Kagak Kawin Dulu

583 6 1
                                        

Mulanya dari sini, dari bukaan mulut pertama sebelum A. Dari hitungan pertama sebelum satu. Dari tadi aku masih mengingat-ingat kejadian dua tahun lalu yang menimpa Dara saat hampir menikah dengan Giro-atau Shiro si anjing Sinchan, ya? Entahlah.

Dimulai dari bukaan mulut sebelum A. Itu sama saja seperti ingin berkata tapi baru sampai di kepala. Okay, berarti ini semua dimulai dari Jengki. Tidak tahu pekerjaannya apa, aku tidak mengenalnya, yang jelas uangnya tidak pernah habis walau harus setiap hari nongkrong di bar yang berbeda. Dari ceritanya Dara, Jengki memang misterius, ahli dalam menutupi apa saja yang ia mau tutupi. Seperti tato sangkar burung di belakang tengkuknya yang selalu tertutup jaket kulit dengan kerah yang tidak pernah dilipat ke bawah. Dara berkali-kali menegaskan dengan bibir merah merona setiap ia bertemu denganku, "Jangan kasih tahu siapa-siapa dia punya tato itu." yang selalu aku patuhi. Lagipula, siapa juga yang mau peduli dengan tato tersembunyi seseorang? Aku juga tidak kenal Jengki kalau tidak dari cerita-cerita Dara. Siapa juga yang mau aku beritahu tentang tattoo Jengki? Aku 'kan bukan Dara yang kalau cerita suka ceplas-ceplos. Aku ahli dalam menutupi rahasia-rahasia orang. Sama ahlinya dengan menutup helaian rambutku di balik hijab, tak ku biarkan satu helai pun keluar. Sampai sini aku jadi menyadari ternyata aku dan Jengki ada satu kemiripan, kami sama-sama menjaga apa yang seharusnya kami jaga dan aku yakin pasti Jengki punya alasan tersendiri tentang menutup tatonya dengan kerah jaket yang dinaikkan.

Aku tidak pernah tahu betul di mana Dara bertemu pertama kali dengan Jengki. Sekali Dara pernah bilang, katanya di Masjid. Tapi matanya ke arah kanan saat bercerita. Ciri-ciri orang bohong. Tapi tak masalah, aku benar-benar tidak tertarik dengan Jengki. Jika begitu, mari dipersingkat, Jengki adalah mantan Dara yang asal usulnya tidak begitu jelas. Dia penyebab mengapa Dara gagal nikah dengan Giro, atau Hiro, atau Shiro. Entahlah.

Jengki penyebab Dara gagal nikah dengan Giro-aku pilih namanya Giro saja. Sungguh, aku lupa. Maaf, ya, Giro?

Aku ulang, Jengki penyebab Dara gagal nikah dengan Giro. Setidaknya itu yang orang-orang sampai ke penghulu tahu. Tapi jika selesai sampai di sini, ceritanya jadi terlalu singkat. Mari kita bedah cerita ini berdasarkan pandangan aku, Fatima, yang menemani Dara selama 17 jam suntuk di dalam kamar.

-

Berawal dari hitungan pertama sebelum satu, nol. Dara, temanku, lebih tua satu tahun, besok menikah dan malam ini ingin berpesta untuk melepas masa lajangnya. Aku orang pertama dan satu-satunya yang diundang ke pestanya hanya untuk kedok. Ku jemput Dara pukul 17 lebih 42 menit dan singgah sebentar untuk menumpang sholat maghrib. Dara dengan gusar berlalu-lalang di sekitarku dan menjawab semua pertanyaan keluarganya yang terlontar untukku. Aku yang ditanya, dia yang jawab.

Saat sholat pun, Dara duduk bersila di sebelahku. Setiap aku sujud, Dara berbisik.

"Fat, buruan, dong! Tuhan tahu apa yang mau kamu ucapkan, nggak perlu dilama-lamain."

Benar juga. Mungkin itu jadi alasan mengapa dia tidak sholat, karena dia tahu, Tuhan juga tahu, saat menciptakan Dara, Dara diciptakan bukan untuk jadi orang yang taat agama. Ketika ia sholat, apakah itu malah keluar dari takdir yang Tuhan berikan? Mungkin selama ini Dara yang salah menilai Tuhan. Tapi kata Pak Syamsul guru Agama di SMP, Tuhan bukan objek untuk dinilai. Astaga, Dara! Imanku rusak karena bisikan setanmu.

Aku percepat sholat sampai akhirnya mukena terlipat rapi di atas sajadah. Jasadku sudah ada di kursi penumpang, Dara mengendarai mobilku tanpa izin. Tak apa, mungkin dia ingin mempersingkat waktu dan dia jelas tahu aku payah dalam membaca maps sekalipun maps itu dapat mengeluarkan suara instruksi belok kanan, kiri, mundur ke depan, maju ke belakang.

Sampailah kami di salah satu pusat perbelanjaan.

"Fatimaku yang bijaksana, treat yourself right. Don't go away from this mall, don't you dare to leave me 'coz i got your keys." Dara memberikan sejumlah uang berwarna merah kepadaku saat mobilku berhenti di salah satu lapak parkir berbayar cashless. Mesin mobil sudah mati, kuncinya pun sudah ada di tangan Dara yang halus, mulus, lentik, tanpa cacat. Berani taruhan, telapak itu belum pernah menyentuh tiang listrik atau pagar rumah tetangga ketika sedang iseng berjalan kaki pulang dari warung kelontong. Tangan mulus itu bergerak ke belakang punggungku untuk membuka pintu penumpang. Aku menahannya.

YANG FATIMA DENGARWhere stories live. Discover now