saat ini. Ia mendadak menjadi linglung, kehilangan arah, dan tak mengerti apa yang harus ia lakukan, bahkan bernapas dengan benar sekalipun.

“Ke rumah sakit! Cepat!”

Bahkan ia tak sadar jika suaranya lebih keras dari yang ia kira kepada supirnya yang beberapa kali berusaha untuk bertanya apa yang harus dilakukan. Mencoba terus menerus menenangkan Maira, meski ia rasa itu bukanlah hal yang berguna, ia hanya ingin mencoba melakukan apa pun yang sekiranya bisa membantu meredakan rasa sakit Maira.

Buku #2 | My Persistent Niqobi [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang